2018 Ekonomi Indonesia Diprediksikan Tumbuh Sekitar 5,6 Persen

2018 Ekonomi Indonesia Diprediksikan Tumbuh Sekitar 5,6 Persen

"Kenaikan beberapa harga seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak pengaruh, pemerintah akan tetap menjaganya agar stabil,"

2018 Ekonomi Indonesia Diprediksikan Tumbuh Sekitar 5,6 Persen


Telegraf, Jakarta – Perusahaan finansial multinasional, UBS optimis dengan perekonomian Indonesia tahun 2018 ini. Ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sekitar 5,6 persen karena ditopang oleh tingkat investasi dan konsumsi masyarakat.

Ekonom UBS Edward Teather memaparkan, prediksi tersebut memang lebih tinggi dibandingkan dengan target pemerintah yang tercatat di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

“Untuk investasi di Indonesia akan sangat didukung oleh kenaikan harga komoditas yang diekspor,” ucap Edward, Senin (05/03/2018).

“Jumlah investasi di Indonesia menunjukan perbaikan beberapa waktu terakhir. Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 2017 sebesar Rp692,8 triliun atau lebih tinggi dari target yang ditetapkan, yakni Rp678,8 triliun,” katanya.

“Tingginya investasi menunjukan kepercayaan investor untuk mendorong konsumsi pada tahun 2018,” jelasnya.

Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun ini. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit sepanjang tahun lalu meningkat sekitar 8 persen (yoy) menjadi Rp4.782 triliun. Sementara itu, pada awal tahun 2018 atau tepatnya Januari kemarin pertumbuhan kredit hanya sebesar 7,4 persen (yoy).

“Tingkat pertumbuhan kredit sangat berpengaruh, terutama kredit ke sektor riil,” terang Edward.

Dengan pertumbuhan kredit di sektor riil, jumlah investasi yang dikucurkan oleh perusahaan otomatis semakin tinggi. Bisa dikatakan, penyaluran kredit dan jumlah investasi saling berkaitan satu sama lain.

Selanjutnya, UBS juga menilai inflasi Indonesia saat ini berada dalam kondisi stabil. Pada Februari 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,17 persen.

“Kenaikan beberapa harga seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak pengaruh, pemerintah akan tetap menjaganya agar stabil,” katanya.

Ia juga menambahkan, ke depan, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) juga diproyeksi melemah, sehingga akan membawa angin segar bagi rupiah, tentunya dengan fundamental ekonomi yang baik, seharusnya rupiah menguat. (Red)


Photo Credit : Perekonomian Indonesia tahun 2018 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sekitar 5,6 persen, hal tersebut karena ditopang oleh tingkat investasi dan konsumsi masyarakat. | Getty Images/Ed Wray

KBI Telegraf

close