Connect with us

Politika

Dewan Pakar PA GMNI Usulkan Utusan Golongan dan Daerah Kembali Jadi Bagian MPR RI

Published

on

Ketua Dewan Pakar Nasional PA GMNI Ahmad Basarah yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan bersama Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat usai mengisi acara "Quo Vadis Pembangunan Nasional Bangsa Indonesia''. TELEGRAF/Koes W. Widjojo
Ketua Dewan Pakar Nasional PA GMNI Ahmad Basarah yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan bersama Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat usai mengisi acara "Quo Vadis Pembangunan Nasional Bangsa Indonesia''. TELEGRAF/Koes W. Widjojo

Telegraf – Ketua Dewan Pakar Nasional PA GMNI Ahmad Basarah menilai sudah saatnya posisi Utusan Golongan dan Utusan Daerah dikembalikan sebagai bagian dari keanggotaan MPR RI. Alasannya, MPR seharusnya bersifat terbuka, mengayomi, dan diisi oleh elemen masyarakat yang jadi miniatur wajah multikulturalisme Indonesia. Hal ini disampaikannya saat membuka acara Temu Tokoh Nasional/Kepemudaan/Keagamaan/Civitas Akademik MPR RI yang bekerjasama dengan Dewan Pakar Nasional PA GMNI’ dengan tema “Quo Vadis Pembangunan Nasional Bangsa Indonesia”

Dalam penjelasannya, Ahmad Basarah mengatakan sejak amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dilakukan di era awal reformasi, keanggotaan Utusan Daerah dan Utusan Golongan dihapuskan dari MPR RI.

“Tapi, saat itu gagasan penghapusan Utusan Golongan tidak sepenuhnya didasari argumentasi yang jelas, bahkan cenderung kabur. Kehadiran lembaga yang mewakili daerah seperti DPD juga belum bisa memenuhi keterwakilan golongan masyarakat yang tidak berdaya dalam menghadapi sistem politik Pemilu,” kata Basarah di Gedung DPR MPR, Senayan, Jumat (16/09/2022).

Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini menuturkan organisasi masyarakat sebesar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah atau organisasi keagamaan lainnya, seperti Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Walubi, dan Kelompok Masyarakat Adat serta TNI/Polri tidak terwakili lagi di MPR.

Dalam sejumlah dialog baik formal maupun informal yang dilakukan oleh Badan Kajian MPR terungkap usul agar keanggotaan Utusan Golongan dan Utusan Daerah dikembalikan ke MPR RI dengan alasan sistem politik yang ada sekarang belum mewakili keberadaan mereka.

Basarah juga mengatakan keberadaan Utusan Golongan dan Utusan Daerah menjadi sangat penting untuk merawat memori kolektif bangsa terkait peran dari golongan masyarakat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia menilai peran dan kontribusi golongan-golongan masyarakat itu sangat terasa dalam proses kemerdekaan Indonesia.

”Di awal gerakan kemerdekaan sampai bangsa Indonesia merdeka sekarang, bangsa dan negara ini tidak dapat dilepaskan dari peran golongan masyarakat yang saat itu berkumpul dan bersepakat untuk mendirikan bangsa Indonesia. Memori bangsa tentang sejarah yang fundamental ini harus kita rawat, jangan sampai bangsa ini melupakan sejarah negeri mereka sendiri,” tuturnya.

Dia menambahkan, di awal kemerdekaan, keberadaan Utusan Daerah dan Utusan Golongan ini hampir selalu diakomodasi oleh Bung Karno sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Usai mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1959 pada 22 Juli 1959, yang antara lain membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang keanggotaannya terdiri atas DPR Gotong Royong ditambah Utusan Daerah dan Utusan Golongan.

Menurutnya, keberadaan Utusan Golongan dan Utusan Daerah memang dilanjutkan oleh pemerintahan Orde Baru, namun di dalamnya dimasukkan kepentingan politik rezim saat itu.

Pasca reformasi, keberadaan kedua golongan itu ditiadakan sama sekali seperti tertuang dalam Pasal 2 Ayat (1) UUD 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang.

“Saya sadar, ide memasukkan kembali Utusan Golongan dan Utusan Daerah ini mungkin akan memunculkan perdebatan terkait bagaimana perubahan ketatanegaraan, atau apa beda antara DPD dan utusan daerah, kemudian siapa yang pantas masuk dalam kriteria Utusan Golongan,” tegasnya.

“Tapi, demi menjaga multikulturalisme Indonesia, di situlah pentingnya ide ini saya sampaikan agar muncul diskusi-diskusi kebangsaan yang menarik, yang memunculkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan,” lanjutnya.

Tampil sebagai pembicara dalam acara temu tokoh yang digagas Dewan Pakar Nasional PA GMNI ini antara lain, Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arief Budimanta.

Hadir juga Anggota Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI, Satya Arinanto dan Dekan FH Universitas Jember sekaligus Sekjen APHTN-HAN, Bayu Dwi Anggono. Sebelumnya kata sambutan juga disampaikan oleh Ketua Umum DPP PA GMNI sekaligus Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Advertisement
Click to comment

Politika

Jadi Partai Paling Populer Bagi Anak Muda, Ini Rahasia Golkar

Published

on

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. JP/Wendra Ajistyatama
Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. JP/Wendra Ajistyatama

Telegraf – Survei CSIS menyebutkan Partai Golkar populer di kalangan pemilih muda. Golkar meraih popularitas sebesar 94 persen di kalangan pemilih muda atau paling tinggi di antara partai-partai lainnya.

Pengamat politik Ujang Komarudin menilai tingginya popularitas partai Golkar di kalangan pemilih muda merupakan hal yang wajar. Hal ini karena Partai Golkar telah membangun kedekatan dengan pemilih muda sejak lama.

Apalagi, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto dekat dengan kaum muda. Apalagi, partai berlambang beringin itu mempunyai anggota dewan dari kalangan milenial.

“Mereka (Golkar) ada program terencana untuk bisa mendekati kalangan milenial dan generasi Z. Sudah lama dan program sudah jalan. Sudah ada anggota DPR yang milenial. Itu menjadi amunisi untuk menjadi contoh teladan dan mendekati anak milenial,“ kata Ujang, Selasa (27/09/2022).

“Hasil survei CSIS tidak berdiri sendiri. Hasil survei yang menempatkan Partai Golkar populer di kalangan pemilih muda karena usaha dan kerja keras Airlangga Hartarto bersama para kader dan pengurus Golkar mendekati kalangan muda,” jelasnya.

“Itu atas usaha dan kerja keras semua pengurus dan anggota Golkar untuk mendekati kalangan muda, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, ketua umumnya, mengurus kartu prakerja, kan itu banyak dibutuhkan milenial. Mungkin itu juga dampaknya ada, dan kesukaan di kalangan anak anak milenial,” imbuhnya.

Dengan adanya wakil rakyat dari kalangan muda juga ketua umum yang dekat dengan kaum muda, Ujang menilai Golkar tinggal mewujudkan aspirasi pemilih muda.

“Saya melihat bahwa karakter pemilih muda, butuh pemimpin yang muda, cerdas, dan bisa memberikan harapan kepada mereka, termasuk memberi harapan seperti biaya pendidikan yang murah, beasiswa, pekerjaan, itu isu-isu yang penting bagi mereka,” bebernya.

Sementara itu, Ketua DPP Golkar Dave Akbarshah Fikarno Laksono mengungkapkan hasil survei CSIS menggambarkan kepekaan Golkar terhadap generasi muda.

“Ini menunjukan bahwa Golkar sangat peka terhadap kebutuhan dan pandangan pikiran generasi muda Indonesia,” katanya.

Menurutnya, popularitas dan kesukaan generasi muda terhadap Golkar harus disertai dengan kebijakan partai yang mampu menjawab kebutuhan dan menepis kekhawatiran generasi muda.

Dave mengungkapkan semangat itu diusung Airlangga Hartarto yang juga menjabat sebagai Menko Perekonomian. Lahirnya program kartu prakerja juga merupakan buah dari semangat tersebut.

“Pak Airlangga ini selaku Menko Perekonomian sudah selalu menjawab tentang kebutuhan generasi muda, baik itu kartu prakerja, UU Cipta Kerja itu merupakan (jawaban) dari kekhawatiran generasi muda tentang masa depan,” ungkapnya.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Continue Reading

Politika

Survei CSIS: PDIP Kalah Populer Dari Golkar di Segmen Pemilih Muda

Published

on

Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu

Telegraf – Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menempatkan Golkar menjadi partai terpopuler bagi kalangan pemilih muda pada Pemilu 2024. Golkar meraih dukungan 94 persen mengalahkan PDIP, Gerindra dan Demokrat. Tak terkecuali NasDem dan Perindo.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes menyebutkan, PDIP mendapatkan dukungan sebesar 93,5 persen bagi pemilih muda. Sedangkan Gerindra sebesar 92,7 persen dan Demokrat sebesar 91,6 persen.

“Relatif pengenalan terhadap partai kita sudah cukup tinggi dengan jarak antar 4 partai berjaraknya tipis-tipis aja nih. Golkar, PDIP, Gerindra, kemudian Demokrat tipis-tipis tapi sudah lewat di atas angka 90 persen. Baru kemudian NasDem, Perindo,” kata Arya saat rilis survei CSIS, Senin (26/09/2022).

Menurut Arya, tingkat pengenalan responden terhadap partai sudah cukup tinggi. Golkar yang dipimpin ketum Airlangga Hartarto mampu merebut hati pemilih muda. Namun dalam hal kesukaan, Golkar hanya mendapatkan dukungan 75,9 persen atau di bawah Demokrat (82,0 persen), dan Gerindra (79,0 persen). Sementara, tingkat kesukaan pemilih muda terhadap PDIP hanya sekitar 68,2 persen.

Survei digelar pada 8-13 Agustus 2022 dengan menyasar responden berusia 17-39 tahun. Total 1.200 responden dalam survei diasumsikan sebagai pemilih muda karena sudah memiliki hak pilih.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kominfo Nurul Arifin mengaku mengapresiasi hasil survei CSIS yang menunjukkan partai beringin masih populer di kalangan pemilih muda. Padahal, Golkar merupakan partai tertua di Tanah Air.

“Saya pribadi mengepreasi hasil survei ini. Ternyata Golkar sebagai partai tertua di Tanah Air, hingga kini masih relate dengan anak muda atau pemilih muda,” kata Nurul Arifin.

Nurul menegaskan, hasil survei CSIS ini menunjukkan apa yang diperjuangkan Golkar selama ini bisa diterima kalangan pemilih muda. Kondisi ini sesuai dengan hasil perolehan Golkar di Pilkada 2020 lalu. Yakni, Golkar menjadi penyumbang kader muda terbanyak dengan 60 kader muda yang didorong di Pilkada 2020.

“Bahkan, 25 diantaranya berhasil lolos atau menang di Pilkada, baik menjadi kepala daerah maupun wakil kepala daerah,” ungkapnya.

Selain itu, Golkar juga berhasil menjadi penyumbang tiga kader muda yang duduk di parlemen Senayan, dari 10 wakil rakyat termuda. Mereka, yakni, Puteri Komarudin, Dyah Roro Esti, dan Adrian Jopie Paruntu, yang saat terpilih masih berusia di bawah 27 tahun.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Continue Reading

Politika

CSIS Sebut Elektabilitas Ganjar Kalah Dari Anies, Ini Alasannya

Published

on

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. ANTARA/M Agung Rajasa
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. ANTARA/M Agung Rajasa

Telegraf – Center of Strategic and International Centre (CSIS) merilis hasil survei terbaru terkait tingkat keterpilihan (elektabilitas) bakal calon presiden (capres) yang digadang-gadang bakal berkontestasi pada Pilpres 2024 mendatang. Hasilnya, Gubernur DKI Anies Baswedan tidak terkalahkan (47%) mengalahkan Ganjar Pranowo (43,9%). Apabila kedua figur diadu secara head to head, Ganjar bisa kalah lantaran tidak mendapatkan limpahan suara dari pendukung capres lain.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes mengakui Ganjar unggul dalam beberapa simulasi, namun tak mampu membenamkan potensi Anies. Dalam survei yang dilaksanakan dengan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden berusia 17-39 tahun di 34 provinsi selama 8-13 Agustus 2022, elektabilitas Anies mengalahkan Ganjar yang hanya mendapat 43,9% dukungan.

“Perubahan lain yang akan memengaruhi peta politik dalam Pemilu 2024 nanti adalah meningkatnya akses pemilih muda terhadap media sosial dan tingginya perhatian mereka pada isu-isu kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan, demokrasi, dan pemberantasan korupsi,” kata Arya, dalam rilis survei yang diterima di Jakarta, Senin (26/09/2022).

Berdasarkan survei tersebut, responden diminta untuk memilih tiga bakal calon presiden, hasilnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto masuk tiga besar. Ganjar meraih suara sebanyak 33,3% diikuti oleh Anies dengan 27,5% dan Prabowo meraih 25,7%, namun jika diadu dalam simulasi Anies mampu mengalahkan Ganjar dan Prabowo.

Arya mengungkapkan, keoknya Ganjar jika diadu dengan Anies lantaran politisi PDIP tidak mendapat limpahan suara dari pendukung Prabowo Subianto. Ganjar unggul (47,2%) jika diadu dengan Prabowo (45%). Begitu pula Anies unggul (47,9%) jika diadu dengan Prabowo (45%). Namun Anies unggul jika diadu dengan Ganjar karena mendapatkan limpahan suara dari pendukung Prabowo.

“Karena ada perpindahan dukungan pemilih dari calon-calon sebelumnya, kalau dari ini dari pemilihnya Pak Prabowo,” tandasnya.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Continue Reading

Politika

Dekati Kiai NU, Upaya Prabowo Garap Suara Umat

Published

on

Prabowo Subianto di Asrama Perguruan Tinggi (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. FILE/Twitter @prabowo
Prabowo Subianto di Asrama Perguruan Tinggi (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. FILE/Twitter @prabowo

Telegraf  – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyatakan kunjungan Prabowo Subianto ke para kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bentuk strategi menjaga basis suara umat islam.

“Ini memperlihatkan arah baru untuk segmentasi atau basis politik yang dituju, kita tahu pada 2014 dan 2019 arahnya itu dengan tokoh-tokoh Islam di PA 212 dengan FPI, tetapi pada hari ini kecenderungannya kepada tokoh-tokoh NU, baik di Jawa Tengah dan nanti kiai-kiai NU di wilayah lain,” katanya dalam keterangan yang diterima, (26/09/2022).

Qodari menyatakan upaya yang dilakukan oleh Prabowo merupakan langkah tepat karena NU merupakan organisasi masyarakat terbesar di Indonesia dengan jumlah pengikut sebanyak 30-40 persen penduduk Muslim di Tanah Air.

“Menurut saya, salah satu arah atau strategi baru yang penting dari Pak Prabowo bahwa beliau itu tetap dekat atau mempertahankan basis Islamnya tetapi arahnya lebih kepada Islam tradisional,” jelasnya.

Ia mengatakan pilihan yang diambil Prabowo sangat benar karena NU sebagai organisasi Islam dengan pengikutnya paling banyak.

“Kalau survei dari dulu sampai sekarang konsisten karena survei itu nggak pernah di bawah 33 persen atau sepertiga dari Islam itu adalah NU, bahkan bisa mencapai 40 persen. Jadi menurut saya ini bisa menjadi ‘game changer’ untuk Pak Prabowo pada 2024,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melakukan silaturahim atau sowan dengan 9 kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Perguruan Tinggi (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang didirikan KH Chudlori yang kini diasuh KH. Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf pada Jumat (24/09/2022).

Adapun 9 kiai sepuh NU di Jawa Tengah tersebut di antaranya H. Muhammad Zaim Ahmad (Kabupaten Rembang), KH. Badawi Basyir (Kabupaten Kudus), KH. Zaenal Arifin (Kabupaten Demak), KH. Solahudin (Kabupaten Brebes), KH. Khaidar (Kabupaten Temanggung), KH. Nur Hidayat (Wonosobo), KH. Solikhun (Kabupaten Magelang), KH Much Attabiq Baqir (Kabupaten Purworejo), KH Nasrul Arif Abdurrahman (Tegalrejo).

Prabowo bertemu dengan 9 kiai sepuh berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU) didampingi Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar berdiskusi mengenai koalisi antara Gerindra dan PKB pada pilpres 2024 sekaligus meminta dan mendengarkan masukan dari 9 kiai sepuh.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Continue Reading

Politika

Prabowo Dinilai Setia Pada Jokowi

Published

on

By

Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo bersilaturahmi di Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin (02/05/2022). BPMI Setpres/Lukas
Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo bersilaturahmi di Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin (02/05/2022). BPMI Setpres/Lukas

Telegraf – Peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro mengatakan bahwa Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto telah membuktikan kinerja dan kesetiaan terhadap Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

“Meski pernah menjadi rival presiden Jokowi pada dua pemilihan presiden, Prabowo telah membuktikan kinerja dan kesetiaan terhadap presiden selama menjadi menteri pertahanan di dalam kabinet pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin,” kata Bawono melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, (24/09/2022).

Kesetiaan tersebut, menurut Bawono, membuahkan dukungan dari Relawan Ganjar Pranowo Mania (GP Mania) yang menyatakan akan mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 jika Ganjar tak dipilih PDI-P menjadi calon presiden (capres).

Bawono mengatakan pernyataan Ketua GP Mania Immanuel Ebenezer tersebut merupakan pertanda jelas kecenderungan arah dari dukungan Presiden Joko Widodo kepada Prabowo.

“Sebagai salah satu relawan utama Joko Widodo dalam dua pemilihan presiden terdahulu tentu saja tidak mungkin apa disampaikan oleh GP Mania tersebut tanpa terlebih dahulu dikomunikasikan dengan Presiden Jokowi,” ujar Bawono.

Ketua GP Mania Immanuel Ebenezer atau Noel memandang Prabowo sebagai figur yang teruji untuk meneruskan kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Menurut Noel, ada beberapa alasan GP Mania akan pilih Prabowo. Pertama, Prabowo membuktikan komitmennya bekerja untuk pemerintahan Jokowi.

“Dulu ada kekhawatiran ketika Pak Prabowo masuk jadi Menteri Pertahanan, ada namanya kudeta, ternyata teori itu tidak ada,” ujar Noel.

Kedua, Prabowo dinilai menjaga integritas sebagai negarawan dan sosok yang bersih dari perilaku korupsi.

“Beliau tidak mencuri di kementerian itu sendiri,” katanya.

Alasan ketiga, Prabowo adalah sosok yang menghadapi masalah dengan kepala dingin.

“Beliau dalam menghadapi persoalan pelik, menghadapi pergerakan yang resisten dengan dia, tapi beliau tenang,” kata Noel.

Terakhir, Noel merasa Prabowo sebagai figur kandidat capres yang layak didukung karena punya elektabilitas tinggi.

“Pak Prabowo belum bekerja (kampanye) saja elektabilitasnya nomor dua (setelah Ganjar), apalagi beliau bekerja,” ucapnya.

Didik Fitrianto

Bagikan Artikel
Continue Reading

Lainnya Dari Telegraf

close