Di ruang publik hari ini, ada satu pola usang yang terus berulang: ketika seseorang menempati posisi strategis atau tampil menonjol, ia serta-merta menjadi sasaran tembak. Ironisnya, peluru yang ditembakkan bukan berupa kritik atas kebijakan atau kinerja, melainkan serangan personal yang nihil relevansi mulai dari fisik, gaya, latar belakang, hingga hal-hal remeh yang sengaja dicari-cari kesalahannya.
Fenomena ini berakar kuat pada psikologi sosial. Kita mengenalnya sebagai crab mentality (mentalitas kepiting). Ketika satu kepiting berusaha keluar dari ember, kepiting lain justru akan menariknya turun. Bukan karena mereka tak mampu naik, tapi karena mereka tak rela ada yang mendahului. Keberhasilan orang lain memicu rasa tidak nyaman, sebab kehadiran si “pemenang” seolah menjadi cermin yang memantulkan ketertinggalan mereka.
Di budaya lain, ini dikenal dengan istilah tall poppy syndrome: bunga yang tumbuh paling tinggi harus dipotong agar rata dengan yang lain. Sosok yang menonjol dianggap mengancam keseimbangan. Cara paling instan untuk “menyeimbangkan” keadaan bukanlah dengan memacu prestasi sendiri, melainkan menjatuhkan mereka yang di atas lewat serangan paling purba: personal.
Pola ini tergambar jelas dalam dinamika percakapan publik seputar Teddy Indra Wijaya (Sekretaris Kabinet RI) belakangan ini. Terlepas dari pro-kontra yang wajar dalam iklim demokrasi, mayoritas serangan terhadapnya justru tidak berpijak pada substansi kebijakan, melainkan menyasar ranah personal yang tidak relevan. Tentu, Teddy bukan satu-satunya; fenomena sosio-psikologis ini menimpa banyak tokoh dan pemimpin lain yang sedang berada di panggung utama.
Lalu, mengapa serangan ini jarang menyentuh substansi? Jawabannya sederhana:
Menyerang argumen butuh data. Mengkritik prestasi butuh kapasitas. Tapi menyerang pribadi? Itu jauh lebih mudah, murah, dan cepat viral.
Dalam ilmu logika, ini adalah cacat pikir ad hominem atau menyerang pembawa pesan, bukan isi pesannya. Secara psikologis, ini tak lebih dari mekanisme pertahanan diri. Mereka yang tak mampu bersaing secara sehat mengambil jalan pintas: merendahkan orang lain agar diri mereka terlihat setara, atau merasa lebih superior.
Bahayanya, serangan ini jarang berhenti pada individu dan kerap bereskalasi menjadi kerumunan digital. Narasi yang sama diulang, diamplifikasi, dan diviralkan hingga menciptakan ilusi “kebenaran bersama”. Padahal, itu tak lebih dari ruang gema (echo chamber) di mana suara yang sama dipantulkan berkali-kali.
Di titik inilah persepsi mengalahkan logika. Publik tak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas prasangka mereka. Fakta yang berseberangan diabaikan, sementara hoaks yang mendukung kebencian dipegang erat. Mengapa? Karena mengakui kekeliruan, atau sekadar mengakui rasa iri terasa jauh lebih menyakitkan daripada mempertahankan narasi yang salah.
Lantas, apa yang bisa dilakukan?
Nasihat untuk “abaikan saja” mungkin terdengar klise. Namun, dalam kacamata ilmu perilaku, ini adalah respons paling rasional. Setiap serangan butuh bahan bakar bernama reaksi. Tanpa reaksi, apinya padam. Tanpa drama, perhatian publik akan berpindah. Itulah realitas sosial kita hari ini.
Diam, dalam konteks ini, bukanlah sebuah kekalahan. Diam adalah pilihan sadar untuk tidak bertarung di arena yang salah.
Pada akhirnya, waktu adalah penyaring yang paling brutal sekaligus adil. Kinerja akan bersuara lebih lantang dari cacian. Rekam jejak akan membuktikan kapasitas. Cepat atau lambat, publik akan mampu membedakan mana yang sekadar bising, dan mana yang benar-benar bernilai.
Fenomena ini menitipkan satu pengingat sederhana: Tidak semua suara keras itu benar, dan tidak semua yang diserang itu salah.
Kadang, yang terjadi justru sebaliknya.
Oleh: Aloysius E. Frans, sebuah catatan dari pinggir Nusa, Flores, 19 April 2026