Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Arman Yurisaldi Saleh, Dokter Spesialis Saraf Yang Nyeni
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Telecoffee

Arman Yurisaldi Saleh, Dokter Spesialis Saraf Yang Nyeni

Didik Fitrianto Selasa, 6 Oktober 2020 | 11:31 WIB Waktu Baca 5 Menit
Bagikan
Arman Yurisaldi Saleh, Dokter Spesialis Saraf Yang Nyeni
Bagikan

Teleperson – Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Inilah pepatah lama yang kerap dilupakan oleh banyak generasi. Tradisi dianggap sebagai batu sandungan, dekadensi moral, dan penghambat kemajuan teknologi dan pengetahuan. Tragis. Namun berbeda dengan seorang dokter ahli saraf yang sangat berbeda memdang tradisi. Arman Yurisaldi Saleh, menjadi seorang dokter spesialis saraf, bukan berarti membuatnya harus berhenti mencintai dan menikmati tradisi dan budaya Indonesia. Masa kecilnya yang dihabiskan di Bali, pulau kaya tradisi, membuatnya tidak asing dan tidak anti dengan berbagai tradisi unik dan budaya yang ada. Meski begitu, pria kelahiran Malang ini juga tentu tak lupa soal pengabdiannya sebagai seorang dokter.

Hal ini dibuktikan oleh penerbitan dua bukunya yang paling anyar yaitu “Kombinasi 14 sayur dan buah Mentah untuk Mengatasi Depresi Ringan dan Sedang pada Lansia” dan “Sukses ujian SOCA (Student Oral Case Analysis) Neurobehaviour System.” Kedua bukunya itu sangat kental dengan dunia kedokteran dan dunia kesehatan. Dr. dr. Arman Yurisaldi Saleh, MS., Sp.S. juga mengabdi khususnya dalam pelayanan terkait saraf seperti Dementia Management, Pengobatan Migrain, Bell’s Palsy, Stroke, Parkinson, Epilepsi, dan Pain Intervension. Putra dari Wakil Ketua Mahkamah Agung (2013-2016) ini juga aktif mengajar di FK UPN Veteran Jakarta dan fokus pada Neurobehaviour khususnya aspek bela negara dalam mengadapi radikalisme dan terorisme, dengam penguatan kepribadian dan budaya bangsa serta bidang “pain intervention”.

Arman Yurisaldi Saleh. FILE/Telegraf

Menyoal pada kecintaannya terhadap tradisi dan budaya, dokter lulusan Universitas Indonesia ini memandangnya sebagai ketawadhukan atau kerendah-hatian seorang anak pada orang tua. Bahkan ia menyadari keberadaannya sekarang adalah buah dari orang tua dan leluhurnya masa dulu, juga para tokoh, para ulama, dan para pahlawan. “Kita bisa menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini dari jasa-jasa beliau itu,” ungkapnya. Walhasil, tardisi tabur bunga di taman makam pahlawan atau nyadran dalam tradisi Jawa menjadi sebuah titik kesadaran manusia untuk selalu mengingat kemana masa depannya nanti. Inilah buah perjalanannya, dr. Arman banyak menemukan makna spiritual pitutur dan filosofi dari berbagai tradisi dan budaya.

Pria yang mengambil pendidikan doktornya di Universitas Airlangga ini juga menaruh perhatian pada tradisi laku ritual sesaji sebagai sebuah ritus tradisi atau budaya yang harus tetap dijaga untuk menyadarkan tentang keharmonisan alam, manusia, dan Tuhan. Dalam benak orang yang gagap tradisi, tentu mendengar istilah sesaji mungkin akan terbayang semua ritual mistis yang menyesatkan. Sesungguhnya, jauh di luar itu, sesaji atau sedekah adalah upaya manusia untuk memunculkan eksistensinya sebagai manusia, khalifah di muka bumi. “Sesaji adalah implemetasi keharmonisan dan keseimbangan alam. Bahkan dalam beberapa penelitian tentang sesaji dan sedekah menunjukkan bagaimana manusia berusaha menjaga alam yang selalu memberikan banyak manfaat bagi manusia. Bahkan, kajian ini telah menjadi bahas tesis atau disertasi di berbagai perguruan tinggi loh.”

Tidak banyak kita bisa mengenal seorang ahli science (kedokteran) yang mampu mengelaborasikan tradisi dan ilmu pengetahuan modern. Menilik berbagai kisah masa lalu, tentu kita akan banyak disuguhi berbagai peristiwa heroik dalam hal pengorbanan atau sesaji. Tengok saja peristiwa anak Nabi Adam AS, Qabil dan Habil hingga kisah Nabi Ibrahim AS yang harus mengobrakan anaknya, Nabi Ismail AS.Peristiwa inilah yang selanjutkan dihormati oleh orang muslim dengan merayakan hari raya Idul Adha atau hari raya Qurban.

Membicarakan tradisi, membuat kita semakin bisa memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia yang memanusiakan manusia, menuhankan Tuhan dan mengalamkan alam. Kecintaannya pada tradisi dan kebudayaan, bagi Pria yang telah mematenkan puluhan karyanya ini, khususnya budaya Jawa tidak pernah ragu dan bahkan bangga.

Arman Yurisaldi Saleh. FILE/Telegraf

”Inilah jatidiri kita, jatidiri bangsa kita,” ucapnya di akhir perbincangan. Ia tunjukkan beberapa foto kenangannya ketika mengenakan setelan jas beskap Jawa lengkap dengan blangkon. Pakaian adat menjadi simbol tentang keragaman Indonesia. Turut berbusana adat berarti berusaha menguatkan identitas kebangsaan. Mencintai tradisi budaya adalah wujud kebanggan pada negeri sendiri.

“Cintailah Indonesia dengan mencintai tradisimu,” ungkapnya. “dan, jadilah hamba dengan mengukuhkan keberadaan Tuhanmu, Tuhan seluruh alam.” pungkasnya. HFZ


Photo Credit: Arman Yurisaldi Saleh. FILE/Telegraf

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Penyerahan Jabatan Kabais TNI Dinilai Jadi Contoh Bagi Institusi Lain
Waktu Baca 4 Menit
Kasus Air Keras Andrie Yunus Dinilai Lebih Tepat Disidangkan di Pengadilan Militer
Waktu Baca 5 Menit
Framing Dinilai Jadi Skenario Ciptakan Ketidakstabilan Politik dan Geostrategis
Waktu Baca 4 Menit
Permata Sanny Peduli Gandeng YPJI Salurkan Paket Sembako untuk Jurnalis
Waktu Baca 2 Menit
JES Salurkan Bantuan Sembako dan Santunan untuk Warga Kurang Mampu di wilayah Klender Jakarta Timur
Waktu Baca 1 Menit

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Dari Aksi Sosial hingga Diskusi Pasar Modal

Waktu Baca 4 Menit

SOIna Siap Gelar Pekan Special Olympics Nasional 2026 di Kupang

Waktu Baca 3 Menit

BTN Ubah Persepsi Publik, Tak Lagi Sekadar Bank KPR

Waktu Baca 4 Menit

Meneguhkan Kembali Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Sebagai Way Of Life

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Kenaikan PPN 12%
Telecoffee

Kenaikan PPN 12% Tanggung Jawab siapa?

Waktu Baca 2 Menit
Telecoffee

Memenangkan Pancasila

Waktu Baca 5 Menit
Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Telecoffee

Menghadirkan Kembali Negara Pancasila

Waktu Baca 4 Menit
Telecoffee

Tentara Pancasila : Mengenang AH Nasution

Waktu Baca 4 Menit
Telecoffee

Membangun Dengan Basis Konstitusi

Waktu Baca 4 Menit
Telecoffee

Kontra Skema Jalur Sutra

Waktu Baca 3 Menit
Foto : Komisioner BNSP Muhammad Nur Hayid seusai dinyatakan layak mendapat gelar Doktor (DR), Rabu 14 Agustus 2024, di Jakarta (Doc.Ist)
Telecoffee

Muhammad Nur Hayid: Tarekat dan Nasionalisme, Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Waktu Baca 3 Menit
Telecoffee

Namanya Disebut-Sebut Oleh Gibran Saat Debat Cawapres, Siapakah Tom Lembong, Ini Profilnya

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?