Ini yang Dilakukan Pemerintah di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi, Pangan dan Energi Global 2022

Oleh : Atti K.
Photo Credit: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai pandemi dan jaga jarak fisik atau physical distancing membuat wartawan sulit untuk hadir dan bertemu langsung dengan narasumber. FILE/Dok/KSP

Telegraf – Munculnya 3 varian baru mengancam krisis pangan, Krisis Energi serta krisis keuangan Global, dan di perparah dengan konflik Ukraina-rusia. Dalam rangka mengatasi krisis pangan, pemerintah terus mendorong terwujudnya swasembada pangan.

“Hakikat dari kondisi covid-19 dan peperangan ini memunculkan tiga varian baru ancaman. Pertama adalah krisis pangan, kedua krisis energi dan ketiga adalah krisis keuangan Global,” kata Moeldoko dalam diskusi online bertajuk “Capaian Kinerja Pemerintah Tahun 2022” yang digelar Forum Merdeka Barat (FMB9), pada Jum’at (21/10/22).

Ia menjabarkan dalam krisis pangan pemerintah membangun infrastruktur seperti 35 unit bendungan, 10.035 hektar daerah irigasi, rehabilitasi terhadap 152.615 hektar jaringan irigasi, pembangunan 21 embung, dan pembangunan 157 km tanggul pengendali banjir dan pengamanan pantai.

Terkait energi, pemerintah telah mengantisipasi dengan menyiapkan kebijakan, salah satunya adalah Program Mandatori B30 yang mewajibkan semua bahan bakar diesel di Indonesia memiliki campuran minimal 30% biodiesel dan 70% Solar.

Dikesempatan yang sama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan varian Omicron kini muncul subvarian anyar. Namanya XBB yang sudah masuk di Tanah Air. Masyarakat diminta waspada.

Kebijakan menghadapi Covid-19 yang dikeluarkan Presiden saat kasus meningkat sudah melalui beragam pertimbangan dari ahli dan pakar kesehatan dan ekonomi.

“Jika kita patuh ke beliau maka kita bersama-sama bisa hadapi badai seperti judul lagu badai pasti berlalu. Jadi mohon juga doa restunya,” ucapnya.

Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terus melakukan pengamatan terkait dengan potensi adanya subvarian baru XBB. “Ada varian baru namanya XBB. Varian ini juga sudah masuk ke Indonesia, kita amati terus,” kata Budi.

Ia juga mengatakan dalam menghadapi badai Covid sampai ekonomi semua pihak harus bekerjasama.
Semuanya bekerjasama. Yang tua, muda, kaya, miskin, orang Jawa, Kalimantan dan lainnya bersama menjaga kapalnya dalam artian negara supaya jangan rusak dan bisa melewati badai atau tantangan tahun depan.

Menurutnya jika semua elemen masyarakat bersama Pemerintah kompak apapun tantangannya bisa jadi bisa dilewati dengan baik. Hal itu sudah terbukti saat negara menghadapi puncak kasus Covid-19 di tahun lalu.

“Kita benar-benar harus bekerjasama seperti yang ditunjukkan saat kita mengatasi pandemi Covid,” ucapnya.

Ia mengatakan saat ini capaian vaksinasi Indonesia sudah berada di angka 440 juta dosis yang telah disuntikan kepada 204 juta populasi nasional. Hal itu, kata dia, membuat imunitas masyarakat terhadap Covid-19 menjadi lebih baik. Kendati demikian, ia pun berharap masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan.

Mantan Direktur Utama PT Inalum (Persero)menggambarkan nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut yang tangguh.

“Saya mau kasih metafora sedikit nenek moyang kita tu pelaut. Jadi nenek moyang kita sudah sering menghadapi badai,” ujar Budi, kemarin.

Badai yang dimaksud saat ini bisa berupa tantangan menghadapi pandemi Covid-19, dampaknya hingga persoalan lain menyangkut sosial, ekonomi dan politik.

“Mereka tahu cara menghadapi badai. Ada dua opsi pertama balik mundur atau dia maju terus berlayar dengan seluruh keahliannya memanfaatkan angin di belakang untuk bisa menerjang badai dan sampai ke tujuan lebih cepat,” paparnya.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close