Tingkatkan Pengetahuan Hukum Substantif, Staf MKRI Belajar Ke Belanda

"MKRI akan terus mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk pengembangan sumber daya manusia, sesuai arahan Presiden Jokowi. Ini angkatan tahun ketiga untuk Recharging Programme ke Belanda. Pengembangan kapasitas staf sangat strategis, mengingat beberapa tahun ke depan, mereka lah yang akan mengawal MKRI"

Tingkatkan Pengetahuan Hukum Substantif, Staf MKRI Belajar Ke Belanda

Telegraf, Jakarta – Dalam rangka peningkatan kapasitas analisa hukum yang komprehensif, delapan staf Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) di kirim belajar ke Belanda.

Pelatihan Recharging Programme di The Hague University of Applied Sciences, adalah program yang diberikan oleh StuNed (program beasiswa yang merupakan bagian dari kebijakan kerjasama pembangunan pemerintah Belanda). Yang mana program ini adalah program yang berkelanjutan atas kerjasama Bilateral antara Indonesia dan Belanda.

“Program ini dirancang untuk membantu para peserta mengembangkan pengetahuan hukum substantif, keterampilan hukum, dan etika professional. Termasuk di dalamnya, peserta akan mempelajari perkembangan hukum konstitusional dan hak asasi manusia, serta keterampilan komunikasi hukum, baik untuk keperluan di internal MK maupun untuk publikasi hasil persidangan ke masyarakat umum,” hal itu dikatakan oleh Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl di Jakarta.

Sekretaris Jenderal MKRI, Muhammad Guntur Hamzah, mengatakan sesuai arahan Presiden, dalam rangka meningkatlan pengetahuan sumber daya manusia , MKRI terus berupaya membuka peluang kerjasama dengan berbagai pihak.

“MKRI akan terus mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk pengembangan sumber daya manusia, sesuai arahan Presiden Jokowi. Ini angkatan tahun ketiga untuk Recharging Programme ke Belanda. Pengembangan kapasitas staf sangat strategis, mengingat beberapa tahun ke depan, mereka lah yang akan mengawal MKRI,” ungkap Muhammad Guntur Hamzah Rabu (26/9).

Guntur mengatakan kedelapan staf MKRI yang mendapatkan beasiswa tersebut adalah staf yang sudah melalui masa kerja minimal dua tahun, dan mereka telah mengikuti proses seleksi, mulai administrasi dokumen, wawancara, serta test kesehatan. Pelatihan akan berlangsung selama sepuluh minggu, mulai 7 Oktober sampai dengan 13 Desember 2019, mendatang.

Peter menambahkan pelatihan ini penting bagi MKRI untuk menjembatani kepentingan antar kelompok di Indonesia. Selain itu, tidak hanya peserta saja yang mendapatkan pembelajaran dari Belanda, Belanda juga bisa belajar dari pengalaman MKRI. (Red)


Credit Photo : Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl (tengah) menyerahkan beasiswa secara resmi kepada Sekjen MKRI, Guntur Hamzah (kanan), didampingi Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono (kiri).


Tanggapi Artikel