Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Penyerapan Kopi Lampung Barat Andalkan Pabrik Besar
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Penyerapan Kopi Lampung Barat Andalkan Pabrik Besar

Atti K. Selasa, 20 Desember 2016 | 15:06 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Gabungan kelompok tani (Gapoktan) kopi Lampung Barat masih andalkan penyerapan hasil produksi panen oleh pabrik-pabrik besar untuk kemasan sachet. Gapoktan juga masih optimis dengan “popularitas” Lampung sebagai sentra kopi robusta di Indonesia. Tujuh puluh persen,Gapoktan masih menyasar pabrik besar. “Petani juga sudah mulai belajar (berbagai proses) terutama roasting (penyangraian),” kata Dedi Supriadi dari Gapoktan Kopi Lampung Barat kepada Telegraf.

Saat ini, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia tumbuh sekitar 5 – 6 persen per tahun.Namun pertumbuhan konsumsi ini tidak diimbangi pertumbuhan produksi kopi, yang besarnya hanya 1-2 persen per tahun. Pemerintah melalui kementerian pertanian (Kementan) terus meningkatkan industri kopi. Saat ini, hasil kopi petani sekitar 35 persennya diserap dalamnegeri. Sisanya, yakni sebesar 65 persen masih diekspor dalam bentuk biji.

“Saya sudah belajar mengenai teori kopi setelah masuk (bekerja) di coffee shop di Gading Serpong (Banten). Pembelajaran (teori) bisa membantu, minimal pemasaran dengan permasalahansupply chain termasuk pabrik-pabrik besar. Proses (pasokan ke pabrik besar) lebih simple, tidak jelimet. Petani tidak lagi harus sortir (green bean).

Keunggulan produksi kopi yang dimiliki Indonesia termasuk Lampung Barat belum dibarengi oleh industri pengolahannya. Sebanyak 80 persen dari produk kopi yang diekspor adalah kopibiji. Hanya 20 persennya yang diproses menjadi kopi bubuk, kopi instan, dan mixed coffee.“Supplier terima kopi dengan proses yang bagus. Kalau kopi asalan, prosesnya hanya dengan petik biji merah, pabrik kopi tidak mau bayar mahal. Teori yang sempat saya pelajari, (yakni) standardisasi kopi yang bagus. Nanti, semua upaya dari penerapan teori bisa meningkatkan kesejahteraan petani.”

Penerapan sistem standardisasi antara GMP, HACCP dan ISO masih rendah. AKibatnya, mutu produk rendah dan tidak konsisten terutama pada industry kecil menengah. Selain itu, kemampuan melakukan inovasi dan diversifikasi produk masih belum maksimal. Padalah, permintaan pasar domistik maupun internasional sudah mengarah pada standardisasi (GMP, HACCP, ISO). Research & Development (R&D) untuk produk kopimasih sangat sedikit dilakukan. Sementara investasi untuk pengolahan produk kopirelatif tinggi.

Trend jumlah konsumen kopi yang terus meningkat baik di Indonesia maupun di pasar internasional. “Sekarang ini, kopi di lampung sedang panen raya, panen bagus. Tetapi permasalahan pada standardisasi, inovasi dan diversikasi (sampai) tidak bisa menunjang panen raya. ”Contoh proses penyangraian belum dibarengi dengan mekanis (dengan mesin).

SehinggaGapoktan seakan take it for granted (masalah minimnya inovasi). Sehingga beberapa IKM kopi masih bangga dengan ‘brand’ kopi klasik. artinya, proses roasting masih dengan cara tradisional. “Kami mengandalkan proses panas (untuk roasting) dari pasir di bawah tungku (pembakaran). Harga juga tidak murah, (yakni) Rp 70.000 per kilo (bubuk). Atau harga satu gelas Rp 40.000.

Banyak warung kopi tradisional menyajikan kopi klasik. Padahal, kopirobustaLampung Barat digunakan untuk bahan kopi espresso coffee shop termasuk Starbucks. Kopi Lampung masih sangat okay.” Permasalahan lain, yakni munculnya negara penikmat kopi baru seperti Tiongkok, Rusia, dll. Life style menjadikan meningkatnya konsumen kopi. Penggunaan jumlah kopi yang meningkat dalam setiap penyajiannya (perubahan budaya dalam pola minum kopi, yaitu dari sistem konvensional (drip coffee) ke pola modern (espresso).

Akibatnya, kebutuhankopi mengalami peningkatan dari 8 gram menjadi 15 gram per cup. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bali, muncul fenomena event khusus untuk promosi produk kopi di pasar internasional. “Akhirnya kembali lagi, (permasalahan buat petani kopi), kami perlu teori bagaimana meningkatkan kesegaran kopi. Ini juga harus diketahui. Customer tidak merasa dan tidak mau dibohongi. Mereka merasa lebih nyaman kalau tahu seluk belukkopi yang mereka minum. Keuntungan lain bagi pemilik coffee shop, bisa jadi repeat customer, atau (kunjungan) regular.” (S.Liu)

Photo credit : Ist. Photo


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Kupas Jaran Kepang Temanggung, Agus Gondrong Ditunggu Tropi Abyakta Pada Puncak HPN 2026.
Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional
Waktu Baca 4 Menit
DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa
Waktu Baca 5 Menit
Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa, Gubernur Dorong Transformasi dan Persiapan IPO
Waktu Baca 3 Menit
Rock Ngisor Ringin Part #2 Jadi Ajang Kumpul Musisi Rock Tanah Air
Waktu Baca 4 Menit

Program FLPP Capai Rekor 263 Ribu Unit, BTN Dominasi Penyaluran Rumah Subsidi Nasional

Waktu Baca 4 Menit

BSN Resmi Beroperasi Usai Spin-Off dari BTN, Bidik Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional

Waktu Baca 3 Menit

Tradisi Warga Indonesia Dalam Merayakan Malam Tahun Baru di New York

Waktu Baca 6 Menit

OJK Bentuk Departemen UMKM dan Keuangan Syariah, Pengawasan Bank Digital Berlaku 2026

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

OJK Raih Predikat Badan Publik Terbaik Nasional 2025, Tegaskan Komitmen Keterbukaan Informasi

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Keseimbangan Energi Jadi Kunci Ketahanan Nasional, Migas dan EBT Harus Berjalan Beriringan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Transisi Energi Terkendala Infrastruktur, Pemanfaatan EBT Masih di Bawah Target

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK: Aset Perbankan Syariah Tembus Rekor Tertinggi, Lampaui Rp1.028 Triliun pada Oktober 2025

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

OJK Terapkan Perlakuan Khusus Kredit Untuk Korban Bencana Aceh, Sumut dan Sumbar

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

OJK Resmikan Kantor Provinsi Maluku Utara, Perkuat Pengawasan Jasa Keuangan dan Pelindungan Konsumen

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

LPS Tegaskan Pentingnya Penjaminan Polis untuk Stabilitas Industri Asuransi

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Penetrasi Rendah, Industri Asuransi RI Dinilai Masih Punya Ruang Pertumbuhan Sangat Besar

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?