Say I love U” Diangkatnya Kisah Hidup Anak-anak Marjinal Dalam Mengapai Mimpi

Yang saya takutkan keriaan ini, karena tipis batasnya antara kita ingin mengispirasi dengan ria takabur dan sombong,

Say I love U” Diangkatnya Kisah Hidup Anak-anak Marjinal Dalam Mengapai Mimpi

Telegraf, Jakarta – Sekolah Menengah Atas Pagi Indonesia (SMA SPI) terkenal dengan sekolah gratis untuk kaum marginal, Julianto Eka Putra pendiri Sekolah tersebut tidak pernah berangan angan atau bermimpi sekolahnya akan diangkat ke layar lebar.

“Yang saya takutkan keriaan ini, karena tipis batasnya antara kita ingin mengispirasi dengan ria takabur dan sombong,” ungkapnya dalam jumpa pers dan peluncuran soundtrack Say I love you di Jakarta.

Ka Ju pangilan akrab Julianto sangat yakin salah satu upaya mengurangi jumlah anak putus sekolah di Indonesia adalah dengan mendirikan sekolah gratis yang lulusannya nanti siap kerja.

Dengan tekat itulah Ka Ju mendirikan sekolah SMA SPI hingga saat ini yang sudah mencapai 12 tahun. Dengan anak didik sekitar 250 dari kelas 1 hingga jenjang perkulihaan.

Ka Ju menceritakan karena yang sekolah dari kalangan marginal kesenjangan antar siswa sangat terasa. Mereka hadir dari berbagai masalah bawaan mulai dari gangguan fisik karena mendeita malnutrisi sejak kecil hingga masalah psikoligis seperti rendah diri yang akut, dan banyak juga anak anak yang kecanduan alkohol oplosan serta berbagai luka batin.

“Saya ingin mengajak mereka mengubah nasib dengan membangun motifasi dan kemauan. SPI awal berdiri hanya terdiri dari 30 anak yang berasal dari Sumatra hingga Papua yang berbeda karakter dan kelebihan serta memendam duka dan luka yang berbeda beda, kami belajar bersama sama, saling menerima keadaan, saling menyembuhkan dan berjuang bersama mencapai tujuan bersama,” kenang Ka Ju.

PT Harmoni Dinamika Indonesia (HDI) perusahaan sosial network marketing dan sekaligus Ja Ju sebagai Top Leader di perusahaan tersebut memberikan suport dalam produksi film tersebut.

CEO HDI Brandon Chia mengatan kebetulan HDI mempunyai misi yang sama yaitu ingin membantu mengentaskan kemiskinan untuk masyarakat kalangan tidak mampu.

“Karena untuk memutus kemiskinan itu dimulai dari pendidikan, terutama orang orang yang berada pada kalangan tidak mampu, dan kami bangga bisa suport dan berusaha untuk mewujudkan mimpi tersebut,” kata Brandon.

Branden menambahakan berawal membeli lahan 4 hektar untuk membangun prasarana dalam menunjang pendidikan di sekolah tersebut.

Untuk diketahui pendidikan di SMA SPI ini adalah menitik beratkan pada skile untuk bisa mandiri. Hingga saat ini sudah memiliki 20 devisi usaha yang di kelola oleh para murid dan alumni Sekolah SPI.

Salah satu inspirasi yang diangkat dalam film tersebut adalah seorang anak muda yang berlatar belakang buruk karena kondisi perekonomian keluarganya membuat ia ( Robert) seseorang anak penjual cilok yang dibenaknya ia hidup hanya akn mewarisi pekerjaan ayahnya.

Sehingga ia melakukan hal hal buruk seperti mabuk mabukan yang akhirnya orangtuanya menitipkan di SPI. Kebiasaan buruk yang dilakukan rober terbawa di sekolah SPI hingga disuatu masa ia akan dikeluarkan dari sekolah. Sejak itu Robert berubah dan ternyata didiri robert ada bakat di mutimedia.

Untuk mengetahui kelanjutan cerita bisa di lihat dalam film “Say I love You” yang akan tayang pada 4 Juli mendatang. (Red)


Credit photo : Ka Ju berkaos merah pendiri SMA SPI malang/telegraf


Bagikan Artikel



Komentar Anda