Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Jadi Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Gantikan Clan Castro
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Internasional

Jadi Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Gantikan Clan Castro

Telegrafi Jumat, 20 April 2018 | 16:43 WIB Waktu Baca 7 Menit
Bagikan
Cuban Vice President Miguel Diaz-Canel (L) talks to Cuba's President Raul Castro during a May Day parade in Havana, Cuba, in this May 1, 2016 file photo. REUTERS/Enrique de la Osa
Bagikan

Telegraf, Kuba – Berakhirnya era klan Castro, yang berkuasa di negara sosialis di benua Amerika itu, kini memiliki pemimpin baru yang mngakhiri klan Castro berkuasa selama lebih dari lima dekade.

Majelis Nasional Kuba memilih Miguel Diaz-Canel sebagai presiden baru sebagai wajah representasi masa depan negara itu. Miami Herald melansir Diaz-Canel menggantikan Raul Castro, yang resmi lengser pada Kamis, 19 April 2018 waktu setempat, setelah sempat berkuasa selama sekitar sepuluh tahun. Raul menggantikan kakaknya, Fidel Castro, yang kemudian meninggal pada 2016. Fidel sempat memimpin Kuba selama sekitar 52 tahun dengan ideologi komunisnya.

“Mandat yang diberikan rakyat kepada majelis ini adalah melanjutkan revolusi Kuba pada saat momen bersejarah yang krusial ini,” kata Diaz-Canel, 57, dalam pidatonya di Majelis Nasional Kuba, setelah terpilih menjadi Presiden, Kamis, (19/04/18).

Diaz-Canel, 57 tahun, yang sebelumnya menjabat wakil Presiden akan memimpin era baru berakhirnya kekuasaan Castro bersaudara, yang telah memimpin negeri di Amerika Latin ini sejak revolusi 1959. Berbeda dengan Castro yang anti-Barat, Diaz-Canel yang lebih muda terlihat tidak terlalu bermasalah dengan budaya lebih liberal. Setidaknya itu terlihat dari cara ia berpakaian dan gaya hidupnya.
Diaz – Canel mengenakan jins dan bukan pakaian bercorak militer, menyukai lagu rock n roll, kerap terlihat membawa komputer tablet dan memiliki akun Facebook, meskipun unggahan tampak dikelola melalui saluran resmi.

Diaz-Canel, seorang insinyur listrik dan birokrat karir, memiliki ikatan kuat dengan Castro bersaudara. Saat muda, dia bergabung dalam dinas militer, yang menjaga keamanan kepada Fidel dan Raul.

Karir politik Diaz-Canel dimulai ketika dia bergabung dalam Union of Young Communists, sayap pemuda partai komunis Kuba.

Sejak itu karirnya berganti-ganti antara jabatan manajerial senior, termasuk menteri pendidikan tinggi, dan dipercayakan memegang jabatan penting di partai. Dari tahun 1994 hingga 2003, Diaz-Canel adalah salah satu kelompok kecil pemimpin partai regional yang berpengaruh, pertama di provinsi Villa Clara, Kuba tengah dan kemudian di provinsi Holguín di timur negara itu.

Diaz-Canel salah satu petinggi partai komunis yang dikagumi warga Kuba berkat kinerjanya yang memuaskan. Dia kadang-kadang muncul di bar lokal untuk berbagi bir dan lelucon bersama warga sipil biasa.

Dan ketika Uni Soviet runtuh pada awal 90-an, yang membuat ekonomi Kuba langsung ambruk, Diaz-Canel memenangkan popularitas karena meninggalkan fasilitas pemerintahnya. Mobil plat merahnya ditinggalkan dan lebih memilih naik sepeda, mengingat saat itu bahan bakar minyak mahal dan langka di Kuba.

Saat kelangkaan listrik melanda Kuba, dia berkeliling untuk meminta maaf kepada warga. Termasuk kepada Guillermo Fariñas, pembangkang Kuba yang dikagumi dan sempat dirawat di rumah sakit karena mogok makan terhadap pemerintah.

“Dia mengatakan halo dan bertanya tentang kesehatan saya,” kata Fariñas yang bingung saat itu.

Diaz-Canel suka mengobrol dengan siapa saja, tentu termasuk wanita. Dia dijuluki sebagai el lindo, si imut, dan secara konsisten digambarkan oleh beberapa orang sebagai pria yang beruntung dalam percintaan. Dia menikahi Liz Cuesta, seorang pejabat pariwisata, yang sering difoto dengannya di acara-acara resmi. Ini menandai perubahan penting dari pernikahan Fidel Castro, yang praktis merupakan rahasia negara selama berdekade berkuasa.

Dia juga lebih terbuka terhadap jurnalis dan media, berbeda dengan pejabat komunis lainnya yang kerap tertutup.

Diaz-Canel, pada kenyataannya, adalah pembaca setia dari koran-koran yang dikontrol ketat di negara itu. Dia sering mengundang wartawan di sepanjang perjalanannya ke pedesaan dan kadang-kadang memanggil mereka untuk menyarankan tentang informasi apa yang baik untuk dibagikan ke publik.

Minatnya melampaui jurnalisme ke seni; dia mempromosikan festival musik rock dan pertunjukan seni ketika banyak pejabat partai masih menganggap peristiwa seperti itu merusak anak muda dan mungkin subversif.

Namun, dia tetap berpatron pada manifesto politik partai komunis dan menjunjung tinggi Bapak Revolusi Kuba, Fidel Castro.

Sejak diangkat jadi wakil Presiden pada 2013, Diaz-Canel dalam pidato-pidatonya, tetap dipenuhi dengan jargon Marxis dan slogan-slogan revolusioner serta tetap memuji penguasa Kuba bahkan ketika tampil di luar negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Diaz-Canel telah melintas tidak hanya Kuba tetapi seluruh dunia sebagai lambang arah politik baru Kuba. Dari pertemuan perubahan iklim di Paris hingga pertemuan di Pyongyang dengan diktator Korea Utara Kim Jong Un, ia telah melintasi pusat kekuatan dunia dan meluangkan waktu dengan para pemimpin asing.

Dia juga diketahui sebagai politisi Kuba yang tidak terlalu keras terhadap musuh utama negara komunis itu, Amerika Serikat.

Sebuah video yang bocor dari pertemuan pejabat partai terlihat Diaz-Canel mengatakan agar Amerika Serikat mencabut embargo dan pembatasan lain terhadap Kuba untuk menormalisasi hubungan kedua negara itu.

Peralihan kekuasaan pada pekan ini di Kuba melambangkan peluang bagi AS untuk kembali terlibat. Diaz-Canel berasal dari generasi muda yang lebih berteknologi tinggi yang ingin Kuba menjadi bagian dari dunia yang saling berhubungan. Diaz-Canel secara pribadi telah memperjuangkan perluasan internet di Kuba dan menyerukan lebih banyak transparansi pemerintah.

Meskipun demikian, beberapa pengamat mengatakan dia tidak akan membawa banyak perubahan pada Kuba.

Brian Lattell, mantan kepala Analisis Amerika Latin di CIA dan penulis biografi Raúl Castro, mengatakan Diaz-Canel adalah manajer bukan seorang visioner sehingga tidak mungkin untuk memperkenalkan perubahan besar di Kuba bahkan jika secara politik memungkinkan.

“Dia mendapatkan pekerjaan karena dia adalah seorang apparatchik; ia setia kepada Raúl,” kata Lattell, seperti dilansir Miami Herald pada 19 April 2018.

Kebijakannya juga kemungkinan tidak akan berubah dari sebelumnya, mengingat Raul Castro tetap menjabat sebagai pemimpin Partai Komunis Kuba, demikian seperti dilansir dari berbagai media. (Red)


Photo Credit : Miguel Diaz-Canel sebagai presiden baru Kuba dianggap sebagai wajah representasi masa depan negara komunis itu. | Reuters/Enrique de la Osa

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Berantas Pinjol Ilegal, Komdigi dan DPR Dorong Penguatan Literasi Digital
Waktu Baca 2 Menit
Penyampaian Fakta Soal Papua Harus Berimbang Dengan Solusi
Waktu Baca 3 Menit
Pesta Babi, Papua dan Pancasila: Ketika Narasi Budaya Memojokkan Pembangunan Indonesia
Waktu Baca 11 Menit
Photo Credit: Teknologi digital semakin memudahkan hidup kita. Namun, penggunaan internet, e-commerce, berbagai aplikasi, dan platform digital lainnya sering “meminta” data pribadi pengguna. Jika tidak berhati-hati, seseorang yang berniat tidak baik mencuri data digital. SHUTTERSTOCK
Waspadai Pinjol Ilegal, Pemerintah Ingatkan Bahaya Penyalahgunaan Data Pribadi
Waktu Baca 2 Menit
Pentingnya Ruang Digital Aman Bagi Kesehatan Mental Anak
Waktu Baca 2 Menit

DPR: Jadi Ancaman Serius, Judol Telah Merambah Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Waktu Baca 2 Menit

Pertahanan Semesta di Era Digital Melalui Kolaborasi Hadapi Ancaman Siber

Waktu Baca 2 Menit

Gandeng DPR, Komdigi Tegaskan Kolaborasi Berantas Darurat Narkoba

Waktu Baca 2 Menit

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen di Tengah Gejolak Global, Pemerintah Siapkan Stimulus Baru

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Internasional

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit
Internasional

Trump Ancam Kanada Jika Terus Melakukan Hubungan Perdagangan Dengan China

Waktu Baca 5 Menit
Internasional

Indonesia dan Prancis Tegaskan Kerja Sama Dalam Pertemuan Paris

Waktu Baca 2 Menit
Internasional

Ancaman Trump Terhadap Greenland Bangkitkan Rasa Persatuan di Denmark

Waktu Baca 11 Menit
Internasional

AS Kirim Kapal Perang ke Iran, Trump: Mereka Kami Awasi Sangat Ketat

Waktu Baca 7 Menit
Internasional

JPMorgan dan CEO Jamie Dimon Kena Gugat Rp84 Triliun Oleh Presiden Trump

Waktu Baca 5 Menit
Internasional

Pidato Prabowo di WEF Davos, Tegakkan Konstitusi dan Supremasi Hukum

Waktu Baca 2 Menit
Internasional

Resmi Hengkang Dari WHO Amerika Serikat Tinggalkan Setumpuk Hutang

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?