BPH Migas Monitoring 3T di Sumenep

"Sumenep memang cukup sulit dan menjadi tantangan dalam utamanya distribusi BBM karena Sumenep mempunyai pulau 126 pulau tentunya mempunyai  anutid khusus bagaimana BBM ini bisa nyampai ke mayarakat yang memerlukan, dari  126 pulau 76 tidak berpenghuni dan 48 berpenghuni"

BPH Migas Monitoring 3T di Sumenep


Telegraf, Sumenep –  Sumenep masuk wilayah Jawa Madura bali (JAMALI), merupakan wilayah penghasil migas, tetapi masalah pendistribusian BBM masih perlu ada pebaikan, dikarenakan masyarapkat yang tinggal di pulau masih sulit untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan harga BBM di kepulauan Sumenep tidak merata, untuk mewujudkan pemerataan harga, Badan Pengaturan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) lakukan monitoring terkait program pemerintah 3 T yaitu Terluar, Tetinggal dan Terluar.

Salah satu daerah yang masuk dalam kategori 3 T adalah kepulauan yang berada di Sumenep. Sumenep adalah kabupaten yang memiliki  126 pulau dari 126 pulau ini terbagi 27 kecamatan dimana 9 kecamatan berada di perairan, dimana sulitnya distribusi sehingga ketersediaan BBM sangat terbatas sehingga harganya bisa mencapai sebesaar Rp30.000-40.000.

Hal itu di ungkapkan Hery Kuntjoro Pribadi Asisten II ekonomi dan Pembangunan Setdakab Sumenep dikantornya Jl. Cipto Mangunkusumo no 1, Kolor, Sumenep, Kamis (21/17).

“Sumenep memang cukup sulit dan menjadi tantangan dalam utamanya distribusi BBM karena Sumenep mempunyai pulau 126 pulau tentunya mempunyai  anutid khusus bagaimana BBM ini bisa nyampai ke mayarakat yang memerlukan, dari  126 pulau 76 tidak berpenghuni dan 48 berpenghuni,” ungkapnya.

Hery juga menyebutkan luasnya pulau pulau Sumenep ada dua pulau untuk wilayah Utara yaitu Masalembu malah justru dekat dengan Banjarmasin dibanding dengan kabupatenya sendiri,  sementara untuk wilayah Timur yaitu  pulau Sepeken, pulau ini dekat dengan Flores dan jalur perairan Internasional.

“Bahkan kecamatan, pulau kita ada yang lebih deket dengan Banjarmasin yaitu Masalembu dari Banjarmasin 6 jam, sedangkan Masalembu ke Sumenep lebih dari 12 jam itu yang di Utara untuk yang di Timur ada satu masuk di kecamatan Sapeken itu dekat dengan Flores, dan deket jalur perairan internasional betapa luasnya  mungkin ini termasuk tantangan dan sulitnya untuk pendistribusian BBM ini,” kata Hery.

Ditemui di tempat yang sama Achmad Khoir Kabag Energi dan Sumber Daya Alam (ESDA) Setdakab Kabupaten Sumenep, menjelaskan untuk mewujudkan 3T  pemerintah daerah Sumenep melakukan koordinasi dengan pertamina serta yang terpenting adalah BPH Migas serta Kementrian ESDM sehingga mendapatkan solusi satu yaitu jangka pendek adalah pengiriman stock BBM ke pulau Raas, Sapudi dan Sepekan langsung dilakukan oleh pertamina melalui AMPS atas yang di tujuk.

Khoir juga mengatakan dengan adanya penunjukan tersebut di kepulauan Sumenep Agen Premium Minyak Solar (APMS), bertambah menjadi 8 AMPS, yang mana  di Masalembu dan  Kangean yang awalnya sudah terdapat APMS ditambah masing masing satu APMS, serta di pulau Raas terdapat 2 APMS, Sapeken serta di Sapudi.

Baca Juga :   Webinar Muslimat NU, Dewi Arimbi Jelaskan Pentingnya Pencatatan Keuangan

“Dengan adanya penunjukan ini pemerintah di Sumenep ini menjadi ada 8 APMS (Masalembu dan Kangean tambah masing masing 1, Raas 2, Sapudi,dan Sapeken),” ungkapnya.

Hal serupa juga dikatakan Suhermanto Kepala Sub Bagian Pembinaan Daerah harga bisa mencapai Rp30-40.000 itu terjadi  karena kendala utamanya adalah pengiriman atau proses pendistribusian itupun terjadi di pulau pulau yang tidak ada penyalurnya, yang akhirnya membeli di pulau yang ada penyalurnya yang mana ada tambahan biaya angkut ini yang menyebabkan  tidak stabinya harga BBM di kepulauan Sumenep.

“Jadi harga itu bisa jadi bisa jadi akan naik ketika ada kebutuhan meningkat dan ketika adakendala  dalam proses pendisrtibusian hanya saja itu terjadi di wilayah kepulauan  itupundi kepulauan itunya kebanyakan terjadi di pulau di luar yang ada penyalurnya, karena di pulau itu tidak ada penyalur  membeli ke pulau yang ada penyalurnya itupun sudah ada biaya angkut dan segalamacamnya ditambah lagi denga stock yang dudah menipis bisa jadi jadi pengecer pengecer itu melakukan tindakan tindakan meningkatkan harga,” kata Hermanto.

Suhermanto berharap dengan di bukanya atau di tambahnya penyalur di pulau pulau ini maka pengendalian harga akan lebih optimal, Hermanto juga menjelaskan untuk kebutuhan natal dan akhir tahun  di wilayah sumenep dan kepulauan sumenep tidak terjadi lonjakan permintaan, dikarenakan mayoritas di daerah sumenep adalah muslim. Peningkatan BBM hanya terjadi pada hari bhari besar umat muslim dikarenakan di Sumenep terkenal dengan wilayah yang Religius, seperti Ramadhan, Iedul Fitri, serta bulan-bulan Maulid. (Red)

Credit Photo: APMS RAAS


Atti K.

close