Connect with us

Internasional

Tolak Kontrol Senjata, Donald Trump Ingin Semua Warga AS Punya Pistol

Published

on


Telegraf – Kekerasan bersenjata terus terjadi di Amerika Serikat (AS). Mirisnya, yang menjadi sasaran aksi penembakan massal beberapa hari lalu adalah para siswa Sekolah Dasar Robb, di Uvalde, Texas.

Peristiwa penembakan tersebut memicu protes terhadap kebebasan kepemilikan senjata di AS. Sebagaian kalangan masyarakat AS meminta pemerintah untuk menertibkan peredaran senjata di AS.

Bahkan Presiden AS Joe Biden langsung menyerukan perlunya kontrol senjata yang lebih ketat di AS.

Sebaliknya, mantan Presiden AS Donald Trump justru menolak seruan kontrol senjata, Trump mengungkap betapa penting senjata api untuk warga AS membela diri dari kejahatan.

“Keberadaan kejahatan di dunia kita bukanlah alasan untuk melucuti senjata warga yang taat hukum. Keberadaan kejahatan adalah salah satu alasan terbaik untuk mempersenjatai warga yang taat hukum,” kata Donald Trump.

Trump menyebut seruan kontrol senjata tidak akan mencegah kengerian yang terjadi di masa depan.

Baca juga: Penembakan di SD Texas, 14 Siswa dan 1 Guru Tewas

“Berbagai kebijakan pengendalian senjata yang didorong oleh kaum kiri tidak akan melakukan apa pun untuk mencegah kengerian yang terjadi. Sama sekali tidak ada apa-apa,” imbuhnya.

Daripada melakukan kontrol senjata, kata Trump, Partai Republik dan Demokrat sebaiknya bersatu untuk memperkuat sekolah dan melindungi anak-anak.

Intinya, Trump menyebut perbaikan keamanan dari atas ke bawah yang diperlukan seluruh sekolah di AS.

“Kita semua harus bersatu, Republik dan Demokrat di setiap negara bagian, untuk akhirnya memperkuat sekolah dan melindungi anak-anak… Yang kita butuhkan sekarang adalah perbaikan keamanan dari atas ke bawah di sekolah di seluruh negeri ini,” tuturnya.

Sementara itu, tercatat dalam Arsip Kekerasan Senjata, sebanyak 214 penembakan massal terjadi sepanjang tahun 2022 di AS.

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Advertisement
Click to comment

Internasional

Babak Demi Babak Permainan Vladimir Putin di Ukraina

Published

on

By

Presiden Rusia Vladimir Putin. AFP/Jewel Samad
Presiden Rusia Vladimir Putin. AFP/Jewel Samad

Telegraf – Pertanyaan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tengah memasuki babak akhir dari era kekuasaannya sudah mengemuka sejak hari pertama Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu.

Pertanyaan itu muncul lagi setelah Ukraina merebut kembali hampir 20 persen wilayahnya yang diduduki Rusia, termasuk Donbas di Timur dan Kherson di Selatan.

Bahkan tak lama setelah Putin menyatukan empat wilayah Ukraina ke dalam wilayah Rusia melalui referendum kontroversial bulan lalu, pasukan Ukraina merebut kembali sejumlah tempat strategis.

Keempat wilayah yang menggelar referendum itu yakni Luhansk dan Donetsk di Ukraina Timur, serta Kherson dan Zaporizhzhia di Ukraina Selatan.

Di empat wilayah ini elemen-elemen gerilya Ukraina meneror sejumlah pihak yang dianggap kolaborator Rusia dan membantu pasukan Ukraina dalam mengidentifikasi posisi-posisi militer Rusia di belakang garis tempur.

Sehari setelah Putin menyampaikan pidato aneksasi empat wilayah Ukraina pada 30 September, militer Ukraina merebut lagi kota Lyman di Donetsk yang menjadi jalur logistik perang yang sangat penting. Beberapa hari kemudian sejumlah sudut Kherson juga jatuh ke tangan Ukraina.

Perkembangan ini membuat sejumlah kalangan di Rusia marah kepada militernya.

Tokoh-tokoh yang menjadi tangan kanan Putin seperti Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov, pendiri tentara bayaran Wagner Group Yevgeny Prigozhin, pemimpin media corong pemerintah Margarita Simonyan, dan anggota parlemen Andrei Kartapolov kini secara terbuka berani mengkritik militer Rusia.

Kartapolov meminta jenderal-jenderal Rusia tak berbohong mengenai situasi di medan perang, sedangkan Kadyrov, Prigozhin, dan Simonyan menyebut jenderal-jenderal Rusia tak becus memimpin pasukan.

Puncak kemarahan terjadi manakala Jembatan Kerch yang menghubungkan antara Rusia Selatan dengan Krimea disabotase sampai rusak parah sehari setelah Putin berulang tahun pada 7 Oktober.

Jembatan itu adalah simbol aneksasi Krimea ke dalam wilayah Rusia dan aset strategis militer Rusia karena menjadi jalur logistik perang yang sangat penting di mana ribuan ton alat perang dari distrik militer Rusia melintasi jembatan ini menuju Krimea dan kemudian Kherson.

Menyusul serangan ke jembatan yang diresmikan oleh Putin pada 15 Mei 2018 itu, kepala dewan keamanan Ukraina, Oleksiy Danilov, memposting jembatan itu disertai video Marilyn Monroe menyanyikan “Happy Birthday, Mr President”.

Sebaliknya di Rusia, tokoh-tokoh garis keras menyeru Putin agar membalas serangan ke Jembatan Kerch dengan membom bangunan-bangunan penting di Ukraina dan pusat-pusat komando, apalagi sekutu Putin yang juga mantan presiden Rusia, Dmitry Medvedev, pernah menyatakan jika Krimea diserang maka Ukraina harus dihancurleburkan.

Putin mau tak mau menuruti kritik orang-orang kepercayaannya itu. Dan langkah pertama yang dia lakukan adalah menunjuk Jenderal Sergei Surovikin untuk memimpin keseluruhan “operasi khusus” di Ukraina.

Pergerakan Yang Otonom

Sejak awal invasi, pasukan Rusia tak pernah terkoordinasi dalam satu komando mengingat lima divisi yang terlibat dalam perang Ukraina semuanya bergerak otonom.

Kini keadaan itu berubah setelah Surovikin yang terkenal brutal ditunjuk sebagai panglima yang membuat semua operasi militer berada dalam satu komando.

Sekarang, di bawah Surovikin, pasukan Rusia di Ukraina satu komando dengan merancang dan mengarahkan operasi militer secara terpusat.

“Namun ini juga sinyal bahwa mulai saat ini operasi akan dipusatkan ke satu wilayah tertentu. Mungkin Luhansk, mungkin Donetsk, mungkin Selatan. Yang pasti kita sekarang melihat menyusutnya operasi Rusia,” kata Alexandre Vautravers dari Swiss Military Review dilansir dari Aljazeera.

Tak lama setelah Putin menunjuk Surovikin, sejumlah kota di Ukraina termasuk ibu kota Kiev dihujani rudal Rusia.

Putin menyatakan serangan rudal ini balasan untuk serangan di Jembatan Kerch.

Putin agaknya berusaha membunuh hasrat berperang Ukraina, tetapi sejarah mencatat strategi bombardemen membabi buta seperti itu tak pernah bisa memadamkan api perlawanan.

Pasukan Ukraina sendiri bergeming. Mereka fokus mengusir Rusia dari semua wilayah Ukraina.

“Semua yang ilegal harus dihancurkan, semua yang dicuri harus dikembalikan kepada Ukraina, semua pendudukan Rusia harus diusir,” kata Penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak.

Serangan rudal Rusia itu juga mengisyaratkan semakin sedikitnya opsi serang Rusia yang diyakini telah kehilangan banyak sumber daya perang, baik personel maupun alat perang.

Namun yang menarik dari semua itu adalah perdebatan di lingkaran dalam kekuasaan Putin yang akhirnya tersingkap ke publik.

Sebelum ini, perbedaan internal dalam rezim Putin ditutup rapat-rapat sehingga menyembunyikan adanya faksi-faksi dalam lingkaran kekuasaannya.

Kini, lingkaran terdalam Putin yang didominasi tokoh-tokoh berlatar intelijen dan militer yang biasa disebut Siloviki pimpinan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu dan Panglima Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Valery Gerasimov, terlihat tak lagi sekuat dulu.

Mereka terus dikritik orang-orang dekat Putin lainnya yang non Siloviki dan bukan bagian sistem kekuasaan formal Rusia.

Entah ini baik atau tidak untuk strategi perang Rusia di Ukraina yang membutuhkan kesatuan sikap, internal kekuasaan Putin yang tak lagi padu bisa mempengaruhi keputusan di medan perang karena elite pengambilan keputusan perang sudah terpecah.

Kekalahan demi kekalahan telah membuat mereka tak lagi bisa lagi menyembunyikan persaingan di dalam lingkaran kekuasaan Putin.

Sekutu Jaga Jarak

Kekalahan juga membuat beberapa sekutu penting Rusia seperti China dan India menjaga jarak, yang belakangan meminta Rusia segera mengakhiri perang karena mungkin secara tidak langsung telah menggerogoti perekonomian mereka.

Pun demikian dengan tetangga-tetangga Rusia di Asia Tengah dan Kaukasia yang pernah menjadi satelit Uni Soviet, termasuk Uzbekistan, Azerbaijan dan Kazakshtan.

Kazakhstan yang memiliki perbatasan darat yang panjang dengan Rusia dan memiliki penduduk etnis Rusia dalam jumlah besar, menegaskan tak akan mengakui pemisahan diri wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Kazakhstan merasa skenario Ukraina bisa terjadi pada mereka, mengingat negeri ini juga berbatasan langsung dengan Rusia dan memiliki daerah-daerah berpenduduk mayoritas etnis Rusia seperti terjadi pada Ukraina.

Sementara itu, kemunduran dalam medan perang menjadi kabar buruk bagi rakyat Rusia, apalagi Putin sudah memobilisasi massa yang ditentang sebagian rakyatnya sampai ratusan ribu orang lari ke luar negeri demi menghindari wajib militer.

Situasi dapat menjadi lebih buruk lagi jika mobilisasi massa malah membuat korban perang semakin besar, apalagi jika Rusia terburu-buru menggelarkan pasukan cadangan hasil mobilisasi ini.

Mobilisasi sekiranya dapat membalikkan pendulum perang di Ukraina sehingga menyelamatkan pamor Putin, tapi juga bisa membuat bumi Rusia makin sering dikirimi peti jenazah serdadu mereka dari medan perang Ukraina.

Jika yang terakhir ini yang terjadi, maka Putin bisa mengulangi nasib Uni Soviet saat menduduki Afghanistan pada 1979-1989.

Menjelang akhir pendudukan Soviet di Afghanistan terjadi gelombang protes dari para ibu prajurit-prajurit Soviet yang diterjunkan ke Afghanistan. Ini mirip dengan rangkaian protes yang menentang mobilisasi parsial saat ini.

Keadaan seperti itu, ditambah kemunduran di medan perang, lingkaran dalam yang sudah tak akur, dan sikap sekutu-sekutu penting Rusia yang mulai menjaga jarak, bisa membuat peruntungan perang menjadi kian tidak berpihak kepada Rusia yang akhirnya bisa mempersulit posisi Putin sampai ada yang beranggapan presiden Rusia ini tengah mengawali akhir dari era kekuasaannya.

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Continue Reading

Internasional

Resmi Putin Umumkan Pencaplokan Empat Wilayah Ukraina

Published

on

Photo Credit: Presiden Rusia Vladimir Putin. REUTERS/Maxim Zmeyev
Photo Credit: Presiden Rusia Vladimir Putin. REUTERS/Maxim Zmeyev

Telegraf – Presiden Rusia, Vladimir Putin, secara resmi mengumumkan pencaplokan empat wilayah Ukraina ke Rusia.

Berbicara dalam upacara di Kremlin pada Jumat, Putin mengatakan referendum yang berlangsung “hasilnya diketahui, orang-orang membuat pilihan mereka.”

Putin juga mengatakan dia tidak ragu bahwa Parlemen Rusia, Duma, akan mendukung pembentukan empat wilayah baru di Rusia ini.

“Donetsk, Kherson, Luhansk, Zaporizhzhia menggunakan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, yang diabadikan oleh PBB,” katanya.

Putin juga mengatakan Moskow siap untuk kembali ke negosiasi damai dengan Kiev tetapi tidak akan mencabut hasil referendum.

Ia katakan, penduduk di empat wilayah Ukraina tersebut sekarang “menjadi warga negara Rusia selamanya.” Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan lebih dari 98 persen orang yang tinggal di wilayah Ukraina mendukung bergabungnya ke Rusia.

Pada 23-27 September 2022, wilayah separatis Ukraina di Donetsk dan Luhansk serta bagian Zaporizhzhia dan Kherson yang dikuasai Rusia mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia.

Referendum itu dikutuk komunitas internasional, dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menyebutnya “palsu” dan tidak akan diakui.

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Continue Reading

Internasional

Ratu Elizabeth II Meninggal Dunia di Balmoral

Published

on

Ratu Elizabeth II wafat di usia 96 tahun di kastil Balmoral. Getty Images
Ratu Elizabeth II wafat di usia 96 tahun di kastil Balmoral, Skotlandia. Getty Images

Telegraf – Ratu Elizabeth II wafat di usia 96 tahun pada saat masih dalam perawatan dan ditemani oleh sebagian anggota keluarga di Kastil Balmoral, Skotlandia pada Kamis (08/09/2022) sore waktu Inggris, menurut pernyataan resmi Istana Buckingham.

“Ratu meninggal dengan tenang di Balmoral sore ini,” bunyi pernyataan Istana Buckingham yang di uggah kedalam cuitan twitter resmi Teh Royal Family.

 

 

Ia sendiri memang sedang dalam pemantauan intensif dari tim dokter di Istana Buckingham.

Ratu Elizabeth II juga direkomendasikan agar lebih banyak istirahat daripada menghadiri sejumlah acara.

Di tengah kondisi kesehatan yang memburuk itu, sejumlah pejabat Inggris ramai-ramai menyampaikan harapan baiknya.

Diketahui, PM Inggris yang baru terpilih misalnya, yang baru-baru ini menemuinya sebelum dilantik sebagai PM, Liz Truss, mengkhawatirkan kondisi Ratu Elizabeth II. Sementara itu, ketua Majelis Rendah Lindsay Hoyle juga menyampaikan harapan terbaiknya untuk Elizabeth.

Ratu Elizabeth II lahir pada 21 April 1926 di Bruton Street, London. Ia merupakan istri Pangeran Philip.

Wafatnya Ratu Elizabeth II itu mengakhiri masa kepemimpinannya selama 70 tahun dan sekarang putra sulungnya, Charles, otomatis akan naik takhta menjadi Raja Inggris.

Masa kepemimpinan Ratu Elizabeth II dimulai sejak 1952 yang menjadikannya sebagai penguasa monarki terlama di Inggris. Ketika itu Elizabeth menggantikan ayahnya, Raja George VI yang wafat pada 6 Februari 1952. Namun, acara penobatan Ratu Elizabeth II baru dilakukan di Westminster Abbey pada tahun berikutnya.

Masa kepemimpinan Ratu Elizabeth II bahkan tujuh tahun lebih lama dari Ratu Victoria.

Ratu Elizabeth II meninggalkan keluarga besar yang pada April 2021 juga berkabung atas wafatnya suami Ratu Elizabeth II, yaitu Pangeran Philip.

Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, mempunyai empat anak yaitu, Charles, Anne, Andrew, dan Edward, dan delapan orang cucu. Selain itu, Ratu Elizabeth II juga memiliki 12 orang cicit.

Dengan wafatnya Ratu Elizabeth II dan naiknya Charles sebagai raja baru Inggris, Pangeran William naik menjadi pewaris pertama takhta kerajaan pada usia yang baru 40 tahun.

Kondisi tersebut membuat Raja Charles kemudian memberikan keterangan resmi untuk pertama kalinya sejak menjadi Raja mengenai ibunya, Ratu Elizabeth II yang meninggal dunia.

Raja Charles III mengatakan hal itu jadi kesedihan amat mendalam baginya dan seluruh keluarga.

“Meninggalnya Ibunda tercinta, Yang Mulia Ratu, merupakan momen kesedihan terbesar bagi saya dan seluruh anggota keluarga saya,” kata Raja Charles III.

Image

________________________________________________________________

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Continue Reading

Internasional

Gantikan Boris, Mary Elizabeth ‘Liz’ Truss Jadi Perdana Menteri Inggris

Published

on

Mary Elizabeth Truss atau Liz Truss resmi menjadi perdana menteri baru Inggris, pada Selasa (06/09/2022). Getty Images/Matthew Horwood
Mary Elizabeth Truss atau Liz Truss resmi menjadi perdana menteri baru Inggris, pada Selasa (06/09/2022). Getty Images/Matthew Horwood

Telegraf – Mary Elizabeth Truss atau Liz Truss resmi menjadi perdana menteri baru Inggris, dalam audiensi dengan kepala negara Ratu Elizabeth II pada Selasa (06/09/2022) setelah pengunduran diri Boris Johnson. Mantan menteri luar negeri berusia 47 tahun itu terlihat dalam foto resmi berjabat tangan dengan pemimpin monarki, untuk menerima tawaran membentuk pemerintahan baru dan menjadi perdana menteri ke-15 dalam 70 tahun pemerintahannya.

Upacara simbolis berlangsung di retret Balmoral yang terpencil di Dataran Tinggi Skotlandia, karena Ratu Elizabeth II (96 tahun), dianggap tidak layak untuk kembali ke London karena kesehatan yang buruk.

“Ratu menerima yang terhormat Elizabeth Truss MP hari ini dan memintanya untuk membentuk pemerintahan baru,” kata Istana Buckingham dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir AFP.

Truss menerima tawaran Ratu Elizabeth II dan mencium tangan saat pengangkatannya sebagai perdana menteri. Terakhir kali penyerahan kekuasaan terjadi di Balmoral adalah pada 1885, ketika ratu Victoria naik takhta. Biasanya, perdana menteri yang keluar dan penerusnya akan bertemu dengan ratu secara bergantian di Istana Buckingham di pusat kota London.

Tradisi Itu hanya diadakan sekali di luar London sejak 1952, ketika Winston Churchill bertemu ratu baru di Bandara Heathrow setelah kematian ayahnya, raja George VI.

Liz Truss, dipilih sebagai ketua umum Partai Konservatif dan sekaligus perdana menteri, untuk menggantikan Boris Johnson yang lengser diterpa skandal. Dia mengungguli pesaingnya, Rishi Sunak, dengan perolehan suara 57 melawan 43 persen.

Hasil kontestasi internal itu menempatkan Truss sebagai perempuan ketiga yang pernah memimpin Inggris, setelah Thatcher antara 1979-1990 dan Theresa May, yang menjabat antara 2016 dan 2019.

Dia mampu meyakinkan anggota Partai Konservatif lewat pengurangan pajak dan dukungan total terhadap Ukraina dalam perang melawan Rusia. Truss berjanji mendorong kerja sama antara negara-negara demokratis di bawah “jejaring kebebasan”

Bagi oposisi, kebijakan konservatif yang akan diajukan Truss tidak akan membantu Inggris menanggulangi krisis ekonomi akibat pandemi dan Brexit.

Meski begitu, Mark Littlewood, seorang tokoh liberal yang berteman dengan Truss sejak lama, meyakini sang pemimpin baru berpandangan lebih moderat ketimbang “kaum konservatif radikal,” yang serupa Thatcher, “ingin mengakhiri campur tangan negara,” yakni pemberian subsidi atau bantuan sosial lainnya.

“Saya memprediksi akan banyak petasan dan kontroversi, tapi juga banyak tindakan,” kata dia.

Ratu Inggris Elizabeth II, kiri, menyambut Liz Truss selama audiensi di Balmoral, Skotlandia, di mana ia mengundang pemimpin Partai Konservatif yang baru terpilih untuk menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan baru, Selasa, 6 September 2022. AP Photo/Jane Barlow

Ratu Inggris Elizabeth II, kiri, menyambut Liz Truss selama audiensi di Balmoral, Skotlandia, di mana ia mengundang pemimpin Partai Konservatif yang baru terpilih untuk menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan baru, Selasa, 6 September 2022. AP Photo/Jane Barlow

Tokoh Kanan Berwatak Kiri

Lahir di Oxford, tahun 1975, Mary Elizabeth Truss, besar di keluarga kiri yang dikenal degan sikap anti-nuklir dan anti-Thatcher. Di masa kecil, dia berulangkali mengikuti demonstrasi menentang perdana menteri perempuan yang tegas memangkas bantuan sosial itu. Ketika berpidato 2018 silam, Truss mengaku ideologi politiknya baru terbentuk kemudian, ketika dia mulai berdebat dengan orang tuanya yang sosialis di dalam keluarga yang beraliran kiri.

Ironisnya, latar belakang tersebut yang antara lain membuka jalannya menuju Downing Street 10. Karena berbeda dengan tokoh politik lain yang kebanyakan berasal dari sekolah elit berbiaya selangit, Truss mengenyam pendidikan di sekolah umum.

Truss kemudian melanjutkan studinya di Universitas Oxford, di mana dia belajar Ilmu Filsafat, Politik dan Ekonomi. Selama itu dia terlibat aktif berkampanye untuk Partai Liberal Demokrat yang berhaluan tengah. Truss antara lain pernah berdemonstrasi menuntut “legalisasi ganja” dan dekriminalisasi pengguna marijuana. Dia bahkan pernah mewacanakan pembubaran kerajaan Inggris.

Littlewood, yang berteman dengan Truss selama di Oxford, mengingat betapa dia “keras kepala, berdeterminasi tinggi dan vokal. Anda tidak akan bingung menebak posisinya dalam banyak isu,” kata dia. Baru setelah lulus dari Oxford, dia bergabung dengan Partai Konservatif, sebuah keputusan yang menurutnya “tidak populer” di masa itu.

Politik Bermata Dua

Truss sempat bekerja untuk raksasa minyak Belanda, Shell, dan sejumlah perusahaan lain sebelum berkecimpung di politik. Di masa awal, dia banyak membangun koneksi dengan kader lain yang juga berpandangan serupa Thatcher. David Laws, bekas anggota kabinet konservatif Inggris, bahkan menyebutnya sebagai “Thatcher muda berkecepatan tinggi.”

Pada 2014, Truss dipercaya menjabat Menteri Pangan dan Lingkungan. Ketika Inggris menggelar referendum Brexit dua tahun kemudian, awalnya dia mendukung keanggotaan Uni Eropa. Namun sikapnya berubah pasca referendum. Truss malah mencuat sebagai tokoh konservatif yang tidak mengenal kompromi terhadap UE.

Truss, yang diangkat oleh PM Theresa May, juga balik mendukung pesaingnya, Boris Johnson, ketika negosiasi Brexit dengan Uni Eropa menemui jalan buntu pada 2017 silam. Setelah Johnson berkuasa, Truss mendapat posisi sebagai menteri luar negeri, yang diembannya dengan berkeliling dunia meratifikasi perjanjian dagang.

Meski demikian, Uni Eropa yang berharap bahwa Truss akan mendahulukan sikap pragmatis, terpaksa kecewa ketika dia membuat legislasi yang melanggar prinsip dasar perjanjian Brexit antara UE dan Inggris. Akibatnya, Brussels kini menggugat pemerintah di London.

 

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Continue Reading

Internasional

Penghormatan Putin Pada Gorbachev: Ia Pemimpin Pada Masa Sulit

Published

on

Saat penghormatan mengalir untuk Mikhail Gorbachev, Vladimir Putin mengatakan dia "telah berhak mendapatkan prestise dan pengakuan yang besar". REUTERS/ITAR-TASS/Kremlin Press Service
Saat penghormatan mengalir untuk Mikhail Gorbachev, Vladimir Putin mengatakan dia "telah berhak mendapatkan prestise dan pengakuan yang besar". REUTERS/ITAR-TASS/Kremlin Press Service

Telegraf – Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui sosok Mikhail Gorbachev berdampak besar pada sejarah dunia. Seperti dilaporkan RT, Rabu (31/08/2022), Putin memberikan penghormatan terkahirnya kepada pemimpin pendahulunya itu di Kremlin.

“Mikhail Gorbachev, pemimpin terakhir Uni Soviet dan arsitek perestroika dan glasnost, memerintah negara tersebut melalui masa-masa yang “dramatis” dan penuh tantangan,” puji Putin.

Mikhail Gorbachev meninggal pada usia 91 tahun pada hari Selasa, (30/08/2022). Menurut Rumah Sakit Klinis Pusat, dia meninggal setelah sakit yang serius dan sudah lama dideritanya.

Diketahui Gorbachev berhasil mengakhiri Perang Dingin tanpa adanya pertumpahan darah, namun ia sendiri gagal mencegah runtuhnya Uni Soviet.

Di bawah kepemimpinannya, Uni Soviet mencapai kesepakatan pengurangan senjata dengan Amerika Serikat dan kemitraannya dengan kekuatan Barat.

Kesepakatan itu mengakhiri kebijakan Tirai Besi yang memisahkan negara-negara Eropa sejak Perang Dunia Kedua dan membawa reunifikasi Jerman.

“Mikhail Gorbachev adalah seorang politisi dan negarawan yang membuat dampak besar pada jalannya sejarah dunia,” tulis Putin dalam surat belasungkawanya pada keluarga Gorbachev.

“Dia memimpin negara kita melalui masa sulit, perubahan dramatis, dan tantangan eksternal, ekonomi, dan sosial berskala besar. Dia sangat memahami bahwa reformasi diperlukan dan berusaha menawarkan solusi untuk masalah yang mendesak,” ungkap Putin.

Setelah menjadi pemimpin Uni Soviet pada tahun 1985, Gorbachev meluncurkan reformasi besar-besaran yang ditujukan untuk liberalisasi ekonomi dan kehidupan publik. Masa jabatan Gorbachev menyaksikan jatuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin. Dia mengundurkan diri pada akhir tahun 1991 dengan pecahnya Uni Soviet.

Fajri Setiawan
Latest posts by Fajri Setiawan (see all)

Bagikan Artikel
Continue Reading

Lainnya Dari Telegraf

close