Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Likuiditas Mengering Tersedot Tax Amnesty
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Likuiditas Mengering Tersedot Tax Amnesty

Telegrafi Kamis, 29 Desember 2016 | 19:10 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Petugas melayani wajib pajak untuk memperoleh informasi mengenai kebijakan amnesti pajak (tax amnesty) di "Help Desk" Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak I, Jakarta Selatan, Senin (19/9). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, hingga Senin (19/9), jumlah uang tebusan baru menyentuh angka Rp16,8 triliun, setara 10,8 persen dan masih jauh dari target awal Rp165 triliun. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/foc/16.
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Sepanjang 2016 merupakan tahun yang berat buat perbankan karena harus berebut likuiditas. Dan likuiditas semakin mengering karena tersedot oleh program pengampunan pajak (tax amnesty) pemerintah.

Peneliti Institute for Development on Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan likuiditas perekonomian semakin menghadapi tantangan karena terjadi perang likuiditas masih terus berlanjut.

Semua berawal dari terpilihnya Presiden AS, Donald Trump, yang berdampak pada respon pasar surat utang dengan kenaikan yield atau imbal hasil yang cukup tinggi. Di bawah kepemimpinan Trump, beberapa program seperti belanja infrastruktur yang besar, pemotongan pajak diprediksi mendorong naiknya inflasi. Proyeksi kenaikan inflasi direspon dengan meningkatnya bunga obligasi.

“Sepanjang tahun ini merupakan masa paceklik industri perbankan. Pertumbuhan dana pihak ketiga atau simpanan terus melambat bahkan terus di bawah pertumbuhan kredit. Bahkan hingga Agustus 2016, kondisi perbankan justru membahayakan karena terus menunjukkan tren DPK yang menurun drastis,” kata Bhima.

Padahal, lanjutnya, pada periode yang sama tahun 2015, pertumbuhan DPK masih di atas pertumbuhan kredit. Menurut dia, kondisi tersebut bisa memicu semakin sulitnya sektor riil mendapatkan pembiayaan yang murah dari perbankan.

“Penyebab keringnya likuiditas itu karena terpengaruh dari program pengampunan pajak. Pada November-Oktober itu karena banyak yang ikut tax amnesty, lalu ada Natal dan Tahun Baru banyak nasabah tarik perbankan. Tapi saya kritisi yang paling menarik adalah tax amnesty,” ujarnya.

Baca Juga :  Banyak Perusahaan China Tak Bayar Pajak, Purbaya: Nanti Kita Tindak Cepat

Ia mengungkapkan, pada bulan tersebut banyak nasabah yang bayar uang tebusan amnesti pajak, yang hampir terjadi di seluruh bank, baik bank BUKU I, II, III, dan BUKU IV. Namun yang perlu diperhatikan bahwa tidak semua bank dipilih jadi bank persepsi, sehingga dana tersebut beralih ke bank persepsi yakni bank BUKU III dan IV.

“Nah, kondisi inlah yang kita anggap membahakayan. Likuditasnya sangat ketat. Dana repatrisi pun ternyata sampai saat ini belum teralisasi penuh. Karena tidak semua cash. Ada properti dan kendaraan. Artinya butuh waktu lama untuk dijual dan direpatriasi. Ini sebabkan perang suku bunga,” jelasnya.

Sementara itu, Bhima menuturkan, perbankan juga harus berebut likuiditas dengan pemerintah yang gencar dan agresif menerbitkan SUN dengan tingkat imbal hasil yang tinggi sekitar 8-9%. Sehingga mau tidak mau perbankan juga harus memberikan yield yang lebih tinggi ketika menerbitkan obligasi dibanding bunga SBN.

“Likuditas ketat itu juga kadang-kadang waktunya bersamaan ketika perbankan terbitkan obligasi dan penerbitan surat utang pemerintah. Ketika bank terbitkan obligasi maka bunganya harus lebih menarik dibanding bunga SBN. Ini memacu kondisi likuiditas perbankan,” ucapnya.

Ia menambahkan, kebijakan prefunding atau pembiayaan di awal sebelum tahun anggaran berjalan 2017 saja pemerintah sudah merealisasikan Rp116 triliun. Dalam merealisasikan strategi prefunding tersebut, pemerintah berencana menerbitkan SBN sekitar Rp63,5 triliun. (Red)

Photo credit : Antara/Yudhi Mahatma


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Tekan Unbanked, LPS Targetkan Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan
Waktu Baca 2 Menit
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Waktu Baca 8 Menit
Senator Dayat El: Polri Lebih Efektif di Bawah Komando Presiden Langsung
Waktu Baca 2 Menit
eSIM XL PRIORITAS
eSIM XL PRIORITAS Solusi Konektivitas Digital untuk Gaya Hidup Modern
Waktu Baca 4 Menit
SPPG Yang Tolak Pasokan Dari UMKM dan Petani Kecil Bakal Disanksi BGN
Waktu Baca 2 Menit

Prabowo Bakal Hadiri Seremonial Penerimaan Pesawat Tempur Rafale Buatan Prancis

Waktu Baca 2 Menit

Banyak Perusahaan China Tak Bayar Pajak, Purbaya: Nanti Kita Tindak Cepat

Waktu Baca 2 Menit

378 Pendaftar Lolos Seleksi Administrasi Calon Anggota KIP 2026-2030, Ini Daftarnya

Waktu Baca 12 Menit

10,8 Juta Rumah Ditargetkan Dapat Layanan Internet Murah Pada 2030

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Disetujui DPR, Thomas Djiwandono Kini Jadi Deputi Gubernur BI

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Seorang karyawan melewati layar yang menampilkan pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. ANTARA/Galih Pradipta
Ekonomika

Menunggu Pertemuan The Fed IHSG Dibuka Menguat Hari Ini Capai Level 9.000

Waktu Baca 6 Menit
Ekonomika

Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Bahlil Akan Terbitkan Harga Pokok Minimum Timah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Thomas Djiwandono Keponakan Prabowo Yang Digadang Jadi Deputi Gubernur BI

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Usai Jualan Prabowonomics di WEF, Prabowo Gondol Investasi Senilai Rp90 T ke Indonesia

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Pengolahan Tambang Freeport. ANTARA
Ekonomika

Bidik Produksi 85% Pada 2026 Freeport Kembali Operasikan Grasberg

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Pertumbuhan Perbankan Nasional Terjaga, Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Sampai Saat Ini, SPBU Swasta Belum Memesan Solar ke Pertamina

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?