Kurikulum Nasional dan Modul Untuk Tingkatkan Produksi Kakau

"Diharapkan dapat digunakan dalam pelatihan dan bimbingan teknis pada petani serta dapat memperkuat sistem pelatihan, pendampingan dan penyuluhan terpadu antara pemerintah, penyuluh swadaya (lembaga swadaya masyarakat, Gapoktan dan lain lain) serta pihak swasta (industri kakau dan cokelat)"

Kurikulum Nasional dan Modul Untuk Tingkatkan Produksi Kakau


Telegraf, Jakarta – Guna meningkatkan produksi kakao di Indonesia Badan penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementrian Pertanian (Kementan), bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) dan Cocoa Sustainability Patnership (CSP) meluncurkan kurikulum nasional dan modul pelatihan budi daya berkelanjutan dan paska panen kakau.

Widi Harjono Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementan mengatakan hal tersebut di lakukan untuk memberikan acuan standar secara nasional terhadap upaya peningkataan kapasitas para petani berbagai peningkatan mengenai budidaya kakao yang baik serta pasca panen secara berkelanjutan.

“Diharapkan dapat digunakan dalam pelatihan dan bimbingan teknis pada petani serta dapat memperkuat sistem pelatihan, pendampingan dan penyuluhan terpadu antara pemerintah, penyuluh swadaya (lembaga swadaya masyarakat, Gapoktan dan lain lain) serta pihak swasta (industri kakao dan cokelat),” lanjut Widi.

Ditemui di tempat yang sama Musdalifah Machmud Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kementrian Perekonomian mengatakan selama petani Indonesia pengetahuan mengenai teknik pemeliharaan masih kurangnya, sehingga produksi kakao di indonesia belum maksimal, selain pengetahuan, pohon kakao juga sudah tua serta pemeliharaan juga kurang intensif.

“Pohon yah sudah tua dan pemeliharaannya kurang intensif. Misalnya tidak dipupuk tidak dipangkas dan pengetahuan petani yang masih sangat kurang,” tuturnya usai peluncuran.

Musdalifah juga mengatakan culture di Indonesia adalah nerimo ing pandum, berapapun yang dipanen yah itu adalah rejekinya, masyarakatnya adalah tidak pernah merasa tidak puas, berapapun yang dihasilkan saat panen, sehingga efort untuk mengembangkan atau meningkatkan produksi itu kurang.

“Nyatanya selama tanaman mereka berproduksi mereka berfikir tidak untuk di replanting, kan seberapapun masyarakat kita orangnya sangat humble yah pokonya ada produksi cukup, tidak pernah merasa tidak puas, dia punya pohon ada produksinya dan menghasilkan seberapapun yah itu rejekinya,” kata Musdalifah. (Red)


Photo Credit : Kementrian Pertanian (Kementan), bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakau Indonesia (Puslitkoka) dan Cocoa Sustainability Patnership (CSP) meluncurkan kurikulum nasional dan modul pelatihan budi daya berkelanjutan dan paska panen kakau. Telegraf/Atti Kurnia

Atti K.

close