Gracia Billy Mambrasar Dari Tanah Papua Melangkah ke Istana

"Saya melihat kompleksitas pendidikan dan juga akses pendidikan masih menjadi kendala di Papua, oleh karenanya kami fokus dalam pembangunan SDM. Hal ini sesuai juga dengan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun SDM,"

Gracia Billy Mambrasar Dari Tanah Papua Melangkah ke Istana

[avatar_upload /]


Teleperson – Adalah Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar atau atau akrab disapa Billy Mambrasar seorang anak dari daerah timur Indonesia tepatnya tanah Putra Papua, yang ditunjuk sebagai salah satu staf khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari kalangan milenial pada Kamis, 21 November 2019.

Berikut lima fakta menarik dari Gracia Billy Mambrasar dan secarik kisah tentang dirinya:

1. Sedang menyelesaikan program master

Laki-laki kelahiran Yapen, Papua, 31 tahun lalu ini merupakan lulusan Teknik Pertambangan dan Perminyakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus, ia sempat mengambil pendidikan pascasarjana di The Australian National University (ANU). Saat ini, Billy sedang menyelesaikan program Master of Science di Said Business School, Oxford University, Inggris.

2. Raih beasiswa doktor

Meski saat ini masih berjuang menyelesaikan program masternya di Oxford University, Inggris, Billy rupanya telah mempersiapkan program doktor yang akan segera ia tempuh. Billy diketahui akan melanjutkan pendidikan doktoralnya, melalui Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

3. Anak penjual kue

Dilansir dari Antara, Billy terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya merupakan seorang guru, sementara ibunya merupakan seorang penjual kue dan makanan di pasar. Untuk membantu keluarganya, Billy membawa kue-kue buatan ibunya untuk di jual di sekolahnya.

4. Berjualan sambil kuliah

Menempuh pendidikan tinggi merupakan impian Billy sejak kecil. Saat kuliah, berbagai pekerjaan pun pernah dijalani oleh Billy demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia pernah menjadi pengamen, hingga menyanyi di kafe dan acara pernikahan. Selain itu, Billy juga berjualan kue sambil kuliah.

5. Mendirikan Kitong Bisa

Setelah lulus kuliah S1, Billy bekerja di salah satu perusahaan minyak dan gas asal Inggris. Dari gaji yang ia terima, Billy pun kemudian memutuskan untuk mendirikan Kitong Bisa atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti Kita Bisa. Melalui Kitong Bisa, Billy memberikan akses pendidikan untuk anak-anak kurang mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat.

Billy bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Tetapi, kehidupannya yang jauh dari berkecukupan.

Ayahnya yang hanya seorang guru honorer dan ibunya berjualan kue untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Rumahnya juga belum diterangi listrik, sehingga Billy harus belajar menggunakan pelita dan lampu minyak.

“Subuh ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan, kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual,” ujar Billy.

Sebagai penjual kue, pria berusia 31 tahun itu, memiliki semangat pantang menyerah dalam menjual dagangannya. Pasalnya, jika kue tersebut tidak habis maka tidak bisa dijual kembali keesokan harinya. Sisa kue jualan itu, lalu dimakan bersama saudaranya ketimbang basi.

Saat ini, ia dalam proses penyelesaian tesis studi gelar Magister (MSc) dalam bidang bisnis di Universitas Oxford, Inggris. Gelar tersebut merupakan gelar keduanya, setelah menyelesaikan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015.

Sebelum ditunjuk menjadi staf khusus, Billy rencananya akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat dalam bidang pembangunan manusia.

Gelar sarjana diraihnya dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk biaya kuliah didapat dari beasiswa afirmasi dan otonomi khusus (Otsus) dari pemerintah daerah.

Tidak Mampu 

Billy menceritakan tekadnya dulu yang ingin berkuliah di ITB sempat ditentang oleh kedua orang tuanya. Pasalnya, kehidupan keluarganya yang jauh dari kata berkecukupan dan dianggap tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Berikut Nukilan Kisahnya

Meski dia menyadari keterbatasan biaya, dengan semangat yang tinggi akhirnya Billy dapat mengatasi kendala tersebut.

“Karena saya penjual kue, saya terbiasa tidak mudah menyerah dan membulatkan tekad kuliah ke Jawa. Saya ingin kuliah di ITB, kampus teknik terbaik. Melihat tekad saya, orang tua kemudian berkeliling minta bantuan, mengetuk pintu dinas satu ke dinas lainnya untuk minta bantuan dana,” kata Billy beberapa waktu lalu, seperti diberitakan Antara.

Berstatus mahasiswa, dia masih saja berjualan kue, mengamen, menyanyi di kafe dan acara pernikahan untuk mendapatkan tambahan uang makan dan biaya hidup.

Setelah memperoleh gelar sarjana, Billy mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak dan gas asal Inggris. Ia mendapatkan gaji fantastis di perusahaan itu.

Namun hatinya miris, melihat keadaan di sekelilingnya masih banyak anak-anak Papua yang kurang beruntung. Setahun bekerja, kemudian dia mengundurkan diri agar bisa fokus mendirikan Yayasan Kitong Bisa.

Yayasan ini fokus mengurusi pendidikan anak-anak di Papua dan sudah didirikannya pada 2009 silam. Kitong Bisa sendiri mempunyai arti “kita bisa”, dengan kata lain semua anak-anak Papua bisa meraih pendidikan meski berasal dari keluarga miskin.

Saat ini, Kitong Bisa melalui usaha sosialnya sudah mengoperasikan sembilan pusat belajar, dengan 158 relawan dan 1.100 anak. Sekitar 20 di antara anak didiknya itu menempuh ilmu di sejumlah perguruan tinggi ternama dunia. Bahkan, ada yang menjadi pengusaha dan juga bekerja di sejumlah perusahaan.

Melalui Kitong Bisa, Billy memberikan akses pendidikan untuk anak-anak tidak mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat. Sejumlah pelatihan keterampilan juga diselenggarakan.

“Saya melihat kompleksitas pendidikan dan juga akses pendidikan masih menjadi kendala di Papua, oleh karenanya kami fokus dalam pembangunan SDM. Hal ini sesuai juga dengan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun SDM,” ujarnya.

Billy juga pernah diundang untuk magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di State Department Amerika Serikat. Dalam kunjungan ke Gedung Putih, ia juga bertemu dengan Presiden Barack Obama.

Pada 2017, ia ditunjuk sebagai utusan Indonesia yang berbicara tentang isu pendidikan di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.

Saat ini, ia juga menjabat sebagai duta muda pembangunan berkelanjutan atau SDG’s asal Indonesia.

Selain Billy, enam staf khusus lainnya dari kalangan milenial yakni Adamas Belva Syah Devara, Putri Indahsari Tanjung, Andi Taufan Garuda Putra Andi, Ayu Kartika Dewi, Angkie Yudistia, dan Aminuddin Maruf Aminuddin.

Saat dia ditunjuk Jokowi jadi staf khusus presiden, Billy tak pernah menduga akan mengemban posisi tersebut.

Billy mengaku dipanggil kembali ke Tanah Air dua hari lalu, saat berada di London, Inggris. Padahal, ia baru saja mendarat di London untuk mengisi sejumlah acara di negara itu.

“Saya sempat mengira bahwa itu prank, ternyata benar. Negara memanggilku untuk kembali,” tutur Billy dalam akun Instagramnya.

Dengan posisinya sebagai staf khusus presiden, Billy berkomitmen untuk membangun Indonesia dari Papua, bukan membangun Papua dari Indonesia.

“Kami berkomitmen membantu pak Presiden dan pemerintah untuk tidak bekerja layaknya rutinitas. Kami mencoba memunculkan nilai kekinian dan teknologi yang berbeda untuk membuat sistem pemerintahan yang lebih efektif dan efisien,” tegasnya. (Red)


Photo Credit : Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar. FILE/DOK/IST. PHOTO

Tanggapi Artikel