Telegraf, Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) I mengalokasikan belanja modal senilai Rp 18,8 triliun pada tahun ini. Jumlah tersebut meningkat sebesar 135 persen dibandingkan alokasi belanja modal perusahaan pengelola bandara ini pada 2017 yang senilai Rp 8 triliun.
Direktur Utama AP I Faik Fahmi menjelaskan, belanja modal pada tahun ini difokuskan untuk pembangunan bandara baru, yakni Bandara Kulonprogo (Yogyakarta) dan penambahan kapasitas bandara kelolaan, seperti Bandara Ahmad Yani (Semarang), Bandara I Gusti Ngurah Rai (Denpasar), dan Bandara Syamsudin Noor (Banjarmasin).
“Permasalahan kami itu adalah lack of capacity di hampir seluruh bandara kelolaan karena pertumbuhan traffic itu selalu lebih tinggi daripada kemampuan. Ada sembilan bandara dari 13 bandara yang jadi fokus kami untuk ditingkatkan pada tahun ini dan kami siapkan anggaran pengembangan sebesar Rp 18,8 triliun pada tahun ini,” ungkap Faik di Jakarta, Rabu (21/02/2018).
Faik menjelaskan, pembangunan Bandara Kulonprogo menjadi salah satu prioritas AP I pada 2018 ini guna mengejar target pengoperasiannya pada 2019.
Selain itu, BUMN tersebut juga mengejar penyelesaian terminal baru Bandara Ahmad Yani pada 2018. Kapasitas terminal bandara ini yang sebesar 800.000 orang per tahun, jauh di bawah realisasi jumlah lalu lintas penumpangnya pada tahun lalu yang mencapai 4,4 juta orang.
“Bandara Ahmad Yani sudah sangat tidak nyaman. Kami upayakan pada Lebaran tahun ini sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Semarang meskipun time frame-nya itu pada November 2018. Intinya pada 2018 ini kami mempercepat proses peningkatan kapasitas bandara,” imbuh mantan direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry itu.
Terkait Bandara Ngurah Rai, AP I bakal menambah kapasitas apron dengan kebutuhan biaya Rp 2,2 triliun. Pengembangan apron ditargetkan selesai pada Juli 2018. Pengembangan apron dilakukan untuk menghadapi pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group (WBG) di Bali pada Oktober 2018.
Lebih lanjut, Faik menyebutkan, pihaknya pun bersiap untuk mengoperasikan lima bandara yang saat ini masih dikelola oleh unit penyelenggara bandar udara (UPBU) Kementerian Perhubungan (Kemhub). Kelima bandara ini, yaitu Bandara Komodo (Labuan Bajo), Bandara Syukuran Aminuddin Amir (Luwuk, Sulawesi Tengah), Bandara Sultan Babullah (Ternate), Bandara SIS Al-Jufrie (Palu), dan Bandara Sentani (Jayapura).
“Lima bandara ini menjadi rencana pengembangan kami juga. Tapi sekarang masih didiskusikan dengan Kemhub dan dilakukan kajian bersama dengan menggandeng konsultan independen untuk menghitung berapa kebutuhannya,” terang Faik. (Red)