Kesederhanaan Hidup Sosok Pilot Jet F-16

Kesederhanaan Hidup Sosok Pilot Jet F-16

"Mantan Kepala Staf TNI AU ini adalah salah satu figur pilot yang mungkin sedikit dimiliki TNI AU. Marsekal Agus Supriatna adalah pilot multi talenta dan multi pesawat. Ia menerbangkan pesawat mulai dari jenis AV Bronco, A-4 Skyhawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon hingga pesawat Sukhoi. Jarang ada pilot pesawat tempur kita mampu menguasai semua jenis pesawat untuk diterbangkan."

Kesederhanaan Hidup Sosok Pilot Jet F-16


Menjadi penerbang pesawat tempur menjadi impian setiap personil AU atau lulusan taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Pilot pesawat tempur bisa dikatakan satu kelompok elit yang belum tentu dicapai oleh semua tentara di Angkatan Udara. Dibutuhkan orang-orang yang tidak hanya berani, tetapi juga cermat dan dapat bertindak cepat namun tetap tenang.

———————————————————————————————————————

Tak heran jika dari ratusan taruna yang diterima di AAU tiap tahunnya, hanya beberapa puluh orang yang berhasil menjadi penerbang. Dan tak kurang dari 10 orang yang berhasil masuk ke dalam tim elite penerbang pesawat tempur. Salah satu putra bangsa yang karir hidupnya terpilih sebagai pilot pesawat tempur adalah Marsekal TNI Agus Supriatna.

Bahkan Mantan Kepala Staf TNI AU ini adalah salah satu figur pilot yang mungkin sedikit dimiliki TNI AU. Marsekal Agus adalah pilot multi talenta dan multi pesawat. Ia menerbangkan pesawat mulai dari jenis AV Bronco, A-4 Skyhawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon hingga pesawat Sukhoi. Jarang ada pilot pesawat tempur kita mampu menguasai semua jenis pesawat untuk diterbangkan.

Semasa bertugas sebagai penerbang pesawat tempur TNI AU, Agus termasuk pilot yang beruntung. Ia beberapa kali ditugasi negara untuk mendalami kemahiran menerbangkan jet-jet modern. Agus Supriatna pernah dikirim untuk mengikuti sekolah instruktur pesawat F-16 (Fighter Weapons Instructor Course) di United States Air Force, Arizona, Amerika bersama koleganya Muhammad Syaugi.

Disana Agus mendapatkan pengalaman yang sangat berharga berkenalan dengan sistem yang sudah tertata sangat rapi. “Saya disana pasti berangkat pagi jam 5, langsung buka komputer cari nama “Dingo”, nama call sign saya, disitu sudah tertera, Dingo harus start jam sekian,” papar Marsekal TNI Agus Supriatna mengenang kisahnya belajar mengawaki pesawat tempur canggih buatan Amerika.

Agus juga menjadi pilot leader dalam tim aerobatik Elang Biru. Applaus dari masyarakat Indonesia bahkan masyarakat internasional setiap tim Elang Biru tampil menjadikan para pilotnya merasa bangga, termasuk Agus. Tidak heran jika figur para pilotnya kerap mendapat pujian, apalagi jika sukses melakukan manuver-manuver berbahaya.

Namun apakah kehidupan mereka seglamor penampilan gagah mereka di udara? Ternyata kehidupan para pilot termasuk Marsekal Agus Supriatna bisa menjadi suri tauladan bagi semua. Meski mereka menerbangkan pesawat jet tempur yang harganya mencapai ratusan miliar, namun kehidupan para pilot TNI AU itu cukup sederhana.

Kehidupan sebagai penerbang pesawat tempur ternyata tidak seperti yang dibayangkan orang. Bahkan kerap harus bertahan hidup dengan mengandalkan gaji yang pas-pasan. Berbeda dengan rekan-rekan mereka di satuan lain. Apalagi jika dibandingkan dengan pilot pesawat komersial.

Namun bagi mantan Kepala Staf TNI AU, Marsekal Agus Supriatna, kehidupan semasa bertugas sebagai pilot dijalaninya dengan ketulusan, ikhlas dan menyukai profesi sebagai pilot. Ia tetap bersahaja dan hidup dalam kesederhanaan.

Puluhan tahun mengabdi di TNI AU, kunci sukses yang dijalani pria yang pernah juga menjabat Pangkohanudnas II Makassar ini adalah menerapkan hidup apa adanya dan sederhana. Tidak neko-neko atau banyak keinginan, namun bersyukur atas apa yang telah Tuhan kasih rejeki.

Oleh karenanya itu meski saat menjadi Pilot Jet Tempur penghasilannya sederhana namun Agus tidak pernah mengeluh dalam kehidupannya. Ia justru bangga menjadi pilot dan tetap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari menjalankan kehidupan sederhana.

Kehidupan sederhana seorang pilot jet tempur yang baru saja lulus pendidikan dirasakan Agus Supriatna saat mengawali karir prajuritnya di TNI AU. Meski, setelah lulus pangkatnya sudah menjadi perwira muda, yang notabene bisa menjadi pilot.

Lewat bukunya bertajuk “Dingo: Menembus Limit Angkasa”, terbitan Penerbit Buku Kompas yang ditulis oleh Bambang Setiawan dan Budiawan Sidik Arifianto, Agus membeberkan gaji pertama yang diterima angkatannya setelah lulus Akademi Angkatan Udara (AAU). Sejak di skadron pendidikan, penghasilannya hanya sekitar Rp 189.000.

Gaji sebesar itu baru diketahui istrinya sesaat setelah melangsungkan pernikahannya. Padahal, semasa memadu kasih dia selalu mendapatkan hadiah mahal atau diajak nonton bersama keluarganya.

“Setelah menikah saya baru tahu suami saya uangnya hanya segitu. Saya langsung membayangkan masa pacaran dia harus ke Bandung, nraktir-nraktir. Kadang dia tanya ke saya, kamu mau apa? Lalu dia kasih,” ungkap Bryan Timur Rahmawati, istri Agus dalam buku biografinya.

Meski bergaji minim, namun uang tersebut dinilai cukup untuk membiayai kehidupannya. Hanya saja Bryan harus pandai-pandai menyisihkan uang untuk diberikan kepada orang tua Agus dan sisanya membayar kreditan.

Hal yang sama juga diceritakan oleh juniornya Fachmy Adamy. Sebagai perwira pertama yang menjadi penerbang setelah lulus Sekbang dan bergabung di skadron, terutama mereka yang masih berpangkat Letnan Dua, penghasilan yang didapatkan sebesar Rp 94 ribu. Dia yakin angka itu masih lebih besar dibandingkan penghasilan yang didapatkan Agus di hari pertamanya sebagai pilot.

“Gaji saya dulu Rp 94 ribu. Saya tidak membayangkan zaman Pak Agus tahun 1983, pasti lebih kecil lagi,” ungkap Fachry.

Sebagian besar penghasilannya itu habis digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan sisanya dipakai buat keperluan rekreasi, makan dan lain sebagainya.

Untuk mensiasati pengeluaran, terkadang mereka berangkat bersama-sama ke kota dengan menggunakan kendaraan dinas. Sedang kuncinya dipegang oleh perwira seniornya. Jika pemegang kunci akan berangkat, maka juniornya akan menghampiri dan meminta izin untuk ikut.

“Jam 7 malamnya kami sudah rapi dan berangkat empet-empetan di mobil. Mobilnya Toyota Hi-Ace dan Land Rover,” kenangnya.

Meski hidup kekurangan, namun suasana kekeluargaan masih sangat terbangun.


Edo W.

close