Becak Masuk Jakarta Lagi, Sebagian Warga Menolak Kehadirannya

"Jelas tidak setuju. Karena becak itu kadang semaunya, rata-rata mereka kan tidak berpendidikan, jadi pemahamannya lain. Meski sudah dibuat aturan, nanti pasti mereka melanggar juga. Malah kadang galakan tukang becak, waktu itu motor saya pernah ditabrak, sudah jelas yang salah dia malah dia yang lebih marah dari saya,"

Becak Masuk Jakarta Lagi, Sebagian Warga Menolak Kehadirannya


Telegraf, Jakarta – Sejumlah warga di daerah Penjaringan, Jakarta tidak setuju dengan rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk kembali melegalkan pengoperasian becak di kawasan Jakarta.

“Jelas tidak setuju. Karena becak itu kadang semaunya, rata-rata mereka kan tidak berpendidikan, jadi pemahamannya lain. Meski sudah dibuat aturan, nanti pasti mereka melanggar juga. Malah kadang galakan tukang becak, waktu itu motor saya pernah ditabrak, sudah jelas yang salah dia malah dia yang lebih marah dari saya,” kata seorang penjual barang bekas Amin kepada Antara di Jakarta, Selasa, (23/01/2018).

Amin berpendapat, wacana kebijakan yang dibuat Anies tersebut semata-mata hanya membela sekelompok orang karena kontrak politiknya.

“Sudah terbaca itu karena politik. Kalau masyarakat bilang tidak setuju, belum tentu didengar juga sama Anies kan, otomatis masyarakat pun ikut saja dengan kebijakan itu, kita enggak bisa apa-apa,” ujar Amin.

Selain itu, warga lainnya Hotlas Mora menilai pengoperasian becak kembali sangat tidak manusiawi. Pasalnya becak itu digerakkan dengan tenaga manusia.

“Sekarang bukan zamannya lagi becak. Kalau saya tidak setuju dengan ide tersebut. Karena seperti balik lagi ke zaman kolonial. Becak kan digerakkan dengan tenaga manusia, kasihan juga sama tukang becak yang sudah tua,” kata Hotlas.

Hotlas berpendapat lebih baik Anies memberikan pekerjaan lain untuk para tukang becak daripada harus mengoperasikan lagi becak, terutama dengan alasan untuk wisata.

“Menurut saya, lebih baik para tukang becak diberi pekerjaan lain, misal tukang sapu jalan atau lainnya. Karena penghasilan becak sendiri berapa? apa penghasilannya cukup dengan biaya hidup sekarang ini?” tutur Hotlas.

Sementara itu, seorang pedagang buah Kiko juga kurang setuju dengan rencana itu. Dia menilai dengan beroperasinya lagi becak hanya akan menimbulkan kemacetan dan menambah semrawut jalan.

“Kurang setuju, karena nanti akan membuat jalan macet. Bukan hanya akibat becak yang melaju di jalanan, tapi juga jalan pasti akan sempit karena banyaknya becak yang mangkal,” kata Kiko.

Kiko berharap bila memang keputusan pengoperasian di kawasan Jakarta tetap terlaksana, jangan diadakan becak terlalu banyak.

“Kalau memang tetap dilaksanakan kebijakan itu, harapan saya becak jangan terlalu banyak, sudah yang ada saja jangan ditambah. Kalau pun dioperasikan di kampung-kampung, harus jelas yang dimaksud jalan perkampungan seperti apa? Apakah bisa dipastikan tidak akan melaju di jalan raya sementara aksesibilitas ke lokasi bisa jadi mengharuskan melalui jalan raya,” tutur Kiko. (Red)

Photo Credit : Antara/Aprilio Akbar


KBI Telegraf

close