Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Atti K. Rabu, 29 April 2026 | 19:58 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Wakil Sekretaris Jenderal I Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Aryo Wibowo saat Webinar/Doc/Telegraf
Bagikan

Telegraf – Konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Ketegangan yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, yang dalam sebulan terakhir bertahan di kisaran USD100 per barel. Kondisi ini langsung berdampak pada negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.

Sebagai negara yang kini bergantung pada impor minyak, Indonesia menghadapi tekanan berlapis. Kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih berada di bawah 600.000 barel per hari. Ketimpangan ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga global, terutama di tengah konflik internasional yang belum menunjukkan tanda mereda.

Kenaikan harga minyak dunia tidak hanya dipicu oleh gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, tetapi juga kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global. Risiko terhadap jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz memperbesar potensi gangguan suplai, sehingga mendorong harga semakin tinggi.

Dampaknya terasa langsung pada sektor energi nasional. PT Pertamina (Persero) menjadi pihak yang berada di garis depan dalam menahan lonjakan harga tersebut, terutama karena pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi agar tidak naik di dalam negeri. Kebijakan ini membuat Pertamina harus menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga jual kepada masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal I Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Aryo Wibowo menilai bahwa situasi global saat ini memperlihatkan lemahnya ketahanan energi nasional. Ketergantungan pada impor membuat Indonesia tidak memiliki ruang yang cukup untuk meredam dampak eksternal.

“Ketika konflik global terjadi dan harga minyak melonjak, kita tidak punya bantalan yang kuat karena produksi dalam negeri terus menurun,” ungkapnya dalam webinarr bertajuk Stabilitas harga BBM ditengah konflik Geopolitik di Jakarta, Rabu (29/4).

Selain tekanan harga, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperbesar beban impor energi. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat biaya pengadaan BBM melonjak signifikan, sementara penyesuaian harga di dalam negeri tetap dibatasi.

Pakar energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai bahwa kondisi ini mencerminkan pergeseran beban subsidi dari negara ke badan usaha. Menurutnya, dalam situasi fiskal yang terbatas, pemerintah cenderung menahan kenaikan harga BBM dan mengandalkan Pertamina untuk menyerap tekanan tersebut.

“Secara ideal subsidi adalah tanggung jawab negara. Namun dalam kondisi sekarang, beban itu bergeser ke Pertamina karena ruang fiskal terbatas,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat berdampak pada keberlanjutan keuangan perusahaan, terutama dalam menjaga arus kas di tengah tingginya biaya impor energi.

Di tingkat global, konflik Timur Tengah diperkirakan masih akan menjadi faktor utama volatilitas harga energi sepanjang tahun ini. Ketidakpastian geopolitik, ditambah dengan potensi eskalasi konflik, membuat pasar minyak berada dalam tekanan tinggi.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya mempercepat penguatan ketahanan energi nasional, termasuk peningkatan produksi dalam negeri serta diversifikasi sumber energi. Tanpa langkah strategis tersebut, gejolak geopolitik global akan terus menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi domestik.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit
strategi digital marketing 2026
Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search
Waktu Baca 6 Menit
Kecelakaan Kereta Bekasi
Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan
Waktu Baca 4 Menit
Indonesia berada dalam fase penting menuju adopsi AI yang lebih matang. Investasi digital meningkat, kebutuhan enterprise berkembang, dan kesadaran akan pentingnya infrastruktur mulai tumbuh.
Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan
Waktu Baca 3 Menit
Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara
Waktu Baca 11 Menit

Padel Jadi Ruang Baru Kaum Urban Bangun Koneksi, Inspire Rally Series 2026 Digelar di Bekasi

Waktu Baca 4 Menit

Bersama DPR, Komdigi Dorong Partisipasi Rakyat Dalam Pertahanan Semesta Digital

Waktu Baca 2 Menit

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Aktivitas pelayanan di Kantor Regional 2 Jawa Barat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bandung, Jawa Barat. JIBI/Rachman
Ekonomika

Lawan Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Masyarakat Melek Literasi Keuangan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?