BPS: Pertumbuhan Ekonomi 2017 Hanya Sebesar 5,07%

“Konsumsi ini cukup penting. Sekali ada hal-hal yang mempengaruhi konsumsi, maka seluruh struktur PDB bisa ikut terdampak. Kami berharap, konsumsi rumah tangga akan makin bagus, tentunya harus dengan syarat bahwa daya beli terjaga dengan inflasi yang terkendali. Ini tantangan 2018,”

BPS: Pertumbuhan Ekonomi 2017 Hanya Sebesar 5,07%


Telegraf, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi masyarakat masih akan menahan konsumsinya hingga kuartal pertama tahun ini, mengikuti tren yang terjadi pada sepanjang tahun lalu. Indikasi ini terlihat dari prediksi Indeks Tendensi Konsumsi (ITK) yang melambat pada tiga bulan pertama 2018. Sementara pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07%, atau lebih rendah dibandingkan target APBN-P sebesar 5,2%.

Menurut Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, ITK pada kuartal I-2018 diperkirakan menyentuh angka 101,35 atau lebih pesimistis dibandingkan ITK kuartal IV-2017 yakni 107. Meski terbilang kurang optimistis, angka ini masih berada di atas basis angka 100.

“Jika indeks berada di bawah angka 100, maka konsumen meyakini bahwa konsumsi akan memburuk di periode berikutnya. Namun, jika angka indeks berada di bawah 100, maka konsumsi diperkirakan akan bersinar di periode berikutnya. Perkiraan kami di kuartal I, konsumen masih positif bahwa konsumsi akan membaik. Tetapi, penurunan optimismenya agak tajam karena mereka masih memikirkan beberapa hal,” ujarnya di Jakarta, Senin (05/02/2018).

Dia mengatakan, konsumen masih optimistis bahwa akan ada perbaikan pendapatan di kuartal I-2018. Namun, masyarakat masih enggan untuk membeli barang-barang tahan lama (durable goods), seperti alat elektronik, kendaraan bermotor, peralatan rumah tangga, atau barang lain yang bisa digunakan dalam jangka waktu panjang.

Selain itu, masyarakat juga masih menahan diri untuk menghelat hajatan atau pesta-pesta sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. “Bahkan, mereka pun terbilang menahan diri untuk melakukan rekreasi di awal tahun,” ujarnya.

Kecenderungan perilaku masyarakat ini masih dipertanyakan oleh BPS. Pasalnya, pendapatan per kapita Indonesia kini sudah naik menjadi Rp51,89 juta dari sebelumnya Rp47,96 juta. Selain itu, inflasi pun terbilang stabil, yakni berada di level 3,61% atau di bawah target tahun lalu yakni 4%. Namun, di tengah perbaikan sentimen tersebut, masyarakat justru makin meningkatkan porsi pendapatannya untuk ditabung.

Sebagai bahan perbandingan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan per akhir 2017 tercatat 8,3% menjadi Rp5.141,5 triliun. Adapun, angka pertumbuhan ini masih lebih kecil dibanding konsumsi masyarakat sepanjang tahun 2017 yang hanya naik 4,95% secara tahunan (year-on-year). “Yang perlu ditelusuri adalah kenapa mereka menahan? Apakah ada investasi, atau ada sesuatu lain yang mengganggu mereka,” tutur dia.

Padahal menurut dia, konsumsi masyarakat adalah komponen paling penting dalam membentuk produk domestik bruto (PDB). Sepanjang 2017 yang lalu, konsumsi masyarakat mengambil porsi 56,13% dari PDB dengan pertumbuhan yang melorot dari 5,01% di tahun 2016 ke level 4,95% di tahun lalu.

Untuk kembali meningkatkan konsumsi, maka pemerintah perlu memastikan bahwa inflasi cukup tekendali di tahun ini. Tak hanya itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa kondisi ekonomi dan politik makin stabil di tahun ini, terlebih memasuki masa tahun Pilkada.

“Konsumsi ini cukup penting. Sekali ada hal-hal yang mempengaruhi konsumsi, maka seluruh struktur PDB bisa ikut terdampak. Kami berharap, konsumsi rumah tangga akan makin bagus, tentunya harus dengan syarat bahwa daya beli terjaga dengan inflasi yang terkendali. Ini tantangan 2018,” ujarnya.

Untuk diketahui, Indonesia tercatat mengalami pelemahan pertumbuhan konsumsi di tahun kemarin. Konsumsi makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, dan transportasi terlihat menurun. Namun di sisi lain, pertumbuhan konsumsi kesehatan dan pendidikan serta restoran dan hotel meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Masihtumbuhnyatingkatoptimisme ini karena pendapatan usaha yang meningkat dengan nilai indeks 115,58. Iklim bisnis yang membaik dan optimisme pelaku bisnis terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha, terutama pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Adapun nilai ITB tertinggi sebesar 131,58.

Sementara itu, kategori lapangan usaha dengan optimisme terendah terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Nilai ITB tercatat sebesar 103,87. “Pada kuartal I-2018, kondisi bisnis pada seluruh kategori lapangan usaha diperkirakan masih tumbuh meski dengan tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah lagi dibanding kuartal IV-2017,” ujarnya.

Perbaikan kondisi bisnis dan optimisme pelaku bisnis yang masih baik diperkirakan terjadi karena ada peningkatan pesanan dari dalam negeri, dengan nilai indeks 117,02. Selain itu, ada pula peningkatan harga jual dengan nilai indeks 113,57.

Baca Juga :   JamSyar Raih Opini WTP Pada Laporan Keuangan Tahun 2020

Perbaikan kondisi bisnis juga ditunjukkan dengan order barang input yang diperkirakan meningkat, dengan nilai indeks 103,76. Sementara itu,pesanandari luar negeri diperkirakan bakal relatif sama dengan kondisi kuartal IV-2017, dengan nilai indeks 100,05.

Realisasi Lebih Rendah

Selain itu, BPS merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 mencapai 5,07%. Angka ini lebih baik jika dibanding 2016 yangrealisasinya tercatat 5,03%, namun lebih rendah dari target pemerintah 5,2% dalam APBN-P 2017.

Kecuk mengatakan, kurang maksimalnya pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun laludikarenakan beberapa hal. Salah satunya kenaikan konsumsi rumah tangga tak seperti yang diharapkan. Menurut dia, indikator untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi yang paling penting adalah investasi, ekspor, dan konsumsi rumah tangga.

“Kita lihat investasi bagus enggak? Bagus. Ekspor juga tumbuh. Hanya saja pada saat bersamaan konsumsi rumah tangga masih terbatas di 4,95%. Kalau mau ekonomi di atas 6%, ketiga komponen itu harus beriringan,” tutur dia.

Minimnya pengeluaran rumah tangga masyarakat pada 2017, menurut dia, ini diperkirakan kurang terjaganya situasi politik dan kemanan di dalam negeri sepanjang 2017. Di sisi lain, pemerintah diminta terus melanjutkan program deregulasi untuk terus menopang investasi yang masuk ke Indonesia.

Mengenai ekspor, Kecuk mengaku terjadipeningkatan. Hanya saja peningkatan itu belum maksimal. Terbukti, volume ekspor Indonesia masih kalah dibanding beberapa negara tetangga. Padahal Indonesia memiliki kondisi geografis wilayah yang lebih besar.

Untuk itu, BPS mengusulkan agar produk-produk berbasis sumber daya alam lebih ditingkatkam nilai tambahnya, untuk kemudian diekspor. Dengan begitu, daya saing Indonesia akan semakin meningkat. “Jadi bisa tidak pertumbuhan ekonomi kita di atas 6%? Bisa, tapi ada syaratnya. Masih banyak peluang yang sebenarnya bisa kita maksimalkan,”ujarnya.

Perlu diketahui, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal IV-2017 sebesar 4,97%(yoy). Angka ini naik tipis jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal III 2017 sebesar 4,93 persen.

Secara terpisah, Kepala Departeman Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo perbaikan ekonomi tersebut juga diikuti oleh konsumsi rumah tangga yang mulai membaik. “Meskipun perbaikan tersebut belum cukup kuat,” ujarnya, kemarin.

Namun, dia melihat tahun ini konsumsi akan meningkat setelah adanya peningkatan alokasi belanja barang pemerintah, bantuan sosial, dana desa dan lainnya terkait dana sosial dalam APBN 2018.

Alokasi dana tersebut diyakini akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan kemampuan berkonsumsi. “Dukungan konsumsi juga ditunjukkan dari upaya BI untuk tetap menjaga inflasi rendah dan stabil,” ujarnya.

BI memproyeksikan inflasi 2018 akan berada di kisaran 3,5 +/- 1% dengan mid poin sebesar 3,5%. Dengan inflasi rendah, dia yakin daya beli masyarakat untuk berkonsumsi lebih besar akan meningkat. Selain itu, acara besar yang bersifat internasional dan politik diharapkan juga akan memperbesar konsumsi masyarakat sehingga berdampakk positif bagi pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Terkait dengan permasalahan kepercayaan konsumen khususnya pada kelompok menengah yang menahan belanja, BI berharap kondisi tersebut akan berangsur membaik didasari kegiatan ekonomi yg terus membaik di tahun 2018. Dia juga berharap konsolidasi korporasi segera selesai. Dengan demikian, korporasi akan memperbesar belanja modal untuk memperbesar investasi. (Red)


Photo Credit : Indonesia tercatat mengalami pelemahan pertumbuhan konsumsi di tahun 2017 kemarin. Konsumsi makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, dan transportasi terlihat menurun. Getty Images/Ed Wray

KBI Telegraf

close