Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Munas HIPMI XVIII Memanas, Tiga Caketum Desak Lokasi Dipindah dari Lampung
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Regional

Munas HIPMI XVIII Memanas, Tiga Caketum Desak Lokasi Dipindah dari Lampung

Idris Daulat Jumat, 15 Mei 2026 | 10:57 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Munas HIPMI
Bagikan

Telegraf – Kontestasi menuju kursi Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) periode 2026–2029 mulai memasuki fase paling sensitif. Bukan lagi sekadar perang gagasan antar kandidat, tetapi mulai menyentuh isu yang lebih serius: netralitas demokrasi organisasi.

Tiga Calon Ketua Umum (Caketum) HIPMI — Reynaldo Bryan, Afifuddin Kalla, dan Anthony Leong — resmi menyuarakan penolakan terhadap rencana pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII di Lampung. Mereka mendesak panitia memindahkan lokasi Munas ke daerah yang dianggap lebih netral dan bebas intervensi politik lokal.

Desakan itu muncul setelah beredarnya rekaman video yang memperlihatkan dukungan terbuka otoritas tertinggi di Lampung terhadap salah satu kandidat, Ade Jona. Video tersebut langsung memicu kegaduhan di internal HIPMI dan memunculkan kekhawatiran soal independensi tuan rumah penyelenggara.

Bagi sejumlah kader, situasi ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi marwah organisasi.

“Kalau kepala daerah sudah secara terbuka mengajak memenangkan salah satu kandidat, maka fairness dalam Munas otomatis dipertanyakan,” ujar salah satu pengurus HIPMI daerah kepada Telegraf.co.id, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai dinamika politik biasa. Sebab posisi tuan rumah memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan, mobilisasi, hingga konsolidasi peserta Munas.

Kekhawatiran Intervensi Kekuasaan Lokal

Dalam dinamika internal yang berkembang, muncul berbagai kekhawatiran terkait potensi keberpihakan penyelenggaraan apabila Munas tetap digelar di Lampung.

Beberapa isu yang mulai ramai dibicarakan di kalangan peserta antara lain dugaan potensi pengawalan aparat yang tidak netral, hambatan logistik terhadap kubu tertentu, hingga tekanan terhadap hotel dan fasilitas akomodasi bagi tim sukses kandidat lain.

Bahkan, istilah “tunawisma politik” mulai muncul sebagai bentuk sindiran terhadap kemungkinan sulitnya kubu tertentu mendapatkan akses ruang konsolidasi selama Munas berlangsung.

“Ini bukan lagi soal venue. Ini soal rasa aman dan rasa adil dalam berkompetisi,” kata salah satu peserta Munas dari wilayah Indonesia Timur.

Situasi tersebut membuat sejumlah kader senior HIPMI mulai angkat suara. Mereka meminta panitia tidak menutup mata terhadap keresahan yang berkembang di internal organisasi.

Panitia Munas Didorong Bersikap Tegas

Sorotan kini tertuju kepada Ketua Steering Committee (SC) Tri Febrianto Damu dan Ketua Organizing Committee (OC) Arif Satria Kurniagung.

Keduanya didesak segera mengambil keputusan strategis demi menjaga legitimasi Munas XVIII agar tidak meninggalkan polemik berkepanjangan.

Sejumlah kader menilai keputusan mempertahankan Lampung tanpa jaminan netralitas yang kuat justru berpotensi memperkeruh situasi dan menciptakan preseden buruk dalam sejarah HIPMI.

“HIPMI ini organisasi besar. Banyak tokoh nasional lahir dari sini. Jangan sampai demokrasi internalnya justru dipersepsikan tidak sehat,” ujar seorang senior HIPMI.

Di tengah memanasnya suhu politik internal, sebagian pihak mulai melihat polemik ini sebagai ujian besar bagi kedewasaan organisasi pengusaha muda terbesar di Indonesia tersebut.

Karena pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang menang dalam Munas XVIII, tetapi juga kepercayaan kader terhadap proses demokrasi di tubuh HIPMI sendiri.

Apakah Munas tetap digelar di Lampung atau dipindahkan ke wilayah netral?
Keputusan panitia dalam beberapa hari ke depan diyakini akan menentukan arah tensi politik organisasi sekaligus masa depan legitimasi kepemimpinan HIPMI periode mendatang.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Munas HIPMI
Munas HIPMI XVIII Memanas, Tiga Caketum Desak Lokasi Dipindah dari Lampung
Waktu Baca 4 Menit
Kebebasan Berkarya Harus Berjalan Dengan Disertai Tanggung Jawab Publik
Waktu Baca 4 Menit
Soroti Polemik Film Pesta Babi, Akademisi Ajak Publik Melihat Papua Secara Utuh
Waktu Baca 4 Menit
Berantas Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Penguatan Literasi Digital
Waktu Baca 2 Menit
Penyampaian Fakta Soal Papua Harus Berimbang Dengan Solusi
Waktu Baca 3 Menit

Pesta Babi, Papua dan Pancasila: Ketika Narasi Budaya Memojokkan Pembangunan Indonesia

Waktu Baca 11 Menit

Waspadai Pinjol Ilegal, Pemerintah Ingatkan Bahaya Penyalahgunaan Data Pribadi

Waktu Baca 2 Menit

Pentingnya Ruang Digital Aman Bagi Kesehatan Mental Anak

Waktu Baca 2 Menit

DPR: Jadi Ancaman Serius, Judol Telah Merambah Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Regional

Kepemimpinan Perempuan Jadi Sorotan di Dialog Nasional: Dari Akar Rumput hingga Resiliensi Bangsa

Waktu Baca 4 Menit
Foto : Suasana festival Sundown Markette 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Event yang digelar 370 Agency bersama Inspira Global Karya ini menjadi ruang kolaborasi bagi UMKM, komunitas, dan brand lokal dalam meramaikan kegiatan Ramadan di ibu kota. (doc.Ist)
Regional

Sundown Markette 2026 Berakhir Besok, Festival Ramadan 22 Hari di GBK Catat Antusiasme Ribuan Pengunjung

Waktu Baca 6 Menit
Regional

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026

Waktu Baca 2 Menit
DPO Agusrin
Regional

Kasus DPO Agusrin Ternyata Isu Lama yang Terangkat Ulang: Penyidikan Diduga Sudah SP3 Sejak Lama

Waktu Baca 4 Menit
Mendagri Instruksikan Siskamling, IPDN Lakukan Monitoring di Palembang
Regional

IPDN Pantau Siskamling Palembang, Tindaklanjuti 11 Arahan Mendagri

Waktu Baca 2 Menit
Diton Fest 2025 festival musik Jakarta
Regional

Line-up Lengkap Diton Fest 2025, Ada NTRL dan Endank Soekamti

Waktu Baca 7 Menit
Masjid Jami Al Akhyar Sukabumi Utara
Regional

Dik Doank dan Semangat Anak Negeri: Festival Gema Kemerdekaan Islami TPQ Al Akhyar

Waktu Baca 7 Menit
Regional

Terinspirasi dari Sistem Tulang, Dosen UNU Jogja Kembangkan Komposit Lunak-Keras

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?