Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Tidak Tepat Sasaran, Perlu Ada Pergantian Kebijakan Industri TPT
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Tidak Tepat Sasaran, Perlu Ada Pergantian Kebijakan Industri TPT

Kyandra Jumat, 27 November 2020 | 01:11 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Photo Credit: Buruh memproduksi tekstil di Pabrik Sritex, Sukoarjo, Jawa Tengah. ANTARA/Hafidz Mubarak A.
Bagikan

Telegraf – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dinilai perlu mengganti kebijakan dalam pengembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dari pendekatan pasokan (supply) menjadi kebutuhan (demand). Sebab, selama ini, banyak insentif TPT tidak tepat sasaran.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menerangkan, selama ini, pemerintah banyak melihat pada sisi supply. Padahal, yang penting adalah melihat kebutuhan. Selama ini, banyak roadmap yang dibuat para menteri perindustrian untuk pengembangan TPT, tetapi terus diganti, karena tidak sesuai harapan.

“Jadi, menurut saya, mindset yang harus diubah pertama adalah lihat pasarnya dahulu seperti apa. Ketika kita sudah tahu pasarnya, pengusaha akan mengikuti dan baru kebijakan pemerintah akan menyesuaikan dengan kebutuhan pengusaha,” ujar Aviliani dalam webinar simposium Towards Responsible Supply Chain, Kamis (26/11/2020).

Dia menuturkan, ada dua pasar, yaitu domestik dan ekspor yang dapat dioptimalkan untuk menyerap produk TPT dalam negeri. Saat ini, terjadi peningkatkan kelas menengah yang luar biasa di dalam negeri. Bahkan, pada 2030, jumlah kelas menengah akan mencapai 140 juta orang.

Kelas menengah itu kebanyakan diisi oleh anak-anak milenial yang menjadikan pakaian dan pariwisata sebagai kebutuhan pokok, bukan lagi sekunder. Hal ini tentunya menjadi peluang yang sangat besar untuk pelaku TPT dalam negeri.

“Makanya, sekarang harus menjadi pertimbangan, apakah isentif yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan pasar atau tidak? Lalu, apakah 2022 subtitusi impor sudah siap atau belum? Kalau belum siap, berarti nanti pabrik-pabrik tidak bisa berproduksi. Jadi, di sini menurut saya ada baiknya melihat dari sisi pasar,” ujarnya.

Selanjutnya untuk pasar ekspor, sekarang juga sudah berubah. Dahulu pasar ekspor yang menguntungkan itu dari negara maju, namun sekarang itu kecenderunganya justru negara berkembang.

Setelah pasar, dia menegaskan, pemerintah perlu memperhatikan rantai pasokan yang ada di dalam negeri. Aviliani menerangkan, saat ini, angka incremental capital output ratio (ICOR) Indonesia sangat tinggi, menandakan produktivitas rendah sekali. Sebab, banyak pengusaha yang cenderung nyaman berada di hilir yang nilai tambahnya rendah.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mendorong, para pelaku industri TPT nasional, baik skala besar, menengah, dan kecil untuk mengutamakan penggunaan bahan baku rayon dan poliester, ketimbang katun yang selama ini diperoleh dari impor.

Dari sisi kualitas, dia menuturkan, rayon memiliki keunggulan, dibanding katun, di antaranya bahan lebih lembut tidak mudah kusut dan warna lebih baik. Adapun kelebihan poliester adalah tahan lama, tahan jamur dan bakteri, serta perawatannya lebih mudah.

Dia mengatakan, industri TPT hulu dalam negeri memiliki kapasitas produksi serat rayon dan poliester yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hingga Agustus 2020, kapasitas industri rayon nasional mencapai 800 ribu ton per tahun, sedangkan poliester diproyeksikan mencapai 1 juta ton per tahun pada 2022.


Photo Credit: Buruh memproduksi tekstil di Pabrik Sritex, Sukoarjo, Jawa Tengah. ANTARA/Hafidz Mubarak A.

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Hacking Hackers
Komdigi dan DPR RI Kembali Perkuat Sistem Pertahanan Semesta Digital
Waktu Baca 2 Menit
Pemerintah Dorong Ruang Digital Aman Demi Cetak Generasi Emas 2045
Waktu Baca 2 Menit
Pentingnya Literasi Digital, DPR Bareng Komdigi Bahas Bahaya Judi Online
Waktu Baca 2 Menit
Diundang NASA ke Amerika Si Jenius Raya Pelajar Temanggung Makin Mendunia
Waktu Baca 4 Menit
Bung Karno dan Soerjo Projo: Menakar Nasib Bangsa di Era Prabowo
Waktu Baca 12 Menit

Diduga Ancam Warga Saat Urus Ijin Domisili WNA, Ketua RW di Cengkareng Timur Dipolisikan

Waktu Baca 4 Menit

Antara Resilience, IQ, dan Ajaran Tri Dharma di Tengah Persaingan Global

Waktu Baca 9 Menit

Gerindra Hanya Tegur Anggotanya Yang Kedapatan Merokok Saat Rapat Legislative

Waktu Baca 3 Menit

Bank BSN Kuasai 23,4 Persen Pangsa Pasar KPR Subsidi Nasional hingga April 2026

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Berantas Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Penguatan Literasi Digital

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DPR: Jadi Ancaman Serius, Judol Telah Merambah Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen di Tengah Gejolak Global, Pemerintah Siapkan Stimulus Baru

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Pemerintah Siapkan Insentif Besar untuk Kendaraan Listrik, Target 100 Ribu Unit

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Klaim Sudah Pegang Saham Ojol, Danantara Bakal Tambah Jumlah Saham Lagi

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?