Pergantian Tahun, Okupansi Perhotelan DIY Diprediksi Naik 15 Persen

”Okupansi perhotelan di kawasan Ring I dan Ring II di DIY rata-rata sudah hampir mendekati 100 persen, bahkan ada yang sampai menolak tamu jelang pergantian tahun ini. Sedangkan tingkat hunian secara umum untuk hotel bintang di DIY rata-rata mencapai 65 persen dan hotel non bintang rata-rata mencapai 40 persen atau mengalami kenaikan hingga 15 persen,”

Pergantian Tahun, Okupansi Perhotelan DIY Diprediksi Naik 15 Persen

Telegraf, Jakarta – Animo pengunjung ataupun wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk menghabiskan malam pergantian tahun di DIY cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tingkat hunian kamar hotel baik bintang dan non bintang sebesar 15 persen, meskipun hotel pada saat peak season ini mengenakan biaya tambahan atau surcharge mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 1 juta.

”Okupansi perhotelan di kawasan Ring I dan Ring II di DIY rata-rata sudah hampir mendekati 100 persen, bahkan ada yang sampai menolak tamu jelang pergantian tahun ini. Sedangkan tingkat hunian secara umum untuk hotel bintang di DIY rata-rata mencapai 65 persen dan hotel non bintang rata-rata mencapai 40 persen atau mengalami kenaikan hingga 15 persen,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istijab M Danunegaro, Jumat (30/12/2016).

Istijab mengungkapkan, okupansi perhotelan DIY pada libur akhir pekan Natal 2016 lalu mengalami kenaikan sekitar 80 sampai 90 persen. Tidak berbeda dengan liburan Natal, liburan Tahun Baru 2017 nantinya tingkat hunian hotel di DIY akan lebih bagus karena wisatawan sudah mengetahui ketersediaan kamar di DIY cukup melimpah.

“Selama peak season ini, tamu akan dikenakan biaya tambahan mulai Rp 100.000 sampai Rp 1.000.000 untuk mengejar target akhir tahun 2016. Belum lagi hotel tidak akan mengeluarkan diskon, justru membuat program yang mengharuskan tamu membayar deposit terlebih dahulu, menginap minimal dua malam atau program pesta tahun baru dan sebagainya,” ujar Istijab.

Menurut mantan General Manager Grand Quality Hotel Yogyakarta ini, biaya tambahan selama peak season ini merupakan kesempatan bagi pihak hotel untuk mendongkrak penghasilannya sebelum tutup buku. Surcharge biasanya dikenakan mulai H-2 sampai H+3 tahun baru nantinya sesuai dengan kebijakan masing-masing hotel tersebut.

PHRI DIY menegaskan meskipun okupansi tinggi karena permintaan pengunjung mengalami kenaikan yang cukup signifikan, pihaknya meminta perhotelan tetap menjaga kualitas dan pelayanan kepada tamu. Jangan sampai ada perang tarif atau tarif yang tidak sehat dan mengenakan biaya tambahan dengan sewajarnya supaya tidak aji mumpung dan membuat wisatawan terkesan sehingga tidak kapok menginap di DIY. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


Tanggapi Artikel