SBY Ikut Kecam Kartun Nabi Atas Dalih Kebebasan

"Dengan cara itu saya yakin akan lebih terbangun sikap saling hormat menghormati dan saling bertoleransi, sehingga benturan antar keyakinan dan identitas tidak makin menjadi-jadi,"

SBY Ikut Kecam Kartun Nabi Atas Dalih Kebebasan

Telegraf – Polemik pembuatan kartun Nabi Muhammad SAW yang di lakukan di Perancis sampai hari ini masih menuai protes dan kecaman dari berbagai belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang juga mengkritisi hal tersebut.

“Di sinilah saatnya saya harus berkata langsung. Hentikanlah membuat karikatur Nabi Muhammad. Sekali lagi, hentikanlah. Tindakan itu sangat melukai, menghina, melecehkan dan bahkan menantang umat Islam di seluruh dunia,” tegas Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam keterangan tertulisnya.

Ia menilai, bahwa pemimpin negara harus bisa menjembatani terkait dengan adanya masalah dan polemik ini.

“Ini sungguh serius. Saya tidak mendramatisasi dan melebih-lebihkan. Saya mengerti teori Huntington tentang clash of civilization dan pandangan Dominique Moisi tentang geopolitics of emotion, yang menggambarkan adanya masalah yang fundamental dalam hubungan dunia Barat dan dunia Islam. Justru di sinilah saya berpikir dan berpendapat, perlunya membangun jembatan atau dialog antara Islam dan Barat, agar satu sama lain saling memahami,” jelasnya.

Dengan demikian menurutnya, akan terbangun rasa hormat di antara dua kebudayaan yang berbeda itu.

“Dengan cara itu saya yakin akan lebih terbangun sikap saling hormat menghormati dan saling bertoleransi, sehingga benturan antar keyakinan dan identitas tidak makin menjadi-jadi,” tambahnya.

Selain itu, ia juga berharap tidak ada pihak-pihak tertentu yang melakukan proviokasi.

“Konkretnya, sekali lagi, hentikanlah menggambar karikatur tokoh yang sangat dihormati oleh umat Islam itu, Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.

Sedangkan terkait Perancis yang telah menyatakan memberikan kebebasan terhadap pembuatan gambar sebagai bentuk pesan, menurutnynya hal tersebut juga tidak dijadikan dalih untuk menggambar Nabi Muhammad.

“Janganlah karikatur Nabi Muhammad justru dijadikan contoh pembenar bagi mutlaknya kebebasan. Sebaliknya, yang bijak dan mendidik adalah bila mengatakan seperti ini. ‘meskipun kebebasan itu hak yang asasi bagi setiap manusia, namun tak berarti tidak ada batasnya. Contohnya, janganlah kita membuat karikatur Nabi Muhammad karena itu akan sangat melukai umat Islam’. Mestinya begitu yang harus disampaikan, dan bukan sebaliknya,” pungkasnya.

Sebelumnya, presiden Perancis Emmanuel Macron secara terbuka dirinya memberikan kebebasan hak masyarakat yang menyampaikan pesan melalui tulisan dan gambar di negaranya.

“Saya akan selalu membela kebebasan untuk berbicara, menulis, berpikir, menggambar di negara saya ,” tegasnya, dalam sebuah sesi wawancara dengan Al Jazeera.

Selain itu, Macron juga mengecam apa yang dia gambarkan sebagai “distorsi” dari para pemimpin politik, dengan mengatakan bahwa orang sering dituntun untuk percaya bahwa karikatur adalah ciptaan negara Prancis.

“Saya pikir reaksi itu datang sebagai akibat dari kebohongan dan distorsi kata-kata saya karena orang-orang mengerti bahwa saya mendukung kartun ini. Karikatur itu bukan proyek pemerintah, tapi muncul dari surat kabar bebas dan independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah,” ungkapnya.


Photo Credit: Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pada saat memberikan pernyataan pers. ANTARA/Widodo S. Jusuf

 

Edo W.