Telegraf, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBNI), menargetkan pertumbuhan kredit pada tahunn ini naik mencapi 13-15 persen dari tahun lalu, hal ini di ungkap Direktur Utama Bank BNI Achmad Baiquni, saat paparan kinerja kuartal pertama tahun 2018, di kantornya, jl Jend Sudirman, Jakarata.
“Kedepan tetap melihat kondisi makro ekonomi, yang mana ekonomi diperkirakan tumbuh 5,3 persen kita berharap bahwa tahun ini yang namanya kredit dimana tahun lalu tumbuh 12,3 persen kita perkirakan di tahun ini akan bisa tumbuh diatas itu yah, kira kira 13-15 persen,” tuturnya Senin (23/04/18).
Untuk mengejar target itu Baiquni menjelaskan dengan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh di kisaran 5,3 serta membaiknya harga komoditi makamemberikan kesempatan baru untuk melakukan ekspansi infrastruktur yang masih menjadi prioritas pemerintah.
Selain itu juga untuk menjaga kredit tetap stabil pihak BNI selalu selektif memberikan kredit terhadap debitur debitur yang akan mengajukan kredit, seperti kredit dalam bentuk faluta asing.
“Yang pasti kami memberikan kredit berupa faluta asing kepada debitur yang memang revenuenya itu dalam bentuk USD dan sebagainya, jadi terhadap debitur debitur yg revenuenya rupiah memang diberikan kredit rupiah, kalau mereka mempunyai revenuenya bentuk falas bisa diberikan kredit falas, ini di berikan untuk menghindari fluktuasi tadi,” kata Baiquni.
Mengawalai pertumbuhan yang positif pada kwartal pertama tahun 2018 kredit BNI tumbuh sebesar 10,0 persen setara dengan Rp439,46 triliun, pertumbuhan ini di topang oleh oleh Kredit Korporasi sebesar Rp 216,09 triliun atau tumbuh 10,9% YOY. Sementara untuk Kredit Segmen Menengah dijaga dengan pertumbuhan konservatif yaitu 5,8% YOY sebesar Rp 3,66 triliun. Kredit Segmen Kecil juga mencatatkan pertumbuhan yang baik yaitu 13,4% YOY atau sebesar Rp 57,73 triliun.
Baiquni menerangkan Untuk menjaga pertumbuhan Kredit Korporasi, BNI menerapkan kebijakan penyaluran kredit antara lain Pemberian kredit kepada high quality corporates baik BUMN maupun Perusahaan swasta utama (Major Player Private Corporates). BNI juga hanya memberikan pembiayaan pada corporates cash flow generator, antara lain dengan memberikan pinjaman kepada operating company, bukan hanya kepada holding company.
“BNI juga selalu mengupayakan perbaikan proses pemberian kredit dengan semakin memperkuat kemampuan para industry specialist. Portofolio pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas BNI dalam menumbuhkan pinjaman pada segmen Korporasi, dimana pada Kuartal Pertama 2018, kredit infrastruktur tumbuh 15,3% YOY, yang didominasi oleh pembiayaan proyek-proyek konstruksi dan jalan tol,” ungkap Baiquni.
Baiquni menambahkan sebenarnya ekspansi kredit tidak semata mata melihat daripada kondisi Non Perfprming Loan (NPL) yang ada tapi, tetap kita coba kaitkan apakah memang ada proteck kita melakukan ekspansiatau tidak.
“Tahun 2015 memang kita melihat kita melakukan istilahnya boleh dikatakan pembersihan, jadi memang seandainya pada saat itu ada debitur debitur kita yang keliatanya sudah bermasalah atau potensi bermasalah kemudian kita melakukan namanya lis truckturing kita itu lebih awal untuk menghindari kredit semakin memburuk, yg disebut waktu itu strategi adalah proaktif konserfatif proaktif,” Baiquni mencontohkan. (Red)