Dari “Aek Kapuas” Sampai “Bengawan Solo” Lagu-Lagu yang Terinspirasi

Dari “Aek Kapuas” Sampai “Bengawan Solo”

Berikut ini Lagu-Lagu yang Terinspirasi dari Sungai di Indonesia

Dari “Aek Kapuas” Sampai “Bengawan Solo”


Telegraf – Hari Sungai Nasional diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 27 Juli. Peringatan ini bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar lebih peduli terhadap sungai yang sedari dulu menjadi sumber penghidupan penduduk di sekitarnya.

Tak hanya itu, sungai juga menjadi sumber inspirasi bagi para musisi. Sederet lagu terlahir dari keindahan sungai-sungai di Indonesia. Memaknai lagu-lagu tersebut bisa menginspirasi kita untuk semakin mencintai sungai.

Lagu daerah dari Kalimantan termasuk termasuk paling banyak terinspirasi dari sungai karena pulau ini memang banyak dialiri sungai. Sebut saja lagu berjudul “Aek Kapuas” ciptaan Paul Putra Frederick dam Yan G. Lagu ini menceritakan pesona Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Penggalan liriknya yang berbahasa Melayu berikut ini memperlihatkan bahwa keindahan sungai Kapuas begitu sulit terlupakan. Konon, orang yang meminum air dari sungai kapuas tidak akan bisa melupakan daerah Kalbar.

“Sungai Kapuas punye cerite… Bile kite minom aeknye… Biar pon pegi jaoh kemane… Sunggoh susah nak ngelupakkannye.”

“Aek Kapuas” juga menceritakan tentang sejarah Sungai Kapuas. Dalam penggalan selanjutnya tertulis bahwa dahulu sekeliling sungai itu dipenuhi hutan rimbun. Namun seiring berjalannya waktu, daerah itu berkembang menjadi kota yang terkenal, yakni Pontianak.

Sungai sepanjang 1.143 km yang tercatat sebagai sungai terpanjang di Indonesia tersebut memainkan peran penting bagi kehidupan penduduk, terutama bagi peradaban suku Dayak.

Mengalir dari Pegunungan Muller hingga ke Selat Karimata, sungai ini menjadi penghubung antar daerah. Kekayaan sumber daya airnya juga menjadi mata pencaharian para nelayan di sekitar sungai.

Sungai lain di Kalimantan yang melahirkan tembang adalah Sungai Mahakam. Sungai kedua terpanjang di Indonesia ini menjadi inspirasi lagu daerah “Balarut di Sungai Mahakam” karya Drs. Djuriansyah dan “Sungai Mahakam” ciptaan Drs. Roesdibyono.

Lirik pada kedua lagu tersebut sama-sama menggambarkan keelokan juga histori dari sungai yang mengalir sepanjang 920 km di Kalimantan Timur ini. Pada lagu “Balarut di Sungai Mahakam”, misalnya, terdapat lirik berbunyi:

“Sungai Mahakam… memecah buih… basinar putih… diayun angina puhun rumbia…”

Nama “Mahakam” sendiri diketahui berasal dari bahasa Sanskerta, yakni kata “maha” yang berarti tinggi atau besar dan “kama” yang berarti cinta. Jadi, makna kata “mahakama” dapat diterjemahkan sebagai cinta yang sangat besar atau agung.

Sementara itu, lagu “Sungai Mahakam” juga menceritakan manfaat sungai ini sebagai jalur lintas perahu perahu yang membawa masyarakat sekitar menyebrang atau pun singgah di suatu tempat.

Kapal-kapal dari hulu sungai mahakam sering membawa hasil kekayaan daerah Kaltim seperti batu bara dan kayu. Bahkan, pemanfaatan sungai untuk transportasi kapal pembawa batu bara sudah dilakukan sejak tahun 1888 oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.

Sungai yang bermuara di Selat Makassar itu juga menopang kebutuhan air bagi kurang lebih 3 juta penduduk di Kota Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat. Melalui pengolahan oleh PDAM, penduduk kota bisa menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Apalagi, Sungai Mahakam juga menjadi habitat bagi hewan air yang kini telah langka keberadaannya, yaitu Pesut Mahakam. Selain itu, lumba-lumba air tawar juga bermukim di sungai ini.

Tak hanya menginspirasi pemusik daerah. Aliran sungai juga membanjiri para musisi nasional dengan kreatifitas. Pada era 1960-an, Alfian Rusdi Nasution mempopulerkan lagu berjudul “Sebiduk di Sungai Musi”.

Single tersebut sempat menjadi hits pada eranya, mengisahkan tentang cinta yang berawal dari Sungai Musi dengan sepenggal lirik syahdu seperti berikut ini:

“Terpesona aku melihat wajahnya… Tatkala aku duduk di dekatnya… Sebiduk seiring kali menyeb’rang… Berperahu ke seb’rang sungai Musi.”

Lalu, jauh ke belakang saat penjajahan Jepang, lagu “Bengawan Solo” ciptaan Gesang sang maestro keroncong Nusantara, berhasil memikat pecinta musik dalam negeri hingga daratan Asia setelah tentara Jepang ikutan mempopulerkannya.

Hingga kini, musisi luar negeri masih sering menembangkan lagu ini dengan beragam sentuhan musikalitas lain. Lisa Ono, merupakan salah satu penyanyi asal Jepang pernah membawakan lagu ini, yang videonya masih bisa diakses via Youtube.

Komponis musik kerakyatan, Sutanto Mendut pernah berujar bahwa “Bengawan Solo” ialah salah satu karya Gesang yang menunjukkan melodi dan syair yang relatif sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.

“Bengawan Solo itu berbicara tentang perasaan-perasaan Solo, geografi Solo, sejarah Solo, lingkungannya, tentang dia sendiri yang orang Solo. Beliau melihat dirinya berhadapan dengan sejarah dan mencatat apa yang terjadi, mewakili lingkungannya,” kata Sutanto.

Namun sekarang, nasib sungai terpanjang di Pulau Jawa ini cukup tragis. Bengawan Solo tercemar parah, yang terlihat kian mencolok pada musim kemarau. Airnya tak layak jadi bahan baku air, warnanya berubah merah pekat akibat mengandung logam berat.

Dampak pencemaran akibat limbah tersebut di antaranya gangguan pasokan air bagi 24.000 pelanggan dua perusahaan air minum di Surakarta dan Blora, Jawa Tengah. Habitat sungai pun rusak, ikan-ikan mati terpapar limbah.

Dari identifikasi Pemprov Jawa Tengah dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, limbah cair berasal dari industri tekstil, alkohol (ciu), dan peternakan babi baik skala kecil atau besar. Bentuknya berupa limbah cair dan padat.

Pada 2018, riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menunjukkan ada tumpukan sampah popok yang dibuang di Bengawan Solo, tepatnya di Jembatan Gawan, Sidoharjo, Sragen. Lebih dari 1.500 popok ditemukan.

Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan sampah popok tergolong residu yang tak bisa diolah dan dimanfaatkan lagi. Sampah ini seharusnya ditempatkan di sanitary landfill TPA.

Oleh karena itu, momen Hari Sungai Nasional sepatutnya menjadi waktu bagi kita berpikir sejenak, sambil meresapi lagu-lagu tentang sungai-sungai indah di Indonesia.

Semoga kita tergerak untuk bisa mencintai sungai yang merupakan penopang kehidupan makhluk hidup, salah satunya dengan cara tidak membuang sampah ke sungai. (Mela)


Photo credit : Aek Kapuas doc gencil.news


 

KBI Telegraf

close