Connect with us

Telerasi

Dari “Aek Kapuas” Sampai “Bengawan Solo”

Published

on

Aek Kapuas


Telegraf – Hari Sungai Nasional diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 27 Juli. Peringatan ini bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar lebih peduli terhadap sungai yang sedari dulu menjadi sumber penghidupan penduduk di sekitarnya.

Tak hanya itu, sungai juga menjadi sumber inspirasi bagi para musisi. Sederet lagu terlahir dari keindahan sungai-sungai di Indonesia. Memaknai lagu-lagu tersebut bisa menginspirasi kita untuk semakin mencintai sungai.

Lagu daerah dari Kalimantan termasuk termasuk paling banyak terinspirasi dari sungai karena pulau ini memang banyak dialiri sungai. Sebut saja lagu berjudul “Aek Kapuas” ciptaan Paul Putra Frederick dam Yan G. Lagu ini menceritakan pesona Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Penggalan liriknya yang berbahasa Melayu berikut ini memperlihatkan bahwa keindahan sungai Kapuas begitu sulit terlupakan. Konon, orang yang meminum air dari sungai kapuas tidak akan bisa melupakan daerah Kalbar.

“Sungai Kapuas punye cerite… Bile kite minom aeknye… Biar pon pegi jaoh kemane… Sunggoh susah nak ngelupakkannye.”

“Aek Kapuas” juga menceritakan tentang sejarah Sungai Kapuas. Dalam penggalan selanjutnya tertulis bahwa dahulu sekeliling sungai itu dipenuhi hutan rimbun. Namun seiring berjalannya waktu, daerah itu berkembang menjadi kota yang terkenal, yakni Pontianak.

Sungai sepanjang 1.143 km yang tercatat sebagai sungai terpanjang di Indonesia tersebut memainkan peran penting bagi kehidupan penduduk, terutama bagi peradaban suku Dayak.

Mengalir dari Pegunungan Muller hingga ke Selat Karimata, sungai ini menjadi penghubung antar daerah. Kekayaan sumber daya airnya juga menjadi mata pencaharian para nelayan di sekitar sungai.

Sungai lain di Kalimantan yang melahirkan tembang adalah Sungai Mahakam. Sungai kedua terpanjang di Indonesia ini menjadi inspirasi lagu daerah “Balarut di Sungai Mahakam” karya Drs. Djuriansyah dan “Sungai Mahakam” ciptaan Drs. Roesdibyono.

Lirik pada kedua lagu tersebut sama-sama menggambarkan keelokan juga histori dari sungai yang mengalir sepanjang 920 km di Kalimantan Timur ini. Pada lagu “Balarut di Sungai Mahakam”, misalnya, terdapat lirik berbunyi:

“Sungai Mahakam… memecah buih… basinar putih… diayun angina puhun rumbia…”

Nama “Mahakam” sendiri diketahui berasal dari bahasa Sanskerta, yakni kata “maha” yang berarti tinggi atau besar dan “kama” yang berarti cinta. Jadi, makna kata “mahakama” dapat diterjemahkan sebagai cinta yang sangat besar atau agung.

Sementara itu, lagu “Sungai Mahakam” juga menceritakan manfaat sungai ini sebagai jalur lintas perahu perahu yang membawa masyarakat sekitar menyebrang atau pun singgah di suatu tempat.

Kapal-kapal dari hulu sungai mahakam sering membawa hasil kekayaan daerah Kaltim seperti batu bara dan kayu. Bahkan, pemanfaatan sungai untuk transportasi kapal pembawa batu bara sudah dilakukan sejak tahun 1888 oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.

Sungai yang bermuara di Selat Makassar itu juga menopang kebutuhan air bagi kurang lebih 3 juta penduduk di Kota Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat. Melalui pengolahan oleh PDAM, penduduk kota bisa menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Apalagi, Sungai Mahakam juga menjadi habitat bagi hewan air yang kini telah langka keberadaannya, yaitu Pesut Mahakam. Selain itu, lumba-lumba air tawar juga bermukim di sungai ini.

Tak hanya menginspirasi pemusik daerah. Aliran sungai juga membanjiri para musisi nasional dengan kreatifitas. Pada era 1960-an, Alfian Rusdi Nasution mempopulerkan lagu berjudul “Sebiduk di Sungai Musi”.

Single tersebut sempat menjadi hits pada eranya, mengisahkan tentang cinta yang berawal dari Sungai Musi dengan sepenggal lirik syahdu seperti berikut ini:

“Terpesona aku melihat wajahnya… Tatkala aku duduk di dekatnya… Sebiduk seiring kali menyeb’rang… Berperahu ke seb’rang sungai Musi.”

Lalu, jauh ke belakang saat penjajahan Jepang, lagu “Bengawan Solo” ciptaan Gesang sang maestro keroncong Nusantara, berhasil memikat pecinta musik dalam negeri hingga daratan Asia setelah tentara Jepang ikutan mempopulerkannya.

Hingga kini, musisi luar negeri masih sering menembangkan lagu ini dengan beragam sentuhan musikalitas lain. Lisa Ono, merupakan salah satu penyanyi asal Jepang pernah membawakan lagu ini, yang videonya masih bisa diakses via Youtube.

Komponis musik kerakyatan, Sutanto Mendut pernah berujar bahwa “Bengawan Solo” ialah salah satu karya Gesang yang menunjukkan melodi dan syair yang relatif sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.

“Bengawan Solo itu berbicara tentang perasaan-perasaan Solo, geografi Solo, sejarah Solo, lingkungannya, tentang dia sendiri yang orang Solo. Beliau melihat dirinya berhadapan dengan sejarah dan mencatat apa yang terjadi, mewakili lingkungannya,” kata Sutanto.

Namun sekarang, nasib sungai terpanjang di Pulau Jawa ini cukup tragis. Bengawan Solo tercemar parah, yang terlihat kian mencolok pada musim kemarau. Airnya tak layak jadi bahan baku air, warnanya berubah merah pekat akibat mengandung logam berat.

Dampak pencemaran akibat limbah tersebut di antaranya gangguan pasokan air bagi 24.000 pelanggan dua perusahaan air minum di Surakarta dan Blora, Jawa Tengah. Habitat sungai pun rusak, ikan-ikan mati terpapar limbah.

Dari identifikasi Pemprov Jawa Tengah dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, limbah cair berasal dari industri tekstil, alkohol (ciu), dan peternakan babi baik skala kecil atau besar. Bentuknya berupa limbah cair dan padat.

Pada 2018, riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menunjukkan ada tumpukan sampah popok yang dibuang di Bengawan Solo, tepatnya di Jembatan Gawan, Sidoharjo, Sragen. Lebih dari 1.500 popok ditemukan.

Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan sampah popok tergolong residu yang tak bisa diolah dan dimanfaatkan lagi. Sampah ini seharusnya ditempatkan di sanitary landfill TPA.

Oleh karena itu, momen Hari Sungai Nasional sepatutnya menjadi waktu bagi kita berpikir sejenak, sambil meresapi lagu-lagu tentang sungai-sungai indah di Indonesia.

Semoga kita tergerak untuk bisa mencintai sungai yang merupakan penopang kehidupan makhluk hidup, salah satunya dengan cara tidak membuang sampah ke sungai. (Mela)


Photo credit : Aek Kapuas doc gencil.news


 

Bagikan Artikel
Advertisement
Click to comment

Telerasi

Pelabelan BPA Bentuk Perlindungan Pemerintah Tehadap Masyarakat

Published

on

By


Telegraf – Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rita Endang mengatakan pelabelan risiko Bisfenola A (BPA)—bahan kimia yang bisa menyebabkan kanker dan kemandulan—adalah bentuk nyata perlindungan pemerintah atas potensi bahaya dari peredaran luas galon guna ulang di tengah masyarakat.

“Pelabelan ini semata untuk perlindungan kesehatan masyarat. Jadi tidak ada istilah kerugian ekonomi,” kata Rita dalam sebuah webinar bertajuk “Sudahkah Konsumen Terlindungi dalam Penggunaan AMDK” pada Kamis, 2 Juni.

Rita menampik tudingan bahwa pelabelan BPA adalah vonis mati bagi industri air kemasan. Menurutnya, pandangan tersebut keliru karena pelabelan risiko BPA pada dasarnya hanya menyasar produk air galon bermerek alias punya izin edar.

“Regulasi pelabelan BPA tidak menyasar industri depot air minum,” kata Rita menyebut sejauh ini sudah ada 6.700 izin edar air kemasan yang dikeluarkan BPOM.

Secara khusus, Rita merinci alasan rancangan regulasi pelabelan BPA menyasar produk galon guna ulang. Dia bilang saat ini sekitar 50 juta lebih warga Indonesia sehari-harinya mengkonsumsi air kemasan bermerek. Dari total 21 miliar liter produksi industi air kemasan per tahunnya, katanya, 22% di antaranya beredar dalam bentuk galon guna ulang. Dari yang terakhir, 96,4% berupa galon berbahan plastik keras polikarbonat.

“Artinya 96,4% itu mengandung BPA. Hanya 3,6% yang PET (Polietilena tereftalat),” katanya menyebut jenis kemasan plastik bebas dari BPA. “Inilah alasan kenapa BPOM memprioritaskan pelabelan risiko BPA pada galon guna ulang.”

Rita juga menyebut tak tertutup kemungkinan BPOM nantinya mengeluarkan regulasi BPA pada kemasan pangan lainnya semisal makanan kaleng. Namun untuk saat ini, katanya, pelabelan risiko BPA pada kemasan pangan itu belum diprioritaskan karena peredarannya relatif kecil.

Bagikan Artikel
Continue Reading

Telerasi

Belum Banyak Tahu, Pernikahan Dini Ternyata Melanggar Hak-Hak Perempuan

Published

on

By

Hak-Hak Perempuan


Telegraf – Ternyata banyak perempuan yang belum memiliki akses sepenuhnya untuk mengambil keputusan terhadap tubuhnya sendiri, salah satunya memutuskan kapan akan menikah atau memiliki anak. Padahal perempuan seharusnya memiliki hak penuh dan hak ini harus dijamin oleh negara.

Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), yang ditandatangani pada 1979 dalam konferensi yang diadakan Komisi Kedudukan Perempuan PBB, menyebutkan bahwa perempuan memiliki hak dalam bidang kesehatan.

Artinya, perempuan berhak mendapatkan kesempatan sama untuk melahirkan secara aman. Negara juga berkewajiban menjamin diperolehnya pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan KB, kehamilan, persalinan, dan pasca-persalinan. Hak ini berlaku untuk semua perempuan.

Apalagi, Indonesia juga telah mengesahkan konvensi tersebut pada tahun 1984 yang kemudian tertuang dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita.

Dalam undang-undang tersebut tertulis bahwa semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, sehingga segala bentuk diskriminasi terhadap wanita harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Meski demikian, pada kenyataannya tak semudah itu. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo pernah menyatakan bahwa masih banyak perempuan di dunia yang belum memiliki hak akan tubuhnya. Hampir setengah dari 57 negara berkembang di mana perempuan masih belum bisa menggunakan haknya.

“Bahkan jutaan wanita belum bisa menentukan dirinya mau pakai apa dalam urusan kontrasepsi. Belum merdeka untuk menentukan bahwa keputusan ada pada dirinya untuk mau hamil atau tidak hamil. Belum sepenuhnya memiliki kekuatan apakah dirinya berhak atau belum menikah,” kata Hasto dikutip dari Republika, Jumat (2/7/2021).

Pasalnya otonomi tubuh perempuan sangat berkaitan erat dengan kesehatannya. Hasto mencontohkan ketika perempuan dipaksa menikah pada usia muda, kesehatan mental dan fisik mereka sangat berpotensi terganggu. Hal semacam ini seharusnya tidak boleh terjadi.

Peneliti Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Dian Kartikasari menyampaikan, faktor pendorong perkawinan dini ternyata cukup banyak dan yang paling tinggi adalah faktor sosial sebanyak 28%.

Perempuan kerap terpaksa menikah dini akibat dorongan keluarga atau lingkungan yang melabeli mereka sebagai “perawan tua” atau “tidak laku”, pada usia yang sebenarnya masih terbilang remaja. Hal ini berdampak pada mental anak sehingga mereka tergesa-gesa menikah, padahal secara fisik dan psikologis belum siap.

Child Marriage Report yang disusun oleh Badan Pusat Statistik, Bappenas, dan Unicef menyebutkan bahwa pada tahun 2018 sekitar 1 dari 9 anak perempuan berusia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Secara total ada sekitar 1,2 juta anak yang melakukan praktik ini.

Bayangkan pada usia masih belasan mereka harus menanggung beban di luar kesiapan usianya. Apalagi, kehamilan dini juga menjadi penyebab tertinggi kematian ibu saat melahirkan.

Hal tersebut diamini oleh Hasto. Pernikahan usia muda sering kali menimbulkan risiko kematian ibu. Perempuan muda masih memiliki panggul yang sempit sehingga kerap terjadi persalinan yang macet lalu menyebabkan pendarahan. Akhirnya, kematian ibu pun tidak bisa dihindari, yang menyedihkan bila diikuti dengan kematian bayi.

Selain itu, dampak negatif dari pernikahan dini juga berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi anak perempuan. Menurut Hasto, hubungan seksual yang terlalu dini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang berbahaya seperti kanker mulut rahim.

“Itu kan mereka tidak mengerti bahwa sebetulnya mulut rahim kita masih sangat immature. Kalau mulut rahimnya masih immature, kemudian dilakukan hubungan layaknya suami istri itu kan repot sekali. Dalam hal ini terjadi kanker mulut rahim,” ucap Hasto.

Dari aspek psikologis pun, pasangan dini cenderung belum siap. Mereka seringkali mengedepankan ego masing-masing. Terlebih lagi pasangan muda belum kuat secara ekonomi sehingga menyebabkan perdebatan dalam rumah tangga.

Pada masa pandemi ini, keharmonisan rumah tangga sedang masuk dalam ujian maha berat. Perekonomian yang mandek, layanan kesehatan yang sulit diakses, dan kondisi sosial yang mulai terguncang bisa menimbulkan stress dan menyebabkan keretakan dalam rumah tangga.

BKKBN mencatat sekitar 2,5% dari 20.400 responden yang merupakan pasangan usia subur, menunjukkan mereka mengalami stres dan terjadi cekcok antara suami dan istri selama pandemi.

“Sehingga pertimbangan bahwa kematian ibu dan kematian bayi menjadi indikator derajat kesehatan bangsa belum mendapatkan perhatian khusus. Oleh karenanya, masukan dari para pakar itu sangat penting agar kedepan kita bisa merumuskan kebijakan khusus di masa pandemi ini,” tutur Ketua BKKBN ini.


Photo credit : ilustrasi primocanale.it/Mela


 

Bagikan Artikel
Continue Reading

Telerasi

Diplomasi, Sebuah Buku Rekaman Kiprah Para Diplomat Indonesia

Published

on

Photo Credit: Image Cover Both Sampul buku Diolomasi (Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara). Kompas Gramedia

Telegraf – “Sumbangan tulisan dan pemikiran diplomat sangat diperlukan saat sekarang. Tidak saja sebagai bentuk pertanggung jawaban publik, tetapi juga pengenalan. Kita tahu bahwa kesadaran masyarakat tentang politik luar
negeri semakin tinggi,” kata Siswo Pramono, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) pada saat membuka acara virtual “Debriefing dan Peluncuran Buku Diplomasi Indonesia” 10 Maret 2021 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut menampilkan sebuah buku yang ditulis oleh tujuh belas diplomat Indonesia alumnus Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan X atau dikenal dengan Sekdilu X lulusan tahun 1984.

Dubes atau Wakil Tetap RI di Wina Darmansjah Djumala menyampaikan bahwa gagasan awal penerbitan buku tersebut dilandasi oleh keinginan para penulis untuk berbagi pengalaman dan memberi kontribusi pemikiran bagi masa depan diplomasi Indonesia.

Diberi judul “Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara” buku tersebut memuat pengalaman yang diperoleh dan digali saat mereka ditugaskan sebagai diplomat di berbagai negara.

Mungkin pengalaman masa lalu belum tentu relevan dengan tuntutan jaman saat ini, namun hakikat tujuan diplomasi masih sama, yaitu memperjuangkan kepentingan nasional.

 

Photo Credit: Image Cover Both Sampul buku Diolomasi (Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara). Kompas Gramedia

Photo Credit: Image Cover Both Sampul buku Diolomasi (Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara). Kompas Gramedia

Secara singkat isi buku dijelaskan oleh A Agus Sriyono, Dubes RI di Vatican (2016-2020). Topik yang dibahas adalah mengenai pembagian isu, dimulai dari isu kewilayahan Asia, Pasifik, Timur Tengah, Amerika, dan kemudian Eropa.

Tulisan yang bersifat cross regional ditempatkan pada bagian akhir buku. Kemudian enam fungsi dari diplomasi termasuk yang menjadi bahasan buku. Setiap topik yang dibahas dipetik dan digali dari pengalaman paling berharga selama masa kerja para penulis di Kementerian Luar Negeri dalam kurun waktu tahun 1985 sampai sekarang.

Sangat diperlukan kerjasama dan kolaborasi para pelaku diplomasi, mahasiswa, peminat isu-isu hubungan internasional, dan masyarakat luas pada umumnya.

Bagas Hapsoro yang pernah menjadi Dubes di Swedia (2016-2020) menjelaskan harapannya bahwa buku ini bisa menjadi bahan penelitian, masukan atau feedback penting bagi civitas Academica dan masyarakat umum. Mengingat buku ini adalah bersifat praksis. Sementara civitas academica adalah dalam tataran akademis. Buku ini bisa menjadi food for thought.

Trias Kuncahyono, wartawan senior Kompas selaku pembahas memberikan apresiasinya terkait Buku tersebut. Dikatakan bahwa dewasa ini informasi sangat cepat dan masif. Oleh karena itu laporan para diplomat tidak boleh kalah cepat dan perlu up to date dengan perkembangan yang ada.

”Analisa yang ditulis para diplomat senior tersebut tajam,” kata Trias.

Oleh karena itu mewujudnyatakan politik luar negeri bebas-aktif dan menjelaskan peranan Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia harus bisa disebarkan oleh para diplomat senior ini.

 

“Para diplomat muda, para mahasiswa hubungan internasional, serta peminat masalah-masalah internasional perlu dan wajib membacanya,” terang Trias.

Sementara itu, dalam sambutan tertulisnya Menlu Retno Marsudi menyatakan bahwa pengalaman dan pengetahuan diplomat selama melaksanakan tugasnya itu baik untuk diketahui publik, khususnya bagi masyarakat yang berminat terhadap diplomasi, hubungan
internasional, dan politik luar negeri.

“Dalam upaya berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada publik, saya menyambut baik diterbitkannya buku kumpulan tulisan alumni Sekdilu X ini. Saya menghargai niat baik dan kerja keras para alumni Sekdilu X yang berbagi dan berusaha menjelaskan politik luar negeri dan pelaksanaan diplomasi dalam tataran praktis,” kata Menlu perempuan pertama Indonesia itu.

Adapun para diplomat alumnus Sekdilu X penulis buku adalah: A Agus Sriyono, Aburrachman M. Fachir, Bagas Hapsoro, Darmansjah Djumala, E.D. Syamsuri, Hadi Sasmito, Hari Asharyadi, M.G.H. Henny Andries da Lopez, Niniek Kun Naryati, Nur Syahrir Rahardjo, Prayono Atiyanto, Simon Ginting, Sutadi, Taufiq Rhody, Tri Edi Mulyani, Widyarka Ryananta dan Wiwiek Setyawati Firman. Penyunting bahasa adalah Irawati Hapsari dan koordinator grafis Rudhito Widagdo. Penyunting dan koordinator grafis juga lulusan Sekdilu X.

Penulis buku Diplomasi (Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara).

Sebagai informasi sepanjang pengabdian mereka selama tiga puluh enam tahun di Kementerian Luar Negeri, mereka juga telah membuat dua buku sebelumnya dan penerbitnya adalah PT Gramedia. Pengalaman, fakta, pengamatan, dan analisa yang mengacu pada tugas dan fungsi diplomat telah dijabarkan dengan baik oleh dua puluh satu tulisan di atas.

Bagi yang berminat membeli buku tersebut, bisa melalui e-book dengan akses link ini. Untuk yang versi cetak dapat menghubungi: E.D. Syarief Syamsuri di nomor : +62 812 9061 015.


Photo Credit: Image Cover Both Sampul buku Diplomasi (Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara). Kompas Gramedia

 

Bagikan Artikel
Continue Reading

Telerasi

Globalisasi: Era Digitalisasi Pikiran Dan Informasi

Published

on



Memaknai globalisasi berarti memaknai suatu proses dimana bangsa-bangsa terkondisikan dalam situasi untuk menerima kultur, tradisi, dan nilai-nilai yang dianggap universal. Memaknai globalisasi bukan berarti hanya menerjemahkan istilah ini menjadi istilah sejenis seperti westernisasi atau Amerikanisasi. Barangkali secara sederhana dapat dilakukan dengan melihat beberapa fenomena seperti banyaknya orang memakai jeans Levis dan alas kaki Converse, Nike atau Reebok dan, makan di resto cepat saji seperti KFC atau McDonald. Amatilah juga pengunjung resto atau cafe saat ia mengetik di laptop Mac atau saat ia berinteraksi lewat Black Berry Messenger, atau smartphone dengan sistem operasi android.

Amati pula apakah ia menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter sambil berfoto ria dan menguploadnya di instagram serta menikmati soda Pepsi atau Coca-Cola. Mungkin pula mereka sedang nongkrong di Café Bean dan Starbucks. Atau bisa jadi kita tengah bersantai menonton TV drama Korea, berita di CNN atau menonton bareng liga Inggris dan liga Italia atau berbagai hiburan lain di stasiun TV kabel sambil makan Pizza Hut atau Dunkin Donut pada TV plasma bermerk Sony, LG atau Samsung. Serbuan beberapa brand dalam benak dan lifestyle kita mengisyaratkan bahwa dunia ini memang makin tak punya batas, atau borderless, atau meminjam istilah Marshal Mc Luhan sebagai global village.

Desa Global menggambarkan ketiadaan batas waktu serta tempat yang jelas, sebagai akibat dari cepatnya arus informasi massif di masyarakat. Informasi dapat terakses dari satu tempat satu ke belahan dunia lainnya dalam hitungan waktu yang super cepat, dengan memakai teknologi internet. McLuhan, beberapa puluh tahun lalu memprediksikan bahwa manusia akan bergantung terhadap teknologi, khususnya teknologi komunikasi serta informasi. McLuhan ternyata telah memperkirakan kondisi empat dasawarsa atau apa yang kita sebut sebagai sekarang ini. Pada masa yang disebut digitalized dan computerized tersebut terjadi perubahan cara serta pola komunikasi. Masyarakat tentunya mengalami sebuah revolusi komunikasi, dan berdampak pada komunikasi antar individu.

Bertentangan dengan “kekuatan” teknologi media massa, manusia tidak akan mengagumi internet seperti pada awal kehadirannya di tengah masyarakat, sekalipun Internet dapat menghubungkan satu orang dengan orang lainnya dalam tempat yang berjauhan, menyampaikan banyak pesan ke tempat yang berlainan dalam satu waktu bersamaan. Perkembangan teknologi seperti yang dinyatakan dalam desa global, membawa dampak positif dan negatif.

Dampak positifnya adalah orang selalu bisa mengetahui kabar terbaru yang terjadi di tempat lain, dapat berkomunikasi dan terhubung walau dalam jarak ribuan mill, mencari dan bertukar informasi. Adapaun dampak negatifnya adalah internet-addicted, merasa tidak bisa hidup tanpa internet, bahkan muncul fenomena orang merasa lebih “eksis” di dunia maya daripada di dunia nyata, sehingga menggangu hubungan sosialnya dengan orang lain.

Dalam buku The World is Flat, Thomas L. Friedman mengatakan bahwa dunia ini didatarkan oleh konvergensi 10 peristiwa utama yang berhubungan dengan politik, inovasi dan perusahan. Perkembangan cepat yang membuat manusia menjadi semakin sibuk, menjadikannya bisa melihat satu dengan yang lain walau pada belahan bumi yang berbeda.

Memang, menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang bermakna universal. Seringkali ‘globalisasi’ ditafsirkan tidak lebih sebagai sarana legitimasi atas proses pembaratan atau “westernisasi” dan sebagai cara yang lebih “sophisticated” untuk melakukan westernisasi. Menurut kamus Macmillan English Dictionary, ‘globalisasi’ diartikan sebagai:

“the idea that the world in developing a single economy and culture as a result of improved technology and communications and the influence of very large multinational companies”.

Term    “globalisasi” yang diyakini mulai marak pada pertengahan dasawarsa 80-an dan dipopulerkan oleh Theodore Levitt tahun 1985 telah bergeser dan meluas pengertian dan maknanya yang dulunya hanya sekedar merujuk pada bidang politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Paling tidak presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagen telah melontarkan ide ide seperti “revolusi neoliberal” yang salah satu tujuan utamanya adalah membiayai berbagai ragam program persenjataan Amerika Serikat dalam pertempurannya dengan blok timur atau yang lebih dikenal dengan nama blok komunis.

Sehubungan dengan hal tersebut Wayne Ellwood menyatakan:

Around 1980 things began to change with the emergence of fundamentalist free-market governments in Britain and the US and the later disintegration of the state-run command economy in the former Soviet Union. The formula for economic progress adopted by the administrations of Margaret Thatcher in the UK and Ronald Reagan in the US called for a drastic reduction in the regulatory role of the state.

Instead, government was to take a back seat to corporate executives and money managers. The overall philosophy was that companies must be free to move their operations anywhere in the world to minimize costs and maximize returns to investors. Free trade, unfettered investment, deregulation, balanced budgets, low inflation and privatization of publicly-owned enterprises were trumpeted as the six-step plan to national prosperity.

Buku “The World is Flat” juga menyibak gambaran berjalannya peradaban dunia saat ini. Jika Colombus berhasil membuktikan bahwa dunia ini bulat, maka Friedman secara ironis telah “membuktikan” bahwa dunia ini datar. Saat ia menuju India dengan menumpang Lufthansa yang tentunya mempunyai GPS sebagai penunjuk arah yang tepat, ia telah menghindari kesalahan yang dilakukan Colombus yang telah keliru dalam “memperhitungkan” jarak.

Kehidupan yang dia jalani di sudut kota Bangalore, India tak ubahnya dengan sudut kota Kansas. Lapangan golf tempat ia bermain tak ubahnya sudut sudut yang ia kenal. Beberapa nama brand ada disana seperti Microsoft, IBM, HP, Goldman Sachs, juga Texas Instruments, Bahkan sang Caddy memakai topi 3M serta nama nama yang familiar baginya seperti Epson yang ada pada penanda tee golfnya. Pada rambu lalu lintas malahan tertera tulisan Texas Instruments, serta papan billboard Pizza Hut yang bertuliskan “Gigabites of Taste”.

Yang membuat Columbus dan Friedman “berbeda” salah satunya adalah aspek pencariannya. Columbus mencari “hardware” atau hasil bumi, sementara Friedman mencari “software” India yakni kekuatan otak, algoritma kompleks, pekerja intelektual, pusat layanan informasi dan terobosan baru teknologi serat optik sebagai sumber kekayaan masa kini. Yang membuat perjalanan ini menarik adalah rasa terkaget kagetnya Friedman saat orang India yang ditemuinya beraksen Amerika, menggunakan nama Amerika, juga menggunakan teknik bisnis ala Amerika.

Dengan demikian Friedman menyimpulkan “Orang India” yang dia temukan telah mengambil alih pekerjaannya, pekerjaan orang-orang di negaranya dan juga negara industri lain. Jika Columbus secara tidak sengaja menemukan Amerika yang dia kira bagian dari India, Friedman justru menemukan India dan mengira bahwa yang dia temui adalah bagian dari Amerika!! Dengan demikian Friedman telah membuktikan bahwa dunia ini sudah jadi datar.

Globalisasi pada kenyataannya telah berlangsung sejak lama. Wayne Ellwood menyebutkan bahwa proses globalisasi paling tidak sudah dimulai lebih dari lima abad yang lalu. Sementara itu menurut Friedman dalam bukunya “The World is Flat” diutarakan bahwa pada saat ini masyarakat dunia masuk ke dalam globalisasi “versi 3.0”. Globalisasi versi 1.0 dianggapnya dimulai pada era kolonialisme, sehingga dikatakannya bahwa negara kolonial sebagai pihak yang diuntungkan.

Globalisasi versi 1.0 ini ditandai dengan perjalanan kelas dunia dari Columbus di tahun 1492, serta pergerakan lain hingga era 1800-an. Proses ini dianggap menjadikan dunia menyusut dari ukuran besar ke sedang. Globalisasi tipe ini berkaitan dengan negara serta otot. Pelaku utama serta kekuatan penyatuan global ialah seberapa gigih, seberapa besar otot, seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, tenaga uap yang dipunyai suatu negara. Dengan demikian, motor penggerak globalisasi versi awal ini adalah adalah meng-globalnya negara.

Pada globalisasi versi 2.0 ditandai dengan munculnya perusahaan “Multi-National Company (MNC)”. Globalisasi versi ini berlangsung antara kurun waktu 1800 hingga 2000. Era ini menjadikan dunia menyusut dari ukuran sedang menjadi ukuran kecil. Dalam globalisasi tipe ini pelaku utama dan kekuatan penyatuan global tak lain adalah perusahaan-perusahaan multinasional.

Perusahaan-perusahaan tersebut mengglobal dan mendunia demi pasar dan tenaga kerja. Pada masa awal, penyatuan global dimotori jatuhnya biaya pengangkutan berat mesin uap dan kereta api. Berikutnya dimotori oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik, Word Wide Web versi awal. Terjadi pasar global dengan adanya pergerakan barang, jasa, informasi dan tenaga kerja dari benua ke benua. Motor penggerak Globalisasi 2.0 adalah meng-globalnya perusahaan.

Versi terakhir dari globalisasi, yakni versi 3.0 sudah tidak terlalu menyoal tentang kewarganegaraan atau menjadi bagian dari MNC melainkan aspek pemberdayaan individu yang didukung oleh kekuatan dari “Information Technology” lah yang paling utama. Globalisasi versi 3.0 dimulai tahun 2000, yang menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil dan mendatarkan lapangan permainan. Era yang memungkinkan memberdayakan dan melibatkan individu serta kelompok kecil untuk dengan mudah menjadi global dengan sebutan “tatanan dunia datar” (flat world platform).

Contoh nyatanya adalah konvergensi (penyatuan) antara komputer pribadi yang memungkinkan setiap individu dalam waktu singkat menjadi penulis materi mereka sendiri secara digital, serat optik yang memungkinkan mereka untuk mengakses lebih banyak materi materi di seluruh dunia dengan murah, serta workflow software yang memungkinkan individu-individu di seluruh dunia untuk bekerja bersama-sama mengerjakan suatu materi digital dari manapun, tanpa menghiraukan jarak antar mereka. Motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Dengan demikian, Wayne Ellwood yang menyebutkan bahwa proses globalisasi paling tidak sudah dimulai lebih dari lima abad yang lalu, rasanya memang beralasan.

Jika Friedman membagi masyarakat menjadi tiga versi, Marshal McLuhan, media-guru dari University of Toronto memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode yakni: a tribal age (era suku atau purba), literate age (era literal/huruf), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi.

Era pertama atau “The Tribal Age” dipandangnya sebagai era purba, saat manusia hanya mengandalkan indera pendengaran dalam berkomunikasi. Jadi, telinga adalah “raja” ketika itu, sehinnga pepatah “hearing is believing” adalah ciri khasnya. Komunikasi pada era itu hanya mendasarkan diri pada narasi, cerita, dongeng tuturan, dan sejenisnya. dan kemampuan visual manusia belum banyak diandalkan dalam komunikasi. Era primitif ini kemudian tergusur dengan ditemukannya alfabet atau huruf sebagai penanda dimulainya the “age of literacy”. Era kedua atau “The Age of Literacy” diukur saat orang mulai menemukan alfabet atau huruf, sehingga muncul perubahan dalam cara kita berkomunikasi.

Manusia berkomunikasi tidak lagi mengandalkan tuturan, tapi lebih kepada tulisan. Dengan demikian, indera penglihatan akhirnya menjadi dominan di era ini, mengalahkan indera pendengaran. Era ketiga atau “the Print Age” memandang mesin cetak sebagai faktor yang menjadikan tulisan bisa menjadi sumber inspirasi hingga belahan dunia lain. Mesin cetak mengubah wajah dunia sehingga kata kata menjadi sebuah kekuatan yang utama. Kehadiran mesin cetak, dan kemudian media cetak, menjadikan manusia lebih bebas lagi untuk berkomunikasi.

Era terakhir atau “the Electronic Age” memandang penemuan penemuan terkini semisal telegram, telepon, radio, film, televisi, VCR, fax, komputer, dan internet, sebagai faktor yang sangat menentukan. Manusia kemudian menjadi hidup di dalam apa yang disebut sebagai “global village”. Media massa pada era ini mampu membawa manusia mampu untuk bersentuhan dengan manusia yang lainnya, kapan saja, di mana saja, seketika itu juga.

McLuhan menekankan inti permasalahan pada term “teknologi”. Beragam “hi-tech innovation” dalam teknologi komunikasi dan informatika-lah yang sebetulnya telah mengubah wajah kebudayaan manusia. Jika Karl Marx, penulis “Das Kapital” menyebut bahwa “sejarah ditentukan oleh kekuatan produksi,” maka McLuhan lebih menyoroti pada perubahan mode komunikasi-lah yang mentransformasi bentuk eksistensi manusia.Bahkan, tidak terlihat lagi satu segi kehidupan manusia pun yang tidak bersinggungan dengan media massa. Mulai dari ruang keluarga, dapur, sekolah, kantor, pertemanan, bahkan agama, semuanya berkaitan dengan media massa. Hampir-hampir tidak pernah kita bisa membebaskan diri dari media massa dalam kehidupan kita sehari-hari.

Marshall McLuhan, menyatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Ini berarti saat ini manusia hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa, atau era media elektronik!! Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa saat ini kita berada pada era revolusi, yakni revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tersebut!

Sementara itu, cakupan dan proses globalisasi diidentifikasikan oleh Arjun Appadurai dalam 5 (lima) tipe saling keterkaitan global yakni Ethnoscapes, Financescapes, Ideoscapes, Mediascapes, dan Technoscpes. Dari paparan diatas makin dapat dipahami bahwa globalisasi merupakan suatu fase sejarah yang ingin menghilangkan batas ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang meliputi aspek ekonomi, komunikasi, politik, dan sosial.

McLuhan juga menyebutkan bahwa media massa adalah ekstensi atau perpanjangan dari inderawi manusia (extention of man). Media tidak hanya memperpanjang jangkauan kita terhadap suatu tempat, peristiwa, informasi, tapi juga menjadikan hidup kita lebih efisien. Lebih dari itu media juga membantu kita dalam menafsirkan tentang kehidupan kita. Pada bukunya yang berjudul “Medium is the message” dalam sudut pandang McLuhan, fungsi atau peran media itu sendiri lebih penting daripada isi pesan yang disampaikan oleh media tersebut.

Misalkan saja, mungkin isi tayangan di televisi memang penting atau menarik, akan tetapi sebenarnya kehadiran televisi di ruang keluarga tersebut menjadi jauh lebih penting lagi. Televisi, dengan kehadirannya saja sudah menjadi penting, bukan lagi tentang isi pesannnya. Kehadiran media massa telah lebih banyak mengubah kehidupan manusia, lebih dari apa isi pesan yang mereka sampaikan.

Dengan demikian, masalah yang nanti muncul berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi adalah manusia terlihat didominasi oleh teknologi komunikasi atau alat yang diciptakannya sendiri. Teknologi komunikasi menjadi tampak seperti mengontrol kita!! Sebagai contoh, betapa gelisahnya kita kalau sampai terlewat satu episode sinetron kesayangan yang biasanya kita tonton tiap hari. Atau mungkin kalau kita sudah lebih dari seminggu tidak mengupdate situs halaman facebook, twitter, atau menonton serial TV kesukaan kita di internet. Satu hari saja tidak mengikuti favorit tertentu membuat seakan akan kita telah jauh tertinggal banyaknya informasi di hari itu atau fear of missing update.

Kehadiran media massa, dan segala kemajuan teknologi komunikasi yang lainnya, seharusnya menjadikan kehidupan manusia lebih baik. Namun ketika yang terjadi justru sebaliknya, kita menjadi didominasi oleh media massa dan teknologi komunikasi yang semakin pesat tersebut, maka ini menjadi sebuah ironi.

Dengan kata lain, setiap penduduk di muka bumi ini adalah masyarakat dunia yang tidak lagi memiliki batas territorial. Karenanya, ia bebas melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. Hal ini setidaknya disebabkan oleh dampak langsung dari keberhasilan revolusi teknologi-komunikasi, setelah didahului oleh dua revolusi dalam kebudayaan manusia, yaitu revolusi pertanian dan revolusi industri.

Namun demikian, revolusi ini tidak berlaku secara merata di seluruh dunia. Karena itu, tingkat kemajuan suatu bangsa tidak sama. paling tidak, negara-negara Barat adalah lebih dahulu melewati fase revolusi pertanian dan industri yang karenanya menyebabkan mereka terdepan dalam era globalisasi. Oleh karena itu, maka yang terbayang dalam benak kita adalah westernisasi atau bahkan Amerikanisasi. (Ferry Ismawan)

Ilustrasi : Fatman.fi


Bagikan Artikel
Continue Reading

Telerasi

Hari Ini, 18 Mei dan Catatan Peristiwa Dunia Yang Telah Terjadi

Published

on



Terjadi beragam peristiwa penting dan bersejarah yang patut dikenang dari tahun ke tahun pada hari ke-138 hari ke-139 dalam tahun kabisat dalam sistem kalender Gregorian, 18 Mei. Dihimpun dari Thepeoplehistory.com dan Wikipedia.org, berikut ini Telegraf merangkum beragam peristiwa itu dalam catatan peristiwa dunia hari ini, 18 Mei:

1803
Inggris membatalkan perjanjian damai dengan Prancis yang disebut dengan Perjanjian Amiens sekaligus menyatakan perang terhadap Prancis. Peristiwa itu memicu Perang Era Napoleon yang melibatkan beberapa nagara lainnya di Eropa.

1804
Napoleon Bonaparte naik takhta menjadi kaisar di Prancis. Selama menjadi kaisar, Napoleon memiliki pengaruh besar terhadap persoalan-persoalan di Eropa selama lebih dari satu dekade, terutama dalam Perang Era Napoleon.

1896
Penobatan Nicholas II sebagai Tsar Rusia diwarnai kericuhan karena ramainya warga yang berdesakan untuk menonton penobatan Nicholas II di Lapangan Khodynka, Moskow. Peristiwa itu menewaskan 1.389 orang dan lantas dikenang dengan nama Tragedi Khodynka.

1940
Setelah berhasil menguasai Kota Brussels, Jerman terus berusaha menguasai semua kawasan di Belgia dengan menyerang Kota Antwerp. Presiden Amerika Serikat (AS) Franklin D. Roosevelt meminta produsen pesawat tempur di negaranya untuk meningkatkan produksi demi menghentikan keganasan Jerman dalam Perang Dunia II.

1974
India berhasil melaksanakan uji coba bom nuklir untuk kali pertama. Kebershasilan itu menjadikan India sebagai negara keenam yang memiliki kekuatan nuklir setelah Amerika Serikat (AS), Uni Soviet, Inggris, Tiongkok, dan Prancis.

1980
Gunung Saint Helens di Washington, Amerika Serikat (AS) meletus dan memuntahkan lava setinggi 1.300 kaki dari mulut kawah. Peristiwa itu menewaskan sembilan orang dan 48 lainnya hilang. Letusan Gunung Saint Hellen juga menyebabkan hujan abu tebal di kawasan Washington yang menyebabkan beberapa kawasan di negara bagian tersebut tak terkena sinar matahari.

1981
Mahamadou Diarra lahir di Bamako, Mali. Ia lantas dikenal luas sebagai pemain sepak bola yang pernah membela klub besar di Spanyol, Real Madrid, selama lima tahun. Setelah kontraknya di klub Inggris, Fulham, habis pada 2013 lalu, Diarra belum lagi mendapatkan klub meski ia belum menyatakan gantung sepatu.

1991
Astronot wanita asal Inggris, Helen Sharman, meluncur ke luar angkasa menggunakan pesawat ulang-alik milik Uni Soviet, Soyuz TM-12. Terbangnya Sharman itu sekaligus menjadikan dirinya sebagai orang pertama asal Inggris yang berhasil mencapai luar angkasa.

1998
Pada ujung dari rangkaian demonstrasi besar-besaran di Indoensia, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berhasil menerobos masuk ke Gedung DPR/MPR di Jakarta. Hal tersebut adalah kali pertama mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR.

2006
Perdana Menteri Italia yang baru terpilih, Romano Prodi, mencela keterlibatan pasukan Italia dalam perang di Irak. Selain itu, Prodi juga menyatakan segera menarik pasukannya dalam perang di Irak yang sudah melibatkan Italia sejak 2003.


Bagikan Artikel
Continue Reading

Lainnya Dari Telegraf

close