Antara Jokowi, Bipang Ambawang dan Lebaran

“Kami Kementerian Perdagangan (Kemendag) selaku penanggung jawab dari acara tersebut sekali lagi memastikan tidak ada maksud apa pun dari pernyataan Bapak Presiden. Kami mohon maaf sebesarnya jika terjadi kesalahpahaman, karena niat kami hanya ingin agar semua bangga terhadap produksi dalam negeri, termasuk kuliner khas daerah dan menghargai keberagaman bangsa kita,”

Antara Jokowi, Bipang Ambawang dan Lebaran

Telegraf – Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kuliner khas Kalimantan, Bipang Ambawang, menuai banyak polemik ditengah bulan ramadhan dan jelang lebaran ini.

Di mana diketahui sebelumnya, Jokowi berpidato saat momen Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang di inisiasi oleh Kemeterian Perdagangan (Kemendag).

Pihaknya menyebut banyak makanan khas daerah, termasuk di mana Bipang menjadi satu di antaranya.

“Sebentar lagi Lebaran. Namun karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara, yang rindu kuliner daerah atau mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online.” kata Jokowi.

“Yang rindu makan gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah,” kata Jokowi dalam sebuah video promosi.

Berdasarkan penelusuran yang didapati, video pidato Jokowi itu diunggah di akun YouTube Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada 5 Mei 2021. Pada saat itu, Kemendag menggelar Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Rangkaian dari acara Hari Bangga Buatan Indonesia itu disiarkan secara online di akun YouTube selama 28 menit 39 detik. Presiden Jokowi di acara itu mulai pidatonya di menit 8.23.

Jokowi bermaksud mengajak masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal Indonesia, khususnya membeli dan berbelanja secara daring atau online.

Bipang ambawang menjadi perbincangan luas setelah video Presiden Jokowi itu viral, niat mempromosikan berbagai kuliner khas daerah untuk oleh-oleh mudik yang bisa dipesan secara online pun menuai banyak kritik. Pakar kebijakan publik Achmad Nur Hidayat menilai apa yang terjadi ini sangat keliru dan tidak bisa dicontoh.



“Ramadhan itu bulan suci, dan babi itu haram dan najis dalam kepercayaan muslim. Menggabungkan keduanya dalam satu event pidato adalah ramuan pidato yang keliru dan tidak boleh dicontoh,” kata Achmad Nur Hidayat, Minggu (09/05/2021).

Hidayat berpendapat, komunikasi publik pemerintah saat ini sedang mengalami kemunduran luar biasa.

“Komunikasi publik pemerintah sedang mundur luar biasa. Belum selesai polemik THR PNS tanpa tukin, lalu isu mudik dan kedatangan TKA China, isu pemindahan Ibu Kota di saat pandemi, kini pidato babi panggang menjelang Hari Raya. Mengindikasikan dapur komunikasi pemerintah sedang rapuh dan galau,” jelasnya.

Mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) ini berharap tim komunikasi Presiden Jokowi dievaluasi karena membuat malu presiden seolah-olah tidak memahami perasaan rakyatnya.

Dia menyarankan dapur komunikasi Presiden Jokowi untuk memperbaiki narasi pidato presiden yang lebih berkelas, lebih menyejukkan, dan lebih mendekatkan presiden dengan rakyat khususnya di bulan suci yang penuh berkah ini.

“Ekonomi sedang resesi, rakyat sedang diuji berat karena pandemi, maka suasana krisis dan keprihatinan Presiden Jokowi harus dikedepankan. Perasaan Presiden Jokowi harus senapas dengan perasaan rakyat. Bicara babi panggang (bipang) di suasana menjelang Hari Raya jelas tidak menunjukkan perasaaan senapas dengan mayoritas rakyat yang sedang berpuasa dan sedang meningkatkan iman takwa,” imbuh Direktur Eksekutif Narasi Institute ini.

Menteri Perdagangan Ikut Buka Suara

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi buka suara terkait video Presiden Joko Widodo yang mempromosikan bipang ambawang khas Ambawang, Kalimantan Barat. Lutfi meminta maaf atas kesalahpahaman video tersebut.

Dia mengaku tidak ada maksud apa pun terkait video viral ini. Pasalnya, niat awal dari acara tersebut adalah untuk mempromosikan dan mengajak agar masyarakat Indonesia bangga pada produk lokal.

“Kami Kementerian Perdagangan (Kemendag) selaku penanggung jawab dari acara tersebut sekali lagi memastikan tidak ada maksud apa pun dari pernyataan Bapak Presiden. Kami mohon maaf sebesarnya jika terjadi kesalahpahaman, karena niat kami hanya ingin agar semua bangga terhadap produksi dalam negeri, termasuk kuliner khas daerah dan menghargai keberagaman bangsa kita,” kata Luthfi dikutip dari video YouTube Kementerian Perdagangan, Sabtu (08/05/2021).

Menurut Lutfi, konteks dari video bipang ambawang ini adalah untuk mengajak masyarakat mencintai produk lokal. Pernyataan tersebut ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki beragam suku dan budaya.

Kendati demikian, Lutfi tetap meminta maaf kepada masyarakat Indonesia mengingat video tersebut merupakan bagian dari acara Kemendag. Lutfi pun mengajak masyarakat untuk cinta dan mempromosikan produk lokal khususnya UMKM. “Mari kita bangga dan promosikan kuliner nusantara yang beragam. Sehingga, menggerakkan ekonomi, terutama UMKM,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Timur Juga Ikut Promosikan Bipang

Seolah tak mau kalah dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat belanja Bipang Ambawang yang sempat bikin heboh, Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa juga mengajak warga untuk mencicipi Bipang Jangkar.

Ajakan Khofifah tersebut diunggah dalam akun Instagram pribadinya @khofifah.ip. Orang nomor satu di Jatim itu mengunggah foto dirinya sedang berbelanja Bipang Jangkar di salah satu toko oleh-oleh di Kota Pasuruan, Minggu (09/05/2021).

Pada kesempatan itu, Khofifah didampingi Wali Kota Pasuruan, Saifullah Yusuf dan Plh Sekdaprov Jatim, Heru Tjahjono.

“Kenalkan, ini Bipang Jangkar alias Puffed Rice Cake dari Jawa Timur. Salah satu kuliner legend khas Kota Pasuruan yang sudah ada sejak tahun 1949 silam. Terbuat dari Beras dan Jagung serta terjamin halal 100 persen. Pokoknya, belum ke Jawa Timur kalau belum merasakan cemilan wuueeenaak ini,” tulis Khofifah dalam caption unggahannya.

“Teksturnya renyah, rasanya manis, ada aroma wanginya, dan punya banyak pilihan rasa. Saya yakin siapapun bakal ketagihan sejak kali pertama mencoba. Buat yang penasaran, Bipang Jangkar ini juga sudah tersedia di Marketplace, jadi bisa dikirim ke seluruh Indonesia. Kuy, gaskeun”, imbuhnya.

Unggahan tersebut sontak mendapat reaksi sejumlah netizen.

“Jadi sebagai pengetahuan sajalah Oo akhirnya, nama Bipang ada 2 yaitu Bipang jangkar dan Bipang ambawang. kita tinggal bijak dan akhirnya tahu kalau Indonesia ini beragam. Ada agama yang memperbolehkan dan ada yang tidak, nikmati keberagamanlah,” tulis akun @danang.i.s.

Fadjroel Membela

Sementara itu Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman menyebut bahwa kata Bipang merupakan nama generik makanan jaman dulu.

“BIPANG adalah NAMA GENERIK makanan jaman dulu khas Kalimantan (Bepang), Sulawesi (Bepang) & Jawa (Jipang). Dikampungku Kalimantan Selatan, contohnya Bipang AA produksi Bahrul Ilmi (Desa Pingaran Ilir, Kec. Astambul, Kab. Banjar Martapura. WA: 082354436056) ~ #BungFADJROEL #Bipang,” tulis Fadjroel Rachman.

Cuitan Fachri Hamzah

Tak ingin ketinggalan, Fahri Hamzah pun ikut serta mengomentari pidato Presiden Jokowi yang menyebut soal Bipang Ambawang.

Seperti halnya Fadjroel Rachman, dirinya mengunggah tanggapannya melalui cuitan di Twitter pribadinya.

Cuitan Fahri Hamzah yang bernada sindiran menyebut:

“Saya sering katakan, Dapur presiden gak beres…(emoji tertawa).”

Ngabalin Benarkan Promosi Online Jokowi

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin menyebut tidak ada yang salah dengan perkataan Presiden Jokowi.

Karena tujuan Presiden adalah untuk mempromosikan produk lokal nusantara.

Seperti ditayangkan Ngabalin, ia berharap pernyataan Jokowi itu disikapi secara tenang, karena pemerintah memang sedang menggalakkan mencintai produk lokal.

Dan soal promosi kuliner nusantara merupakan acara dari Kementerian Perdagangan.

Menurutnya, ajakan Jokowi itu untuk membeli kuliner khas daerah yang ditujukan untuk semua masyarakat yang rindu pada kampung halaman.

“Acara ini adalah acara yang digelar oleh Departemen Perdagangan dalam rangka mempromosikan, kan kita cinta pada produk-produk nusantara kita. Jadi memang kalau bicara soal lebaran, orang mengidentikkan dengan pulang kampungnya orang Islam,” bebernya.

Politikus Partai Demokrat Angkat Bicara

Sementara itu, politikus Partai Demokrat Andi Arief juga ikut menyindir sikap Presiden Jokowi dalam polemik pidato kuliner babi panggang ambawang. Dia meragukan dalih bahwa Jokowi tidak tahu makanan dari Kalimantan Selatan itu merupakan kuliner babi panggang.

”Ini karakter, berbuat salah tak meminta maaf. Semua tahu pembuatan iklan kuliner ada prosesnya. Tidak mungkin tidak dibaca dan dipelajari sebelumnya,” cuitnya di twitter, Minggu (09/05/2021).

Lebih dari itu, Andi Arief menduga Jokowi memang ingin tampil gagah sebagai pengusung Pancasila dan toleransi lewat iklan kuliner nusantara Kementerian Perdagangan itu. Tetapi apa boleh buat, faktanya justru berkebalikan. Bukan puji dan apresiasi yang diperoleh Jokowi, melainkan malah bully.

”Niat awalnya gagah2an dompleng isu toleransi/pancasila. Kegaduhan yg muncul, penolakan karakter buruk dan ideologisasi yg dipaksa,” tulis Andi Arief.

Pernyataan Jokowi agar masyarakat membeli kuliner nusantara secara online pada momentum Lebaran itu menuai reaksi negatif dan cemoohan. Sebab Jokowi menyebutkan bipang yang diketahui merupakan babi panggang sebagai salah satu contoh daftar menunya.


Photo Credit: Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kuliner khas Kalimantan, Bipang Ambawang, menuai banyak polemik. FILE/Captured Image BPMI

 

A. Chandra S.

close