Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Telegrafi Minggu, 19 April 2026 | 13:12 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Photo Courtesy | Vincent van Zalinge | Unsplash
Bagikan

Di ruang publik hari ini, ada satu pola usang yang terus berulang: ketika seseorang menempati posisi strategis atau tampil menonjol, ia serta-merta menjadi sasaran tembak. Ironisnya, peluru yang ditembakkan bukan berupa kritik atas kebijakan atau kinerja, melainkan serangan personal yang nihil relevansi mulai dari fisik, gaya, latar belakang, hingga hal-hal remeh yang sengaja dicari-cari kesalahannya.

Fenomena ini berakar kuat pada psikologi sosial. Kita mengenalnya sebagai crab mentality (mentalitas kepiting). Ketika satu kepiting berusaha keluar dari ember, kepiting lain justru akan menariknya turun. Bukan karena mereka tak mampu naik, tapi karena mereka tak rela ada yang mendahului. Keberhasilan orang lain memicu rasa tidak nyaman, sebab kehadiran si “pemenang” seolah menjadi cermin yang memantulkan ketertinggalan mereka.

Di budaya lain, ini dikenal dengan istilah tall poppy syndrome: bunga yang tumbuh paling tinggi harus dipotong agar rata dengan yang lain. Sosok yang menonjol dianggap mengancam keseimbangan. Cara paling instan untuk “menyeimbangkan” keadaan bukanlah dengan memacu prestasi sendiri, melainkan menjatuhkan mereka yang di atas lewat serangan paling purba: personal.

Pola ini tergambar jelas dalam dinamika percakapan publik seputar Teddy Indra Wijaya (Sekretaris Kabinet RI) belakangan ini. Terlepas dari pro-kontra yang wajar dalam iklim demokrasi, mayoritas serangan terhadapnya justru tidak berpijak pada substansi kebijakan, melainkan menyasar ranah personal yang tidak relevan. Tentu, Teddy bukan satu-satunya; fenomena sosio-psikologis ini menimpa banyak tokoh dan pemimpin lain yang sedang berada di panggung utama.

Lalu, mengapa serangan ini jarang menyentuh substansi? Jawabannya sederhana:

Menyerang argumen butuh data. Mengkritik prestasi butuh kapasitas. Tapi menyerang pribadi? Itu jauh lebih mudah, murah, dan cepat viral.

Dalam ilmu logika, ini adalah cacat pikir ad hominem atau menyerang pembawa pesan, bukan isi pesannya. Secara psikologis, ini tak lebih dari mekanisme pertahanan diri. Mereka yang tak mampu bersaing secara sehat mengambil jalan pintas: merendahkan orang lain agar diri mereka terlihat setara, atau merasa lebih superior.

Bahayanya, serangan ini jarang berhenti pada individu dan kerap bereskalasi menjadi kerumunan digital. Narasi yang sama diulang, diamplifikasi, dan diviralkan hingga menciptakan ilusi “kebenaran bersama”. Padahal, itu tak lebih dari ruang gema (echo chamber) di mana suara yang sama dipantulkan berkali-kali.

Di titik inilah persepsi mengalahkan logika. Publik tak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas prasangka mereka. Fakta yang berseberangan diabaikan, sementara hoaks yang mendukung kebencian dipegang erat. Mengapa? Karena mengakui kekeliruan, atau sekadar mengakui rasa iri terasa jauh lebih menyakitkan daripada mempertahankan narasi yang salah.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Nasihat untuk “abaikan saja” mungkin terdengar klise. Namun, dalam kacamata ilmu perilaku, ini adalah respons paling rasional. Setiap serangan butuh bahan bakar bernama reaksi. Tanpa reaksi, apinya padam. Tanpa drama, perhatian publik akan berpindah. Itulah realitas sosial kita hari ini.

Diam, dalam konteks ini, bukanlah sebuah kekalahan. Diam adalah pilihan sadar untuk tidak bertarung di arena yang salah.

Pada akhirnya, waktu adalah penyaring yang paling brutal sekaligus adil. Kinerja akan bersuara lebih lantang dari cacian. Rekam jejak akan membuktikan kapasitas. Cepat atau lambat, publik akan mampu membedakan mana yang sekadar bising, dan mana yang benar-benar bernilai.

Fenomena ini menitipkan satu pengingat sederhana: Tidak semua suara keras itu benar, dan tidak semua yang diserang itu salah.

Kadang, yang terjadi justru sebaliknya.


Oleh: Aloysius E. Frans, sebuah catatan dari pinggir Nusa, Flores, 19 April 2026

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial
Waktu Baca 4 Menit
Magang Nasional
Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta
Waktu Baca 3 Menit
vivo Y31d Pro
vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W
Waktu Baca 2 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
Waktu Baca 6 Menit
BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang
Waktu Baca 2 Menit

OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda

Waktu Baca 2 Menit

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Budi Rahardjo
Opini

Presiden Prabowo Mendengar, Indonesia Melangkah: Bebas Aktif di Tengah Pusaran Dunia

Waktu Baca 5 Menit
Foto : Ilustrasi (doc.AI)
Opini

Pernyataan Lama Ketua DPD Kembali Viral, Densus Digital Soroti “Politik Daur Ulang”

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?