Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

Telegrafi Rabu, 22 April 2026 | 15:39 WIB Waktu Baca 10 Menit
Bagikan
Agus Widjajanto
Bagikan

Ia mengajarkan bahwa dalam membaca realitas, yang harus dilihat bukan hanya kata-kata, tetapi juga arah kepentingan di baliknya.

Setiap bangsa memiliki cara untuk membaca dirinya sendiri. Dalam tradisi Jawa, salah satu alat baca itu adalah Serat Darmo Gandul dan Gatoloco, dua simbol yang bukan sekadar cerita, melainkan pisau analisis untuk membedah watak kekuasaan, moralitas, dan keberpihakan.

Di masa lalu, Darmo Gandul adalah sindiran halus terhadap elite yang tampak luhur, berbicara atas nama nilai, tetapi hidup “menggantung” bergantung pada kekuasaan kolonial. Mereka tidak terlihat sebagai penjajah, tetapi justru menjadi jembatan yang menghubungkan penjajah dengan rakyat yang dijajah. Sementara Gatoloco adalah antitesisnya: liar, kasar, tidak santun, tetapi jujur dan tidak mau tunduk pada kepentingan luar.

Hari ini, konfigurasi itu tidak hilang. Ia hanya berganti wajah.

Jika dahulu yang dikritik adalah elite agama dan birokrat kolonial, maka hari ini pola yang sama dapat dibaca dalam sebagian praktik aktivisme modern. Ada kelompok yang tampil dengan narasi moral tinggi hak asasi manusia, keadilan, demokrasi, namun dalam praktiknya, sering kali menimbulkan pertanyaan: kepada siapa mereka sebenarnya berpihak?

Fenomena ini menjadi semakin terlihat dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Sejak awal, kasus ini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga arena pertarungan narasi. Sejumlah aktivis dan lembaga swadaya masyarakat tampil sangat vokal, bahkan cenderung membela secara total tanpa memberi ruang pada proses pembuktian yang utuh.

Yang menarik bukan sekadar sikap membela karena advokasi memang bagian dari demokrasi, melainkan pola yang muncul: narasi dibangun lebih dulu, kesimpulan ditarik lebih cepat daripada fakta, dan opini publik digiring sebelum proses hukum selesai.

Di titik ini, pertanyaan menjadi relevan: apakah ini murni dorongan keadilan, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?

Dalam kerangka Darmo Gandul, pola semacam ini bisa dibaca sebagai bentuk ketergantungan baru. Bukan lagi kepada kekuasaan kolonial secara langsung, tetapi pada ekosistem global yang membentuk arah wacana. Aktivisme tidak lagi sepenuhnya organik, melainkan berpotensi menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas—yang memiliki agenda, kepentingan, dan arah tertentu.

Kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya keterkaitan dengan pendanaan asing pun bukan tanpa alasan, meskipun tentu membutuhkan pembuktian yang jelas. Dalam geopolitik modern, bantuan dan pendanaan sering kali tidak berdiri di ruang hampa. Ia membawa nilai, perspektif, bahkan kepentingan. Ketika sebuah gerakan terlalu konsisten selaras dengan narasi global tertentu, tetapi kurang sensitif terhadap konteks lokal, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan independensinya.

Di sinilah Gatoloco menjadi relevan kembali. Dalam konteks hari ini, “Gatoloco” bukan berarti sosok yang serampangan atau tanpa etika, tetapi representasi dari keberanian untuk berpikir mandiri. Ia mungkin tidak populer, tidak dibungkus dengan jargon internasional, bahkan bisa dianggap “tidak progresif”, tetapi ia berdiri tanpa bergantung.

Sebaliknya, “Darmo Gandul” gaya baru justru tampil rapi, sistematis, dan terdengar benar. Ia menguasai bahasa global, memahami cara membangun opini, dan mampu memanfaatkan momentum isu. Namun satu hal yang menjadi pembeda tetap sama seperti dulu: apakah ia berdiri sendiri, atau menggantung pada kekuatan lain?

Pelajaran yang diwariskan oleh R.M.P. Sosrokartono kepada Soekarno bukanlah sekadar strategi politik, melainkan kemampuan membaca manusia dan kepentingan di baliknya. Ia mengajarkan bahwa dalam perang pikiran, yang paling berbahaya bukan musuh yang terlihat, tetapi pengaruh yang menyamar sebagai kebaikan.

Serat Darmo Gandul dan Gatoloco itu senjata kritik paling Sun Tzu dari Sosrokartono. Tidak frontal, enggak bisa ditangkap Belanda, tapi nusuk ke ulu hati kaum agama dan pemimpin pribumi yang jadi “jongos” penjajah saat itu di era pra kemerdekaan , bedah lengkapnya:

Asal-usul: Serat Darmo Gandul dan Gatoloco

1. Bukan karangan Sosrokartono, tapi dipopulerkan dia
Serat Darmo Gandul naskah anonim abad 19, Gatoloco tokohnya. Isinya sindiran buat raja Jawa & ulama yang kolaborasi sama Belanda.

Sosrokartono tahun 1920-an yang hidupin lagi naskah ini di Bandung. Dia pakai buat ngajar murid-muridnya, termasuk Soekarno, buat bedah karakter pemimpin dan agama.

2. Kenapa pakai serat?

Ini don’t lie, but don’t tell the truth. Kalau Sosrokartono teriak “ulama ini antek Belanda”, besok ditangkap. Tapi kalau bahas “Gatoloco”, semua paham tapi Belanda bingung. Perang pikiran lewat wayang.

2. Isi Kritik Darmo Gandul vs Gatoloco

Tokoh Makna Sosrokartono Kritik ke Kaum Agama dan Pemimpin Zaman Itu

Darmo Gandul Pemimpin/Politik maupun agamawan yang ngaku suci, ngaku luhur, tapi hidupnya gandul = numpang ke kekuasaan asing. Dalilnya dipakai buat legitimasi penjajah. Ulama & Bupati yang fatwanya pro-Belanda: “Taat sama Gubermen itu bagian dari iman”. Padahal dibayar. Jual agama buat jabatan. Ini yang ditakutin Kartini: perempuan disuruh nerima pingitan atas nama agama, padahal itu pesanan feodal.

Baca Juga :  Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Gatoloco Tokoh ugal-ugalan, omongannya kasar, kelakuannya nyleneh, tapi jujur ke rakyat & nggak mau didikte asing. Sindiran ke pemimpin yang “nggak alim” tapi berani: Samin Surosentiko, petani-petani yang nolak bayar pajak ke Belanda. Walau dicap “kafir” sama Darmo Gandul, Gatoloco justru bela rakyat.

Kalimat kunci Sosrokartono ke Soekarno:

“Zaman edan pilihannya cuma dua: jadi Darmo Gandul atau jadi Gatoloco. Tapi pemimpin sejati harus bikin jalan ketiga: ambil jujurnya Gatoloco, ambil wibawanya Darmo, buang numpang dan ugal-ugalannya.”
Jalan ketiga itu yang dipakai Soekarno: Satyam Eva Jayate, pakai sarung dan peci kayak santri, tapi pidatonya bakar London.

3. Relevansi Sebelum Merdeka dan Sekarang

1. Sebelum 1945

Darmo Gandul = kaum yang bilang “jangan lawan Belanda, nggak kuat, nanti kualat”.
Gatoloco = kaum menengah yang diam yang kerap dicap nggak beragama karena rata rata kaum terdidik ”.
Sosrokartono bongkar: yang teriak agama dan bela rakyat belum tentu bela rakyat. Yang dicap nakal belum tentu salah. Ukurannya satu: memihak ke asing atau ke bangsa sendiri? Ini politik tingkat tinggi.

2. Tahun 2026

Darmo Gandul gaya baru = tokoh/tokoh politik /influencer yang pakai dalil & nasionalisme, tapi endorse-nya produk luar, FYP-nya disetir asing, ngamuk kalau impor dibatasi. Sugih banda, kere pikiran.

Gatoloco gaya baru = yang dicap “radikal/nyinyir” karena bela kebenaran aturan hukum, padahal datanya benar dan nggak mau duit asing.

Perang pikiran Bapak: kalau rakyat nggak ngerti bedanya, kita milih Darmo Gandul terus. Kelihatan alim, selalu teriak Bela Rakyat padahal gandul.

4. Kenapa Ini “Terang” ala Sosrokartono

Habis Gelap Terbitlah Terang = gelapnya pikiran karena nggak bisa bedain mana Aktifis beneran, mana Aktifis gandul.
Sosrokartono kasih senter: lihat jejak uang dan keberpihakannya, jangan dengar sorbannya.
Itu imunitas pikiran yang Bapak tulis. Emansipasi Kartini gagal kalau perempuannya nurut sama Darmo Gandul. Kemerdekaan Soekarno gagal kalau rakyatnya milih pemimpin gandul.

Jadi kritik Darmo Gandul-Gatoloco itu pondasi karakter bangsa dimana Sosro Kartono adalah peletak dasar Membangun Karakter Anak Bangsa .

Dalam konteks ini, aktivisme yang kehilangan pijakan pada realitas objektif justru berisiko menjadi alat, bukan kekuatan. Ketika advokasi berubah menjadi pembelaan tanpa kritik, ketika empati berubah menjadi alat tekanan, dan ketika narasi lebih cepat daripada fakta, maka yang terjadi bukan lagi pencarian keadilan, melainkan pembentukan persepsi.

Kartini berbicara tentang terang, tentang keluar dari kegelapan pikiran. Namun terang itu tidak datang dari suara yang paling keras, melainkan dari kejernihan dalam membedakan. Membedakan antara perjuangan dan kepentingan, antara keberpihakan dan ketergantungan, antara Pelajaran penting dari Kartini dan Sosrokartono bukan sekadar tentang emansipasi atau kecerdasan intelektual, tetapi tentang keberpihakan yang jernih.

Kartini melawan ketidakadilan dengan pikiran yang merdeka, sementara Sosrokartono memastikan bahwa perjuangan itu tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan yang lebih besar. Ia mengajarkan bahwa dalam membaca realitas, yang harus dilihat bukan hanya kata-kata, tetapi juga arah kepentingan di baliknya. Siapa membiayai, siapa diuntungkan, dan ke mana narasi itu digiring.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam konteks hari ini bukan lagi sekadar metafora pencerahan, melainkan kemampuan untuk membedakan mana aktivisme yang lahir dari nurani dan mana yang tumbuh dari ketergantungan. Terang itu bukan datang dari suara paling keras, tetapi dari kejernihan dalam melihat struktur di balik suara tersebut. Jika publik gagal membedakan keduanya, maka kita hanya berpindah dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lainnya dari penjajahan fisik menuju penjajahan pikiran.
Yang suara rakyat dan gema dari luar.

Hari ini, tantangan terbesar bukan kekurangan aktivis, melainkan kejelasan arah aktivisme itu sendiri. Apakah ia benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, atau justru menjadi bagian dari arus global yang lebih besar?

Serat Darmo Gandul tidak pernah memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya memberi alat: lihat siapa yang diuntungkan, lihat ke mana arah gerakan, dan lihat apakah ia berdiri tegak atau menggantung.

Di situlah publik diuji.

Karena dalam dunia yang penuh narasi, kebenaran tidak selalu datang dengan suara paling lantang—tetapi sering kali bersembunyi di balik kesunyian, seperti yang diajarkan Sosrokartono.


Oleh: Agus Widjajanto, Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsa.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Permohonan Maaf Kepada Seluruh Rakyat Lebanon

Waktu Baca 13 Menit
Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?