Dunia saat ini sedang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris tanpa jeda. Pandemi Covid-19 pada 2020–2022, perang Ukraina-Rusia, konflik Amerika-Iran dan Israel, kenaikan harga minyak dunia, hingga kemerosotan ekonomi global menjadi bukti bahwa stabilitas bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap permanen. Di saat yang sama, derasnya pengaruh budaya asing akibat kemajuan teknologi informasi membuat batas teritorial negara seolah memudar dan memicu degradasi moral yang sulit difilter.
Dalam situasi seperti itu, kecerdasan intelektual atau IQ saja tidak lagi cukup. Yang jauh lebih menentukan adalah resilience, yakni ketangguhan mental seseorang dalam menghadapi tekanan, kemampuan untuk bangkit kembali, beradaptasi, dan tetap kuat setelah mengalami kegagalan maupun situasi sulit. Resilience bukan sekadar bertahan hidup, tetapi kemampuan untuk belajar dan berkembang dari pengalaman pahit.
Kecerdasan membuat seseorang tahu apa yang harus dilakukan ketika dunia stabil. Namun resilience membuat seseorang tetap berdiri ketika stabilitas itu hilang tiba-tiba.
Fenomena dunia hari ini menunjukkan bahwa resilience menjadi lebih penting dibanding sekadar kecerdasan otak. Dunia sudah berubah menjadi non-linear. Jika dulu perubahan terjadi dalam hitungan puluhan tahun, kini perubahan dapat terjadi hanya dalam hitungan hari. Perang dagang, munculnya teknologi AI baru, putusnya rantai pasok global, hingga cepat matinya tren media sosial menunjukkan bahwa keadaan bisa berubah sangat cepat.
Dalam kondisi demikian, orang yang hanya mengandalkan kecerdasan tetapi berpikir kaku akan mudah terjebak pada “plan A”. Sebaliknya, mereka yang memiliki resilience mampu bergerak cepat ke “plan C, D, atau E” tanpa kehilangan arah. Selain itu, data saat ini begitu cepat basi. Informasi yang dianggap benar tiga bulan lalu bisa jadi menyesatkan hari ini. Karena itu, resilience tidak menunggu kesempurnaan data. Ia bergerak, mengukur, lalu mengoreksi. Ini adalah pola trial and error cepat, bukan analysis paralysis yang membuat seseorang terlalu lama berpikir tanpa bertindak.
Tekanan hidup modern juga membuat resilience semakin penting. Risiko PHK, inflasi, dan banjir informasi menciptakan stres kronis yang dapat menurunkan kemampuan berpikir seseorang. Orang yang memiliki resilience tinggi tetap mampu berpikir jernih di bawah tekanan, sementara orang pintar tanpa resilience justru mudah mengalami freeze atau lumpuh mengambil keputusan.
Dalam kajian psikologi dan sistem, resilience bukan sekadar “mental tahan banting” ala motivator. Resilience terdiri dari empat kemampuan utama, yaitu anticipation, absorption, adaptation, dan recovery.
Anticipation adalah kemampuan membaca tanda-tanda sebelum krisis benar-benar datang. Absorption adalah kemampuan menyerap guncangan tanpa hancur. Adaptation berarti kemampuan mengubah diri dengan cepat mengikuti perubahan situasi. Sedangkan recovery adalah kemampuan bangkit kembali dengan lebih kuat setelah mengalami krisis.
Kecerdasan memang berperan pada aspek anticipation. Namun tiga aspek lainnya lebih banyak berkaitan dengan laku hidup daripada logika semata.
Era sekarang juga menjadi era yang menghukum orang-orang yang hanya mengandalkan kecerdasan. Teknologi AI seperti ChatGPT, misalnya, mampu menghasilkan strategi marketing level konsultan hanya dalam hitungan detik. Artinya, kemampuan intelektual mulai menjadi komoditas yang mudah ditiru. Yang sulit digantikan AI adalah kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakjelasan, tekanan, dan ambiguitas.
Di sisi lain, krisis kini menjadi mode default kehidupan modern. Pandemi, perang, krisis energi, hingga perubahan iklim datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, yang bertahan bukan mereka yang paling pintar memprediksi, melainkan mereka yang paling cepat pulih ketika prediksinya salah. Bahkan modal sosial kini lebih penting daripada modal intelektual. Dalam situasi tidak pasti, jaringan, kepercayaan, dan kemampuan berkolaborasi sering kali menjadi faktor penyelamat. Semua itu merupakan hasil dari resilience, bukan semata-mata IQ.
Karena itu, membangun resilience menjadi kebutuhan mendesak, baik bagi individu maupun negara. Pada tingkat individu, resilience dibangun melalui pengelolaan energi, bukan hanya manajemen waktu. Tidur cukup, olahraga, dan membatasi paparan layar menjadi penting karena otak yang lelah akan membuat resilience runtuh.
Selain itu, seseorang perlu melatih cognitive flexibility, yakni kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda, termasuk berani berdebat dengan pandangan yang tidak disukai. Masyarakat juga perlu membangun “safety net” seperti keterampilan tambahan, komunitas, dan tabungan agar tetap memiliki penyangga ketika satu aspek kehidupan runtuh.
Pada level organisasi dan negara, resilience berarti memiliki cadangan pangan, cadangan devisa, dan rantai pasok alternatif. Redundancy bukan pemborosan, melainkan premi asuransi menghadapi krisis. Sistem juga harus dirancang agar kegagalan kecil tidak langsung menghancurkan keseluruhan sistem. Di saat yang sama, budaya psychological safety perlu dibangun agar orang berani melaporkan masalah sebelum berubah menjadi krisis besar.
Meski demikian, bukan berarti kecerdasan harus dibuang. Kecerdasan tetap penting sebagai kompas, sementara resilience menjadi kaki yang membuat seseorang terus bergerak. Kompas tanpa kaki hanya membuat seseorang tahu arah tanpa pernah sampai tujuan. Sebaliknya, kaki tanpa kompas hanya membuat seseorang berjalan cepat tanpa arah yang jelas.
Di era stabil, kompas mungkin lebih penting. Namun di era penuh kabut seperti sekarang, kaki menjadi jauh lebih menentukan.
Persoalannya, resilience justru minim dimiliki sebagian generasi muda, termasuk generasi Z dan milenial, yang dalam banyak hal tumbuh terlalu nyaman dan kurang terlatih menghadapi kerasnya pertarungan hidup global. Padahal Indonesia dapat bertahan hingga hari ini bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena kombinasi antara resilience dan IQ yang menjadi penuntun dalam perjalanan bangsa. Generasi Z atau Milenial beda dan jauh secara mental dengan generasi pendobrak saat 1945, yang memang ditempa dalam kekuatan Resilience
Menariknya, konsep resilience sebenarnya sudah lama hidup dalam ajaran lokal Nusantara, salah satunya melalui Tri Dharma yang diwariskan. Meski tidak menggunakan istilah resilience, ajaran tersebut memiliki substansi yang sejalan dengan empat pilar resilience modern: anticipation, absorption, adaptation, dan recovery.
Tri Dharma terdiri atas Dharma Agama, Dharma Negara, dan Dharma Masyarakat
Dharma Agama mengajarkan manusia menjaga batin tetap tenang dan memiliki pegangan nilai ketika dunia kacau. Orang yang memiliki pegangan nilai tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi krisis. Hal itu terlihat pada sosok yang tetap bertahan meski berkali-kali kalah perang dan dikejar Belanda karena perjuangannya didasarkan pada dharma, bukan kepentingan pribadi.
Dharma Negara berkaitan dengan kemampuan menjaga sistem agar tidak mudah runtuh. membangun sistem pajak, militer, dan irigasi yang mandiri sehingga mampu bertahan menghadapi tekanan kolonial. Ketika situasi berubah, ia juga mampu beradaptasi dari strategi gerilya menuju diplomasi dan pembangunan ekonomi.
Sementara Dharma Masyarakat menekankan pentingnya hubungan sosial dan kepercayaan publik. Dalam sejarahnya, dukungan rakyat menjadi faktor utama kekuatan . Rakyat bukan hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga sumber kekuatan sosial yang menyerap guncangan krisis.
Di era ketidakpastian seperti sekarang, Tri Dharma menjadi semakin relevan. Kecerdasan hanya menjawab apa yang benar secara teknis. Namun Tri Dharma menjawab apa yang benar secara manusiawi.
Ketika masyarakat kehilangan pegangan nilai, Dharma Agama menjadi penting. Ketika institusi rapuh dan mudah runtuh, Dharma Negara menjadi kebutuhan. Ketika polarisasi dan krisis kepercayaan meningkat, Dharma Masyarakat menjadi fondasi utama.
Karena itu, orang pintar tanpa pegangan nilai berpotensi menjadi oportunis. Organisasi yang cerdas tetapi kehilangan ruh kemanusiaan juga akan mudah rapuh saat diuji krisis.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah bangsa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali. Sejarah membuktikan bahwa mampu bertahan puluhan tahun menghadapi tekanan kolonial bukan semata karena kejeniusannya, tetapi karena fondasi nilai yang membuat dirinya, pasukannya, dan rakyatnya tahan guncang.
Tri Dharma pada akhirnya bukan hanya tentang bertahan hidup. Ia adalah resilience yang memiliki ruh dan tujuan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.
Oleh: Agus Widjajanto, Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa.