Telegraf – Sejumlah pakar menegaskan bahwa integrasi teknologi canggih dan penguatan literasi masyarakat merupakan pilar utama pertahanan negara dalam menghadapi ancaman hibrida di era digital. Hal tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Sebagai Bentuk Pertahanan Semesta di Era Digital,” yang menghadirkan perspektif dari regulator, praktisi dan pengamat baru-baru ini.
Anggota Komisi I DPR RI, Yulius Setiarto, menekankan pentingnya pendekatan security by design. Menurutnya, keamanan harus diintegrasikan langsung ke dalam setiap lapisan infrastruktur digital, bukan sekadar tambahan.
“Investasi pada teknologi keamanan, peningkatan kapasitas SDM, dan kepatuhan regulasi adalah strategi krusial untuk menjaga kepercayaan publik,” kata Yulius, Kamis (30/04/2026).
Senada dengan hal tersebut, praktisi komunikasi Sadjan, menyoroti relevansi Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) di masa kini. Ia menilai teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Big Data harus dipadukan dengan kesadaran bela negara.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat sangat diperlukan untuk membentengi kedaulatan negara dari ancaman siber dan disinformasi.
Menghadapi Ancaman Hibrida
Sementara itu, Direktur Eksekutif Para Syndicate, Virdika Rizky Utama, memperingatkan adanya ancaman hibrida yang mencakup tekanan geopolitik dan kedaulatan data. Virdika mengkritik implementasi pertahanan yang belum sepenuhnya mengintegrasikan komponen non-militer.
“Tantangan utama kita adalah mengelola ruang digital dan memastikan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dinamika ancaman yang kian kompleks,” jelas Virdika.
Ketiganya sepakat bahwa pertahanan semesta saat ini bukan lagi sekadar kekuatan fisik, melainkan kombinasi antara sistem teknologi yang tangguh, kesiapan masyarakat, serta kemampuan adaptasi yang berkelanjutan terhadap ancaman digital.