Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca CSA Index September 2025: Optimisme Investor Terkoreksi, Pasar Waspada
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

CSA Index September 2025: Optimisme Investor Terkoreksi, Pasar Waspada

Idris Daulat Jumat, 12 September 2025 | 20:39 WIB Waktu Baca 7 Menit
Bagikan
Seorang jurnalis mengecek pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan komputer tablet di Bursa Efek Indonesia, Jakarta,
Seorang jurnalis mengecek pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan komputer tablet di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/7). Jelang pemilihan umum presiden pada 9 Juli mendatang, IHSG ditutup menguat 83,21 poin atau naik 1,7 persen ke level 4.989,03. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pd/14
Bagikan

TELEGRAF – Pada awal September 2025, sentimen pasar modal Indonesia berubah cepat. Setelah Agustus lalu sempat melambung dengan indeks kepercayaan investor mencapai 82,3, kini Capital Sensitivity Analysis Index (CSA Index) jatuh ke 65,4.

Angka ini memang masih berada di atas level netral 50, tetapi koreksinya cukup tajam, mencerminkan perubahan sikap investor yang kini lebih berhati-hati.

Pelaku pasar tampaknya mulai menata ulang ekspektasi mereka. Jika bulan lalu penuh optimisme, kali ini bayang-bayang ketidakpastian global membuat langkah mereka lebih kalkulatif.

Investor tidak lagi gegabah, melainkan membaca dengan saksama arah kebijakan moneter global, dinamika komoditas, dan gejolak geopolitik.

Tekanan Eksternal Mengguncang Pasar

Faktor eksternal jelas menjadi biang koreksi sentimen. Amerika Serikat, dengan kebijakan moneternya yang penuh teka-teki, masih menahan pasar global dalam ketidakpastian.

Walaupun ada ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, dana asing belum mengalir stabil ke emerging market, termasuk Indonesia.

Ditambah lagi, harga komoditas utama Indonesia seperti batu bara melemah. Prospek ekspor nasional pun ikut tertekan.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Asia Timur kian menambah kerentanan, memperbesar volatilitas global yang berimbas langsung ke bursa dalam negeri.

Investor Indonesia tentu tidak bisa menutup mata. Arah kebijakan global yang abu-abu memaksa mereka mengerem euforia, menunggu kepastian lebih konkret.

CSA Index September 2025

Stabilitas Domestik, Tapi Ada Catatan

Di dalam negeri, sebenarnya makroekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Inflasi terkendali, rupiah relatif stabil, dan konsumsi masyarakat tetap solid.

Namun, ada awan gelap lain yang mulai diperhatikan investor: pelebaran defisit fiskal.

Jika defisit melebar terlalu lebar, ruang kebijakan pemerintah di kuartal berikutnya akan terbatas.

Hal ini bisa menekan stimulus terhadap ekonomi dan pasar modal. IHSG sendiri menunjukkan tren pemulihan, tetapi volatilitas masih terasa.

Sektor emiten pun bergerak tidak seragam. Perusahaan berbasis komoditas tertekan margin karena harga melemah.

Sebaliknya, sektor keuangan dan konsumsi relatif lebih tahan banting.

Pola ini memberi gambaran bahwa pemulihan ekonomi domestik memang berjalan, tetapi jalurnya tidak rata.

CSA Index IHSG Konsensus 12M Forecast

Proyeksi IHSG: Optimisme Jangka Panjang

Meski koreksi jangka pendek terasa, proyeksi jangka menengah masih menyimpan harapan.

Konsensus pasar menempatkan target IHSG September 2025 di 7.744, sementara proyeksi 12 bulan ke depan di 8.281.

Angka ini menjadi sinyal bahwa investor masih percaya tren pemulihan pasar saham domestik akan berlanjut.

NS Aji Martono, Ketua Umum PROPAMI (Perkumpulan Profesi Pasar Modal Indonesia), menilai koreksi ini bagian dari siklus normal pasar.

“CSA Index September 2025 masih prospektif. Pasar diharapkan tetap bergerak positif,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa meski investor sedang berhati-hati, arah pemulihan jangka panjang tetap terjaga.

CSA Index Sektor Pilihan

Sektor-Sektor Prospektif

Jika ditelisik lebih dalam, ada beberapa sektor yang tetap dipandang menjanjikan oleh analis:

  1. Basic Materials & Energy
    Masih menjadi tulang punggung ekspor meski harga komoditas tengah melemah.
  2. Financials
    Stabilitas perbankan dan peluang penurunan suku bunga domestik memberi ruang tumbuh.
  3. Consumer Cyclicals & Non-Cyclicals
    Solidnya daya beli masyarakat menjelang kuartal IV menjadi penopang sektor ini.
  4. Technology
    Masih menarik dengan derasnya investasi asing di pusat data dan infrastruktur digital.
Baca Juga :  Sistem Bagi Hasil Transportasi Online Dinilai Belum Adil dan Transparan

Investor yang cermat akan melihat sektor-sektor ini sebagai peluang strategis di tengah ketidakpastian global.

Membaca Arah Pasar dengan CSA Index

CSA Index sendiri disusun oleh CSA Institute bersama Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI).

Data diambil melalui kuesioner anggota PAEI dan alumni CSA Institute, lalu diverifikasi melalui tabulasi dan deep interview.

Indeks ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan psikologi kolektif pelaku pasar modal.

Dengan membaca CSA Index, investor dapat memahami sejauh mana pasar masih percaya pada pemulihan dan sektor apa saja yang dipandang sebagai penggerak utama.

Pasar dalam Dinamika Global

Koreksi sentimen yang terjadi pada September 2025 menunjukkan satu hal penting: pasar modal Indonesia tidak hidup di ruang hampa.

Ia terhubung erat dengan denyut global—dari Washington hingga Beijing, dari harga batu bara hingga arsitektur geopolitik Asia Timur.

Investor harus lebih cermat menata portofolio. Bukan sekadar mengejar keuntungan cepat, tetapi menimbang keseimbangan antara risiko global dan kekuatan domestik.

Dalam bahasa sederhana, optimisme tetap penting, tetapi realisme harus menjadi pengikatnya.

Ke depan, pasar Indonesia masih memiliki potensi besar. Stabilitas makroekonomi, daya beli masyarakat, serta geliat teknologi digital adalah modal kuat.

Namun, investor harus menerima kenyataan bahwa jalan menuju pemulihan pasar tidak selalu lurus—ada liku, ada tanjakan, bahkan ada turunan tajam.

CSA Index September 2025 memberi pesan sederhana: hati-hati, tetapi jangan kehilangan arah.

10 FAQ Terkait CSA Index September 2025

1. Apa itu CSA Index?
CSA Index adalah indikator kepercayaan pelaku pasar terhadap kinerja IHSG, disusun oleh CSA Institute dan PAEI.

2. Berapa nilai CSA Index September 2025?
CSA Index berada di level 65,4, turun tajam dari Agustus yang berada di 82,3.

3. Mengapa indeks turun signifikan?
Faktor utama adalah ketidakpastian global, pelemahan harga komoditas, dan tensi geopolitik Asia Timur.

4. Apakah pasar domestik masih stabil?
Ya, inflasi terkendali, rupiah stabil, namun pelebaran defisit fiskal jadi catatan penting.

5. Berapa target IHSG September 2025?
Konsensus pasar menargetkan 7.744 untuk September.

6. Bagaimana proyeksi IHSG 12 bulan ke depan?
Proyeksi mencapai 8.281, menandakan optimisme jangka menengah.

7. Sektor apa yang masih prospektif?
Basic Materials, Energy, Financials, Consumer, dan Technology.

8. Apa dampak pelemahan harga komoditas?
Emiten berbasis komoditas tertekan margin, meskipun sektor lain relatif lebih tangguh.

9. Bagaimana peran CSA Index bagi investor?
Sebagai panduan membaca sentimen kolektif pasar, membantu investor menata strategi investasi.

10. Apa pesan utama CSA Index September 2025?
Investor harus tetap optimis namun realistis, dengan strategi hati-hati menghadapi ketidakpastian global.

3 Poin Penting Artikel

  1. CSA Index September 2025 turun ke 65,4, mencerminkan sikap hati-hati investor.
  2. Tekanan global, harga komoditas, dan geopolitik menjadi faktor dominan pelemahan.
  3. Sektor keuangan, konsumsi, dan teknologi tetap menyimpan prospek jangka menengah.
Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU
Waktu Baca 2 Menit
Prabowo Minta Penanganan Pengiriman Bantuan Bencana di Sumbar Dipercepat
Waktu Baca 2 Menit
Kecelakaan Motor, Aktor Gary Iskak Meninggal di Usia 52 Tahun di Bintaro
Waktu Baca 3 Menit
Tetapkan Tanggap Darurat, Pemkab Aceh Tengah Minta Percepatan Bantuan
Waktu Baca 5 Menit
CEO Danantara Komentari Rencana Merger Antara GoTo-Grab
Waktu Baca 2 Menit

Trump Akan Hentikan Secara Permanen Migrasi Dari Negara-Negara Miskin ke AS

Waktu Baca 5 Menit

PBNU Diminta Mempercepat Muktamar Untuk Selesaikan Konflik

Waktu Baca 4 Menit

Whoosh Dapat Saingan Baru, Jakarta-Bandung Hanya 1,5 Jam Dengan Kereta Pajajaran

Waktu Baca 3 Menit

Relawan Ini Resmi Deklarasikan Dukungan Untuk Sufmi Dasco Sebagai Cawapres Prabowo

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Viralitas Tumbler Membuat Dirut KCI Diganti Dari Posisinya Jabatannya

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Jelang Nataru, Prabowo Panggil Bahlil dan Purbaya ke Istana

Waktu Baca 5 Menit
Photo Credit: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau Gubernur di seluruh Indonesia untuk tidak lagi menerbitkan izin pertambangan mineral dan batu bara (minerba) baru. Hal ini terkait dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) pada tanggal 10 Juni 2020 dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 173C UU No.3. / 2020 (UU Pertambangan Indonesia baru). REUTERS
Ekonomika

Ekonomi Indonesia Masih Ditopang Oleh Investasi, Hilirisasi dan Digitalisasi

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Queen Máxima Apresiasi BTN, Kurangi Cicilan KPR Dengan Penukaran Sampah Rumah Tangga

Waktu Baca 4 Menit
Seorang wanita membonceng sepeda motor, bagian dari layanan ride-hailing Go-Jek, di jalan yang sibuk di Jakarta Pusat, Indonesia 18 Desember 2015. Presiden Indonesia secara terbuka menegur salah satu menteri kabinetnya pada hari Jumat karena tindakan keras terhadap layanan ride-hailing seperti Uber dan Go-Jek, yang memicu kemarahan di media sosial di negara di mana pilihan transportasi umum terbatas. REUTERS/Garry Lotulung
Ekonomika

Sistem Bagi Hasil Transportasi Online Dinilai Belum Adil dan Transparan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Negosiasi Utang Whoosh, CEO Danantara Bakal Ajak Purbaya ke China

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Jadi Utusan PBB, Ratu Belanda Akan Temui Prabowo Bahas Kerjasama Finansial

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Pemerintah Buka Pengaduan Publik Untuk Perbaikan Data Penerima Bansos

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2025 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?