4 Tahun Kemkominfo, Ini Pemaparan Rudiantara

"Sebut saja ada startup yang bangun aplikasi transportasi, kesehatan, pertanian dan lain sebagainya. Kita tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai akselerator bagi perkembangan startup di Indonesia. Aplikasi-aplikasi berkembang cepat, karena network juga kita dorong terus,"

4 Tahun Kemkominfo, Ini Pemaparan Rudiantara


Telegraf, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memaparkan pencapaian kinerja selama empat tahun di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengungkapkan, selama periode tersebut, kementerian yang dipimpinnya telah bertransformasi dari regulator menjadi fasilitator dan akselerator. Hal itu dilakukan sesuai implementasi fokus utama Kemkominfo, yaitu percepatan pembangunan jaringan, perangkat, dan aplikasi (Network, Device and Application/NDA).

“Selama empat tahun kepemumpinan Jokowi-JK, peran pemerintah terutama Kemkominfo bergeser dari regulator menjadi fasilitator dan akselerator. Berbagai hal telah kami lakukan, terutama proses perizinan yang teleh disederhanakan, akselerasi perkembangan startup, sambil mempertemukan para pemodal dan startup Indonesia, dan sebagainya,” kata Rudiantara, saat memaparkan pencapaian kinerja, di gedung Kemkominfo, Jakarta, (25/10/18).

Menurut Rudiantara, terkait percepatan pengembangan jaringan (Network), beberapa langkah taktis telah dilakukan, misalnya percepatan adopsi teknologi 4G yang dilakukan pada 2015. sehingga sampai saat ini penyebaran jaringan 4G berkembang sangat pesat, mencapai 73 persen di seluruh Indonesia, dan sekitar 97 persen sudah menjangkau wilayah perkotaan.

“Percepatan penerapan teknologi 4G, roll out-nya sudah mulai dilakukan sejak akhir 2015, dan penyebaran sudah mencapai 73 persen di seluruh Indonesia. Ini kami lakukan percepatan supaya turut mendorong percepatan ekonomi digital di Indonesia,” kata Rudiantara.

Sedangkan untuk jaringan pita lebar, kata Rudiantara, pihaknya gencar mengimplementasikan jaringan fix broadband dan juga wireless broadband yang kecepatan aksesnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pengembangan ekonomi digital. Salah satu yang dilakukan adalah melaksanakan proyek Palapa Ring, yang sediannya ditargetkan semua wilayah terluar, terdepan, terpencil dapat menikmati kecepatan internet broadband pada awal 2019.

“Jadi, nantinya wilayah-wilayah yang tidak dimasuki oleh operator telekomunikasi, akan di-cover dengan jaringan Palapa Ring, yang akan selesai dibangun pada awal 2019,” ungkapnya.

“Selain jaringan, Kemkominfo juga merelisasikan kebijakan perangkat atau device melalui program TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) sebesar 30 persen untuk perangkat 4G bagi vendor smartphone asing yang memasuki wilayah Indonesia. Kebijakan TKDN tersebut dikombinasikan, antara tingkat kandungan lokal dari sisi manufaktur, kombinasi perangkat lunak dan perangkat keras (software dan hardware), serta komitmen investasi,” tambah Rudiantara.

“Sebagai produsen smartphone terkenal di dunia, Apple mendirikan pusat riset di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dari tiga negara di dunia yang dibangun pusat riset oleh Apple. Jadi, ini merupakan bentuk dari komitmen investasi. Kita memaksa dan mendorong mereka untuk memenuhi TKDN dalam negeri berupa komitmen investasi,” ungkap Rudinatara.

Dari sisi aplikasi, terbukti dengan kehadiran berbagai aplikasi yang dibangun oleh developer lokal, terutama startup-startup yang sedang berkembang di Indonesia. Bahkan, Kemkominfo memiliki program gerakan 1000 startup, yang turut memicu kelahiran startup-startup lokal yang mampu mengatasi berbagai solusi di Indonesia.

“Sebut saja ada startup yang bangun aplikasi transportasi, kesehatan, pertanian dan lain sebagainya. Kita tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai akselerator bagi perkembangan startup di Indonesia. Aplikasi-aplikasi berkembang cepat, karena network juga kita dorong terus,” jelas Rudiantara.

Komersialisasi Palapa Ring

Sementara itu, salah satu fokus yang sedang digalakan oleh Kemkominfo terkait pembagunan infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air adalah Proyek Palapa Ring, yang mencakup paket barat, tengan, dan Timur. Ketiga paket proyek ini ditargetkan akan mulai beroperasi dan komersialisasi pada Februari 2019.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) Anang Latif menngungkapkan, dari ketiga paket tersebut, paket barat sudah 100 persen resmi beroperasi, dan saat ini para operator yang akan menggunakan jasa backbone palapa ring tersebut sedang melakukan uji coba menggunakan backbone Palapa Ring paket barat.

“Ada Telkom Group, Moratel, serta Indosat Ooredoo yang sedang menjajaki untuk mengunakan backbone Palapa Ring paket barat. Jadi, secara umum paket barat sudah resmi beroperasi,” ujar Anang.

Sedangkan untuk paket Tengah, saat ini proses konstruksi sudah mencapai 98 persen. Sementara, paket Timur sudah mencapai 74 persen. “Target kita itu Januari-Februari 2019, semua proyek Palapa Ring sudah resmi beroperasi dan komersialisasi,” imbuh Anang.

Sedangkan untuk Base Tranceiver Station (BTS) untuk menjangkau wilayah 3T yang tidak di-cover oleh operator, BAKTI sendiri saat ini sudah membangun sekitar BTS di 855 lokasi di wilayah tersebut. Sedangkan, akses internet wilayah remote, yang tidak bisa di-cover oleh BTS maupun jaringan fix Broadband, BAKTI mengupayakan dengan memberikan akses melalui satelit. Saat ini sudah sekitar 2787 lokasi yang sudah dijangkau satelit yang didanani oleh BAKTI.

“Ada sekolah, Rumah Sakit, Kantor desa, dan berbagai instasi lain yang ada di masyarakat wilayah 3T yang sudah kita cover dengan satelit. Nantinya kita juga akan meluncurakan satelit HTS (High Troughput Satelit) untuk men-cover wilayah-wilaya tersebut. Saat ini sedang dalam proses pelelangan untuk pembuatan satelit tersebut,” ungkap Anang.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Danny Buldansyah, mengatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja Kemkominfo yang turut mendorong perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia. Menurutnya, banyak terobosan positif yang dilakukan dalam membangunan perkembangan telekomunikasi dan digital di Indonesia.

“Misalnya program registrasi kartu pra bayar, lelang frekuensi dan masih banyak lagi. Itu semua dilakukan untuk turut membantu perkembangan industri telekomunikasi di Tanah Air,” ungkap Danny.

Danny juga mengharapkan supaya ke depannya Pemerinatah tetap terus melakukan lelang frekuensi kepada operator, sehingga bisa terus menaikkan service level kepada para pelanggan.

“Tidak hanya itu, kita mengharapkan supaya ada efisiensi di industri telekomunikasi. Sehingga, operator telekomunikasi bisa berkembang secara sehat dan kompetitif,” tambahnya. (Red)


Photo Credit : Menkominfo Rudiantara. Telegraf/Koes W. Widjojo

KBI Telegraf

close