Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri

Edo W. Kamis, 30 April 2026 | 21:06 WIB Waktu Baca 9 Menit
Bagikan
Agus Widjajanto
Bagikan

Kritik pedas disampaikan oleh Feri Amsari tentang swa sembada beras, mendapat respon keras dari menteri pertanian. Terlepas dari pro dan kontra, bahwa swa sembada beras atau pangan memang perlu untuk dicapai, seperti halnya saat Orde Baru. Di samping mampu mencapai swa sembada pangan, pada masa itu juga tercipta stabilitas nasional yang relatif kuat, bahkan merambah pada kedaulatan di bidang lain, termasuk seni dan budaya yang berkembang dengan karakter nasional yang khas. Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan pangan bukan hanya soal perut, tetapi juga menyangkut martabat dan identitas bangsa secara menyeluruh.

Ketahanan pangan dan swa sembada pangan adalah kunci kedaulatan bangsa, di mana peran generasi muda (Gen Z dan milenial) sangat krusial sebagai agen modernisasi pertanian (smart farming) guna mengatasi penuaan demografi petani, sekaligus mendorong regenerasi petani yang selama ini berjalan lambat. Tanpa kehadiran generasi muda yang adaptif terhadap teknologi, sektor pertanian akan tertinggal dan sulit bersaing dalam dinamika global yang semakin kompleks.

Di era mendatang, peperangan diprediksi oleh para ahli akan dipicu oleh perebutan lahan pangan, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia. Kondisi ini diperparah dengan semakin sempitnya lahan pertanian serta ketidakmampuan produksi pangan global dalam memenuhi kebutuhan umat manusia. Dengan demikian, isu pangan bukan lagi sekadar isu ekonomi, melainkan telah menjelma menjadi isu strategis yang berkaitan erat dengan keamanan global.

Indonesia dikaruniai sumber daya alam yang sangat subur, hingga diibaratkan tongkat kayu dan batu bisa menjadi tanaman. Namun, lahan-lahan pertanian terus tergerus oleh kebutuhan lahan industri, yang pada akhirnya sangat memengaruhi produktivitas pertanian. Untuk itu, harapannya terjadi perubahan paradigma berpikir baru, konsep baru, semangat baru, serta moral dan etika yang lebih baik dari seluruh anak bangsa. Transformasi yang lebih matang menuju kondisi yang lebih baik adalah harapan riil, bukan sekadar ilusi belaka, agar generasi muda mau berkecimpung dalam industri pertanian guna menopang kebutuhan pangan nasional, terutama dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks di tengah dinamika geopolitik dan geostrategis yang memanas di berbagai belahan dunia.

Bangsa ini dikenal sebagai bangsa raksasa yang sedang tidur (sleeping giant). Untuk mencapai status sebagai bangsa besar layaknya raksasa dunia, sangat bergantung pada kebijakan para pemimpinnya, yang harus didukung oleh sistem politik dan keamanan yang stabil, serta partisipasi aktif seluruh elemen rakyat. Tanpa sinergi tersebut, potensi besar bangsa ini akan terus terpendam tanpa arah yang jelas.

Mental para anak bangsa sendirilah sesungguhnya yang menjadi penghalang adanya kemerdekaan yang sejati untuk membangunkan raksasa yang tertidur ini. Budaya korupsi, mental ingin dilayani, serta perilaku layaknya ndoro (bos besar) justru menghambat kemajuan. Padahal sejatinya, pejabat adalah pelayan rakyat, karena pemilik negara ini adalah rakyat. Dalam makna filosofis, suara rakyat adalah suara kebenaran yang harus dijunjung tinggi. Oleh karena itu, seluruh aparatur, mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, bupati/wali kota, gubernur, pejabat eselon, hingga presiden sebagai mandataris rakyat, pada hakikatnya adalah pelayan rakyat. Mereka hadir untuk melayani, bukan dilayani, demi mewujudkan cita-cita bangsa yang mandiri dan berdaulat.

Dalam sejarah, kejayaan Hindia Belanda di Jawa pernah mencapai puncak sebagai penghasil komoditas pertanian terbesar di dunia pada masa kolonial. Pasca Perang Diponegoro (1825–1830), ketika kas pemerintahan kolonial mengalami kebangkrutan akibat perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Ontowiryo, Belanda kemudian mengintensifkan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di Jawa. Sistem ini mendorong produksi komoditas ekspor seperti karet (gutta-percha) yang banyak ditanam di wilayah Sukabumi dan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan industri Eropa, serta tebu yang menjadikan Jawa sebagai produsen gula terbesar kedua di dunia.

Tanam Paksa memang memberikan keuntungan besar bagi ekonomi kolonial Belanda, tetapi di sisi lain membawa penderitaan berat bagi rakyat pribumi. Namun demikian, fakta sejarah ini sekaligus menunjukkan bahwa tanah Nusantara memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi lumbung produksi dunia.

Akibat Tanam Paksa ini, Jawa dikenal sebagai penghasil karet nomor satu di dunia dan penghasil gula putih terbesar kedua setelah Kuba. Hal ini menjadi gambaran nyata betapa besarnya potensi pertanian bangsa ini jika dikelola dengan baik, profesional, dan berorientasi jangka panjang.

Baca Juga :  Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Jawa memang pernah menjadi pusat produksi karet (gutta-percha) dan gula terbesar di dunia pada masa kolonial Belanda. Sukabumi dan wilayah lainnya menjadi salah satu produsen utama karet dunia, sementara sektor gula menjadikan Jawa sebagai pemain global pada abad ke-19. Ekonomi kolonial Belanda pun sangat bergantung pada produksi dua komoditas ini.

Salah satunya adalah Pabrik Karet Tjipetir Sukabumi yang memiliki sejarah panjang dan penting. Didirikan pada tahun 1855 oleh pemerintah kolonial Belanda, pabrik ini memproduksi gutta-percha yang digunakan sebagai bahan isolator kabel telegraf bawah laut. Pada masanya, pabrik ini pernah menjadi produsen gutta-percha terbesar di dunia, dan hingga kini bangunannya masih berdiri sebagai destinasi wisata sejarah yang sarat nilai edukatif.

Blok Tjipetir Sukabumi yang ditemukan di pantai-pantai Eropa menyimpan cerita menarik sekaligus membanggakan. Penemuan ini menjadi bukti bahwa Indonesia pernah memainkan peran penting dalam rantai perdagangan global. Jika kekayaan ini dikelola secara baik dan akuntabel, bukan mustahil Indonesia mampu kembali mencapai swa sembada pangan seperti masa Orde Baru, di mana kebutuhan sandang, papan, dan pangan relatif terjangkau, kesejahteraan rakyat meningkat, dan stabilitas keamanan terjaga.

Pada tahun 2012, seorang warga Inggris bernama Tracey Williams menemukan blok karet bertuliskan “Tjipetir” di pantai Cornwall. Setelah ditelusuri, blok tersebut berasal dari Pabrik Tjipetir di Sukabumi. Diduga, blok-blok ini berasal dari kapal Miyazaki Maru yang tenggelam pada tahun 1917 akibat serangan kapal selam Jerman dalam Perang Dunia I, saat membawa muatan gutta-percha dari Yokohama menuju London.

Penemuan ini membuat para peneliti terkesima karena menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Sukabumi, pernah menjadi salah satu produsen terbesar bahan industri penting dunia. Fakta ini memperkuat keyakinan bahwa bangsa ini memiliki fondasi sejarah yang kuat untuk kembali bangkit.

Demikian pula dengan pabrik-pabrik gula di Jawa. Pada medio tahun 1970-an hingga 1980-an, banyak pabrik gula peninggalan Belanda yang masih beroperasi dan menjadi tulang punggung produksi gula nasional, bahkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Keberadaan pabrik-pabrik tersebut menunjukkan bahwa Indonesia pernah memiliki sistem industri gula yang mapan dan terintegrasi.

Pabrik-pabrik gula ini merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam industri gula Indonesia. Mereka adalah saksi sejarah sekaligus aset strategis yang seharusnya terus diperkuat dan dimodernisasi.

Melihat sejarah tersebut, jelas bahwa bangsa ini bukan bangsa kuli. Kita adalah bangsa besar yang dikaruniai kekayaan alam luar biasa. Namun, karena pengelolaan yang tidak tepat, justru kita menjadi pengimpor gula, beras, serta berbagai produk teknologi tinggi. Kondisi ini mencerminkan ketergantungan yang berbahaya, yang pada akhirnya menjadikan bangsa ini seolah terjajah secara ekonomi, budaya, dan bahkan politik. Padahal, kita memiliki kearifan lokal dan sistem yang khas yang seharusnya dapat menjadi fondasi kemandirian nasional.

Beberapa peneliti Barat, seperti J.C. van Leur, pernah menyatakan bahwa Indonesia akan tetap terjajah karena struktur ekonomi dan sosial warisan kolonial. Pendapat ini diperkuat oleh kajian para ahli lain seperti Jan Breman, serta Peter Carey dan Farish A. Noor yang membahas tentang kolonialisme dan konstruksi sosial di Hindia Belanda. Namun, pandangan tersebut tentu tidak bersifat mutlak dan harus dilihat secara kritis dalam konteks perkembangan zaman.

Yang pasti, kita sering kali melupakan sejarah bangsa sendiri. Padahal, Soekarno sebagai bapak bangsa telah menggelorakan konsep Trisakti: kemandirian dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya. Jika ajaran ini benar-benar dijadikan pedoman oleh seluruh elemen bangsa dan para pengambil kebijakan, maka Indonesia akan mencapai kemerdekaan yang sejati. Bukan lagi sebagai raksasa yang tertidur, melainkan sebagai raksasa yang telah bangkit, berdiri tegak, dan menatap masa depan dengan penuh percaya diri Indonesia Raya.


Oleh : Agus Widjajanto, penulis, pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Jakarta

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit
Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat
Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Menggugat Etika Keluarga Dalam Ruang Negara

Waktu Baca 11 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru

Waktu Baca 10 Menit
Opini

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Permohonan Maaf Kepada Seluruh Rakyat Lebanon

Waktu Baca 13 Menit
Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?