Maraknya Radikalisme dan Separatisme, PA GMNI Bahas Eksitensi Pancasila

"Dulu waktu jaman Orba, apa yang dinamakan ber Pancasila itu sangat berbeda dengan jaman sekarang ini, waktu itu Pancasila hanya seolah dijadikan sebagai alat untuk mengamankan kekuasaan bagi penguasa saja, penangkapan dan pembungkaman atas nama Pancasila kerap terjadi, hal tersebut kan justru tidak relevan dengan makna Pancasila itu sendiri,"

Maraknya Radikalisme dan Separatisme, PA GMNI Bahas Eksitensi Pancasila

Telegraf, Jakarta – Dalam rangka memperingatu hari lahir dan bulan Pancasila, Pengurus Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Pengurus Alumni (PA) GMNI Jakarta Raya mengadakan diskusi yang dibarengi dengan acara sarasehan dan buka puasa bersama, Selasa (04/06/18). Acara yang diadakan untuk menyampaikan segala peranan akan pentingnya Pancasila untuk kesatuan dan persatuan bangsa saat ini dengan dipandu oleh Benny Sijabat sebagai moderator acara.

“Lahirnya Pancasila telah melalui banyak proses dan kajian yang bukan hanya dipikirkan dalam beberapa menit. Sejatinya, Pancasila lahir dari rahim ibu pertiwi sesuai dengan situasi Indonesia. Pancasila pertama kali diperdengungkan dalam Pidato Soekarno dalam Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yang hari ini kembali kita peringati. Pancasila sendiri ditetapkan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945, satu hari sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, jadi Pancasila tidak hanya sakti seperti apa yang diperingati pada waktu Orde Baru (Orba), Pancasila tidak serta merta langsung menjadi sakti tanpa dilihat dulu kapan dan dari mana serta bagaimana proses kelahirannya,” jelas Soenarto Sardiatmadja.

“Dulu waktu jaman Orba, apa yang dinamakan ber Pancasila itu sangat berbeda dengan jaman sekarang ini, waktu itu Pancasila hanya seolah dijadikan sebagai alat untuk mengamankan kekuasaan bagi penguasa saja, penangkapan dan pembungkaman atas nama Pancasila kerap terjadi, hal tersebut kan justru tidak relevan dengan makna Pancasila itu sendiri,” imbuhnya.

Pancasila sebagai dasar negara tentulah harus benar-benar mengakar di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pemahaman tentang Pancasila ini harus dimulai sejak dini, agar sejak kecil generasi muda bangsa sudah memiliki pemahaman yang mendasar tentang ideologi Pancasila serta kecintaan akan tanah air. Apabila hal ini telah terlaksana tentulah perbedaan SARA yang terjadi di Indonesia justru memperindah kehidupan masyarakat, dan menekan munculnya radikalitas dan ekstrimisme serta fanatisme sempit yang justru bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Melihat maraknya tindakan teror dan intimidasi di tengah-tengah masyarakat saat ini menunjukkan masih banyaknya pemikiran-pemikiran yang menolak Pancasila. Bahkan semakin banyak organisasi yang mulai terang-terangan menunjukkan sikapnya yang Kontra terhadap Pancasila.

“Makna Pancasila pada saat sekarang ini harus lebih general dan harus bisa dimaknai secara lintas sektoral, dan sudah saatnya Pancasila beradaptasi dan bersaing dengan perkembangan dunia global ditengan-tengah geopolitik dunia, semangat Pancasila tersebut yang akan bisa menangkal segala ancaman yang datang dari luar, baik dalam bentuk proxy war, atau neoliberalisme, pentingnya Pancasila ditengah dunia yang sedang mengglobal ini adalah bentuk representasi dari makna dan arti Pancasila sebagai nilai kebangsaan yang harus tetap dijaga,” kata Twedy Ginting.

Sementara itu secara gamblang dijelaskan oleh Paulus Londo, soal peran dari para kader GMNI maupun para alumni yang seharusnya bisa mengaplikasikan Pancasila secara kafah sebagai bentuk nilai-nilai yang mendasari perjuangan bangsa Indonesia, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan negara serta rumah bersama, sudah seharusnya diamalkan oleh setiap kader GMNI dimanapun berada, apalagi bagi mereka yang sudah mendapatkan posisi atau jabatan strategis di pemerintahan maupun di partai politik, diharapkan bisa mengejawantahkan Pancasila secara benar. (Red)


Photo Credit : Dalam rangka memperingatu hari lahir dan bulan Pancasila, DPD PA Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengadakan diskusi yang dibarengi dengan acara buka puasa bersama, Selasa (04/06/18). TELEGRAF/Koes W. Widjojo

 

Share