Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Konflik di Papua Perlu Penyelesaian Kolaboratif
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Nasional

Konflik di Papua Perlu Penyelesaian Kolaboratif

Indra Christianto Minggu, 9 Mei 2021 | 01:02 WIB Waktu Baca 2 Menit
Bagikan
Photo Credit: Sejumlah warga Papua saat melakukan aksi unjuk rasa menggalang aksi dan dukungan untuk gerakan separatis di Papua. AP Photo/Bayu Ismoyo
Photo Credit: Sejumlah warga Papua saat melakukan aksi unjuk rasa menggalang aksi dan dukungan untuk gerakan separatis di Papua. AP Photo/Bayu Ismoyo
Bagikan

Telegraf – Pelabelan teroris terhadap kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua oleh pemerintah banyak menuai kritik juga pro dan kontra dari pemerhati hak asasi masyarakat. Langkah pemerintah tersebut dianggap memberi jarak lebih luas untuk membangun dialog yang lebih humanis dan terbuka dengan tokoh di Papua.

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, pemerintah perlu menggunakan pendekatan kolaboratif dalam menyelesaikan konflik yang sedang terjadi di Papua. Sebab menurutnya, permasalahan di Papua sangat begitu kompleks.

“Penyelesaian konflik di Papua diperlukan pendekatan secara kolaboratif dan holistik. Persoalan Papua yang complicated dan multidimensi ini perlu dipahami dalam spektrum yang lebih luas,” kata Karyono kepada Telegraf, Minggu (09/05/2021).

Karyono mengatakan, terkait sering munculnya persoalan di Papua tidak dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan solusi tunggal. Berdasarkan data penyelesaian konflik wilayah.

“Persoalan di Papua tergolong sulit diselesaikan dan memakan waktu yang sangat lama. Menurut Karyono, pendekatan kolaboratif dalam menyelesaikan konflik mensyaratkan kerja sama, interaksi dan kesepakatan bersama,” jelasnya.

Menurutnya, model pendekatan seperti itu lebih memungkinkan untuk menjadi jalan keluar atas konflik yang sedang terjadi di Papua.

“Inilah yang perlu dikaji lebih dalam. Ini memacu kita untuk kembali mengidentifikasi persoalan yang menjadi penyebab konflik. Identifikasi akar persoalan tersebut membutuhkan penyelesaian secara kolaboratif, komprehensif dan holistik,” imbuhnya.

Baca Juga :  Penyampaian Fakta Soal Papua Harus Berimbang Dengan Solusi

Kita ketahui bahwa dalam beberapa waktu belakangan ini, eskalasi kekerasan yang terjadi di Papua semakin meningkat. Aparat TNI-Polri terlibat kontak tembak dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Korban pun sudah berjatuhan mulai dari aparat keamanan, hingga warga sipil hingga dan jumlahnya hampir tembus ratusan korban.


Photo Credit: Sejumlah warga Papua saat melakukan aksi unjuk rasa menggalang aksi dan dukungan untuk gerakan separatis di Papua. AP Photo/Bayu Ismoyo

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Bank BSN Kuasai 23,4 Persen Pangsa Pasar KPR Subsidi Nasional hingga April 2026
Waktu Baca 2 Menit
Munas HIPMI
Munas HIPMI XVIII Memanas, Tiga Caketum Desak Lokasi Dipindah dari Lampung
Waktu Baca 4 Menit
Kebebasan Berkarya Harus Berjalan Dengan Disertai Tanggung Jawab Publik
Waktu Baca 4 Menit
Soroti Polemik Film Pesta Babi, Akademisi Ajak Publik Melihat Papua Secara Utuh
Waktu Baca 4 Menit
Berantas Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Penguatan Literasi Digital
Waktu Baca 2 Menit

Penyampaian Fakta Soal Papua Harus Berimbang Dengan Solusi

Waktu Baca 3 Menit

Pesta Babi, Papua dan Pancasila: Ketika Narasi Budaya Memojokkan Pembangunan Indonesia

Waktu Baca 11 Menit

Waspadai Pinjol Ilegal, Pemerintah Ingatkan Bahaya Penyalahgunaan Data Pribadi

Waktu Baca 2 Menit

Pentingnya Ruang Digital Aman Bagi Kesehatan Mental Anak

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Nasional

Gandeng DPR, Komdigi Tegaskan Kolaborasi Berantas Darurat Narkoba

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Andrie Yunus Pernah Dilaporkan, Praktisi Hukum: Tegakkan Prinsip Equality Before The Law

Waktu Baca 5 Menit
Nasional

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak

Waktu Baca 4 Menit
Magang Nasional
Nasional

Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Sinergi Lintas Sektoral, Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Nasional

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

GAMKI dan Lembaga Kristen Kompak Polisikan JK Terkait Isi Ceramah

Waktu Baca 2 Menit
Nasional

Pernyataan Jusuf Kalla Terkait Isu SARA Dianggap Berpotensi Sesatkan Publik

Waktu Baca 3 Menit
Nasional

Proses Hukum Andrie Yunus, Aktivis 98: Jangan Ada Yang “Memancing di Air Keruh”

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?