Bos Pandawa Tertangkap, Polisi: Tidak Menutup Kemungkinan Ada Tersangka Lain

Bos Pandawa Tertangkap, Polisi: Tidak Menutup Kemungkinan Ada Tersangka Lain

"Kami tidak menutup kemungkinan ada tersangka yang lain karena sistem penarikan uang Pandawa melalui leader. Di bawah Nuryanto ada leader yang mencari investor. Satu leader bisa memiliki ratusan hingga ribuan investor,"

Bos Pandawa Tertangkap, Polisi: Tidak Menutup Kemungkinan Ada Tersangka Lain


Telegraf, Jakarta – Pengusutan kasus investasi bodong Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Group yang dilakukan Polda Metro Jaya masih terus bergulir. Setelah menangkap ketua koperasi itu, Salman Nuryanto alias Dumeri, polisi menduga masih ada sejumlah pihak yang harus bertanggung jawab atas investasi bodong tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat mengatakan, pencarian mereka tidak akan berhenti di Nuryanto. Penyidik akan mendalami kasus ini berdasarkan keterangan Nuryanto yang telah berstatus tersangka.

“Kami tidak menutup kemungkinan ada tersangka yang lain karena sistem penarikan uang Pandawa melalui leader. Di bawah Nuryanto ada leader yang mencari investor. Satu leader bisa memiliki ratusan hingga ribuan investor,” tutur Wahyu di Jakarta, Senin (20/2).

Kepolisian Daerah Metro Jaya dikabarkan telah menangkap bos investasi bodong Pandawa Group, Salman Nuryanto, di kawasan Tangerang, Banten, Senin dinihari, 20 Februari 2017. Salman diduga menggelapkan duit nasabah Pandawa Group mencapai Rp 3,8 triliun dari 549 ribu nasabah.

“Kami tidak menutup kemungkinan ada tersangka yang lain karena sistem penarikan uang Pandawa melalui leader. Di bawah Nuryanto ada leader yang mencari investor. Satu leader bisa memiliki ratusan hingga ribuan investor,” tutur Wahyu.

Nuryanto di Tangerang, Banten, Senin dini hari tadi. Ia ditangkap bersama tiga orang lain yang turut menjalankan Pandawa, yakni Madanime, Taryo dan Subardi.

Penyidik menyebut Madanime merupakan orang kedua di Pandawa. Sementara Taryo dan Subardi berperan sebagai administrator.

Wahyu menuturkan, instansinya akan melacak aset Pandawa. Dugaan sementara, Nuryanto mengalihkan dana yang didapatkannya ke bentuk barang mewah.

“Kami sudah dapat enam kendaraan dan kemungkinan bertambah. Dalam proses ini kami kerja sama dengan OJK dan Kementerian Koperasi untuk menelusuri asetnya,” ujarnya.

Selain itu, kepolisian juga menyita sertifikat yang bernilai Rp250 miliar, 26 komputer, 12 kartu ATM, 12 dokumen, satu alat cetak dan 12 buku tabungan atas nama Nuryanto.

Bekas leader Pandawa Group, Mukhlis Effendi, mengatakan telah mendengar informasi tersebut. “Informasinya ditangkap. Sekarang saya sedang berada di Polda untuk mengkonfirmasi penangkapan itu,” kata Mukhlis.

Mukhlis telah melakukan gugatan perdata terhadap Pandawa Group ke Pengadilan Negeri Kota Depok, Kamis, 9 Februari 2017. Total kerugian yang digugat kepada bos Pandawa Group, Salman Nuryanto, mencapai Rp 400 miliar dari 2.900 nasabah.

”Sebelumnya, kami sudah dua kali somasi. Tapi tidak ada iktikad baik,” kata Mukhlis, yang mendampingi para korban penipuan.

Dana nasabah yang berada di tangannya dan menanam duit investasi ke Salman mulai Rp 20 juta sampai Rp 1 miliar. Bahkan ada gabungan nasabah yang dananya mencapai Rp 4 miliar, Rp 12 miliar, dan Rp 80 miliar, yang diinvestasikan ke Pandawa Group.

Selain itu, pihaknya telah mendata 70 aset milik Salman yang berada di Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan total Rp 100 miliar. Aset tersebut terdiri atas tanah, rumah dan bangunan, vila, serta aset lainya. “Termasuk mobil dan rekening,” ucapnya.

Dengan adanya gugatan ini, ia berharap Salman ataupun pengacaranya mau bertanggung jawab atas masalah ini. Pihaknya akan terus melakukan upaya hukum untuk mengembalikan duit nasabah yang sudah tertipu investasi bodong tersebut.

”Dari 2.900 nasabah yang melakukan gugatan bersama saya belum melaporkan ke polisi. Sebab, akan dituntut secara perdata dulu,” ujarnya. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


KBI Telegraf

close