Financial Hacks dan Startup di Masa Sulit

“Saya sudah bertemu dengan ribuan pelaku startup, dan masalah terbesar yang saya temukan adalah ketidakmampuan mereka dalam mengelola keuangan dengan baik. Kebanyakan founder mengatakan, mereka dapat mengumpulkan modal sehingga mereka membakar uang,”

Financial Hacks dan Startup di Masa Sulit

Telegraf – Persoalan keuangan menjadi momok yang cukup berat bagi pelaku bisnis startup. Terlebih, di masa sulit seperti saat ini. Achmad Zaky, Founder sekaligus mantan CEO Bukalapak yang juga merupakan Founder INIT-6 membagikan tips untuk mengatasi persoalan ini.

Berangkat dari pengalaman mendirikan Bukalapak di tengah masa sulit pascakrisis ekonomi, Zaky mengatakan hal pertama yang harus dimiliki pebisnis adalah optimisme.

Pasalnya, deretan perusahaan raksasa di dunia, mulai dari Alibaba hingga Google menurut Zaky lahir di tengah masa-masa sulit. Peluang bagi Anda untuk mengikuti jejak kesuksesan tersebut pun ada di depan mata. Namun, para pemimpin perusahaan startup harus bisa mengimbangi optimisme mereka dengan berbagai kemungkinan terburuk.

“Sebagai seorang founder, Anda harus bersiap untuk menghadapi skenario terburuk. Jangan berekspektasi jika pandemi ini akan usai dalam waktu cepat. Bayangkanlah kemungkinan terburuk jika pandemi ini akan berlangsung cukup panjang, dan Anda harus memecahkan masalah tersebut,” jelas Zaky dalam gelaran Tech in Asia Conference Virtual 2020, Senin (19/10/2020) lalu.

Ia menilai, kondisi sulit justru dapat membentuk mentalitas para founder menjadi lebih kuat. Mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario terburuk pun dapat memacu founder startup untuk berpikir lebih kreatif agar dapat memperoleh profit.

Lantas, bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik di masa sulit?

“Saya sudah bertemu dengan ribuan pelaku startup, dan masalah terbesar yang saya temukan adalah ketidakmampuan mereka dalam mengelola keuangan dengan baik. Kebanyakan founder mengatakan, mereka dapat mengumpulkan modal sehingga mereka membakar uang,” ujar Zaky.

Ini merupakan pemikiran yang sangat berbahaya dan menjadi salah satu alasan teratas mengapa startup berguguran.

“Karena ketika Anda sangat optimistis dapat memperoleh modal, Anda akan terus menerus membakar uang hingga akhirnya tidak lagi memiliki dana untuk menjalankan operasional bisnis,” imbuhnya.

Di masa-masa sulit, startup harus menekan biaya pengeluaran mereka seefisien mungkin. Di awal Bukalapak berdiri, perusahaan tersebut memilih untuk menjadikan ruang kos sebagai kantor, dan para founder tidak memperoleh upah. Sumber daya yang terbatas justru dapat memancing kreativitas Bukalapak.

“Kami berpikir keras mengenai SEO, viralitas, dan pamflet murah yang kami tujukan kepada target konsumen secara spesifik. Jadi, kami memikirkan berbagai cara untuk tumbuh. Kami tidak terpikirkan untuk menggunakan big channel karena kami tidak memiliki kemampuan untuk membayar channel tersebut,” cerita Zaky. Alhasil, Bukalapak saat itu berhasil mencatatkan pertumbuhan mencapai 60 kali lipat.

Ketika startup dapat mengelola keuangan dengan efisien di masa sulit, maka umur perusahaan dapat berjalan lebih panjang. Bahkan, para founder tidak perlu bernegosiasi dengan investor sehingga startup tersebut akan memiliki bargaining power yang lebih besar karena bisa berjalan untuk waktu yang lebih lama.

Tidak hanya di masa sulit, startup juga harus dapat mengelola keuangan dengan bijak di masa baik sekali pun. Alhasil, keuangan startup tersebut dapat teralokasi untuk hal-hal yang mendukung produktivitas perusahaan dibandingkan untuk hal-hal yang tidak produktif.

“Investor menyukai perusahaan yang mampu mengelola keuangan dengan baik karena ini berarti Return on Investment (ROI) yang lebih baik bagi investor tersebut,” tegas Zaky.

Bagaimana mengukur efisiensi pendanaan?

Zaky selalu menggunakan sebuah formula yang ia katakan banyak digunakan di Silicon Valley. Formula efisiensi pendanaan ini diperoleh dengan cara membagi Net Additional Revenue dengan Net Burn.

Pendanaan yang tidak efisien terukur jika hasil kalkulasi tersebut menunjukkan hasil kurang dari 0.1x. Jika hasil kalkulasi berada di antara 0.5x-1.5x, maka efisiensi pengeluaran startup tersebut tergolong baik. Namun, tergolong baik saja tidak cukup. Zaky mengatakan, investor menginginkan hasil yang terbaik dan ini dapat dicapai jika hasil kalkulasi tersebut lebih dari 1.5x.

“Anda harus selalu memeriksa efisiensi pengeluaran startup secara berkala (per kuartal, tahun, atau bulan). Jika hasilnya profitable (lebih dari 1.5x), maka ini adalah sinyal yang baik. Namun, jika hasil berada di bawah nilai tersebut, maka perlu dilakukan improvement,” papar Zaky.

Bagaimana cara memperbaiki efisiensi pengeluaran keuangan?

Menciptakan efisiensi pengeluaran dapat dilakukan dengan memperhatikan fixed cost dan variable cost perusahaan.

Fixed cost adalah sesuatu yang tetap dan sulit untuk diubah dalam periode waktu yang pendek. Beberapa hal yang termasuk ke dalam fixed cost adalah orang atau talenta di dalam perusahaan, bangunan, dan teknologi atau infrastruktur. Sementara, variable cost adalah biaya yang berdampak pada pertumbuhan bisnis, seperti sales dan marketing.

Menurut Zaky, variable cost adalah hal terpenting. “Jika Anda merupakan seorang founder startup, Anda harus memiliki variable cost karena ini sangat penting. Lower your fixed cost and increase your variable cost, but still based on best spending efficiency. Focus for growth.”

Setelah itu, ukur efisiensi variable cost Anda dengan cara mengkalkukasi CAC Ratio. Anda hanya perlu membagi Additional Revenue dengan Sales and Marketing Cost untuk memperoleh CAC Ratio. Jika hasil yang diperoleh lebih dari satu, ini menandakan hasil yang sangat baik atau dapat dikatakan startup Anda profitable.


Getty Images

 

Ishwari Kyandra