Perang Dagang Global Tak Berimbas Signifikan Pada Industri Nasional

Perang Dagang Global Tak Berimbas Signifikan Pada Industri Nasional

"Meskipun tidak berdampak langsung namun efeknya bisa mempengaruhi ekspor energi khususnya batubara ke negara-negara penghasil baja. Ekspor batubara ke China diprediksi akan terganggu,"

Perang Dagang Global Tak Berimbas Signifikan Pada Industri Nasional


Telegraf, Jakarta – Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kebijakan tarif impor baru untuk produk baja dan aluminium dari Presiden AS Donald Trump, meski menghebohkan dunia namun, tidak akan terlalu berdampak ke industri baja dan aluminium domestik.

“Memang dikhawatirkan kebijakan Trump ini akan menuai perang dagang dengan China. Bukan tidak mungkin China akan melakukan pembalasan dengan menaikkan bea masuk produk dari AS. Kondisi geopolitik bisa kembali memanas,” ujarnya di Jakarta, Senin (05/03/2018).

Pasar keuangan pun menilai langkah Trump buruk bagi industri otomotif dan infrastruktur yang membutuhkan baja murah dari impor. Kekhawatiran pasar ini menurunkan indeks saham Dow Jones dan S&P di sesi perdagangan Jumat lalu (2/3) yang masing-masing turun 1,68% dan 1,63%.

“Pasar saham di Asia pun menjadi negatif karena porsi ekspor baja Jepang ke AS cukup tinggi,” imbuh dia.

Sementara dampak langsungnya ke produsen baja Indonesia dinilainya tidak terlalu besar. Pasalnya ekspor besi baja Indonesia ke AS tercatat hanya sebesar USD43,7 juta setara Rp603,4 miliar (data BPS, Kemenperin terakhir 2016).

Sementara bagi produsen aluminium juga tidak terlalu besar. Nilai ekspor aluminium Indonesia ke AS tahun 2016 tercatat USD116.000 atau Rp1,6 miliar per tahun.

“Meskipun tidak berdampak langsung namun efeknya bisa mempengaruhi ekspor energi khususnya batubara ke negara-negara penghasil baja. Ekspor batubara ke China diprediksi akan terganggu,” ungkapnya.

Ia pun mengkhawatirkan kalau perang dagang dunia ini terus berlanjut efeknya ke nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2018 akan semakin fluktuatif. “Karena secara fundamental ekonomi kinerja ekspor mempengaruhi permintaan terhadap rupiah,” tegasnya.

Baca Juga :   Milad Ke 7 Jamsyar terus Secure, Survive, Sustain dan Catat Aset 1,9 Triliun

Trump memang sudah menyatakan bahwa dia berencana mengenakan tarif impor 25% pada baja dan 10% pada aluminium pekan depan.

Dia juga mengancam menaikkan pajak mobil-mobil Eropa kalau Uni Eropa melakukan tindakan balasan berkenaan dengan penerapan tarif impor baja dan aluminiumnya.

Kebijakan ini menuai kritik tajam dari sejumlah negara, termasuk Kanada dan Uni Eropa. Selain itu, China juga mengecam keras rencana tersebut.

Sejumlah negara pun menebar ancaman untuk melawan kebijakan Trump tersebut. China menyatakan tidak segan menerbitkan kebijakan untuk merespon kebijakan Trump itu, sementara Uni Eropa mengancam bakal menerapkan tarif untuk impor sejumlah produk dari AS. (Red)


Photo Credit : Kebijakan tarif impor baru untuk produk baja dan aluminium dari AS dinilai tidak akan terlalu berdampak ke industri baja dan aluminium domestik. | File/Dok/Ist. Photo

KBI Telegraf

close