Yenny Wahid Dorong Generasi Minenial Bijakasana Bermedsos

“Kita mendorong generasi minenial untuk lebih bijakasana mengunakan medsos karena jejak digital akan tetap tersimpan dan bisa diangkat pada beberapa tahun mendatang, bahkan sebagai acuan perusahan atau instasi menerima pelamar untuk melihat karakter sesungguhnya. Maka anak muda sekarang harus berhati-hati,”

Yenny Wahid Dorong Generasi Minenial Bijakasana Bermedsos

Telegraf, Jakarta – Pendiri The Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, yang akrab dipanggil Yenny Wahid menilai, generasi milenial adalah generasi media sosial (medsos), sehingga segala bentuk interaksi lebih banyak terjadi di medsos. Untuk itu, dia mengimbau agar generasi milenial lebih bijaksana dan bertanggung jawab saat menggunakan medsos. Sebab, apa yang ditulis dalam medsos meninggalkan jejek digital yang dapat dilihat dan dilacak banyak orang, bahkan dapat menjadi petaka di masa mendatang.

“Kita mendorong generasi minenial untuk lebih bijakasana mengunakan medsos karena jejak digital akan tetap tersimpan dan bisa diangkat pada beberapa tahun mendatang, bahkan sebagai acuan perusahan atau instasi menerima pelamar untuk melihat karakter sesungguhnya. Maka anak muda sekarang harus berhati-hati,” kata Yenny dalam diksusi yang bertema “Indonesia Emas 2045” di Univeritas Al-Azhar, Jakarta, Rabu (07/11/18)

Selanjutnya, Yenny mengingatkan generasi milenial bahwa medsos adalah kehidupan virtual bukan kehidupan nyata. Dengan kesadaran tersebut, generasi milenial dituntut untuk dapat membuat jembatan antara realita dan medsos.

Lebih lanjut, Yenny juga menuturkan, selain dampak negatif, medsos juga dapat memberi efek positif untuk mengkonsolidasikan dukungan terhadap suatu isu. Misalnya, membuat orang tergerak untuk menyumbang terhadap suatu bencana atau kesusahan yang terjadi suatu bangsa.

Terkait hal itu, Yenny mengakui adnya tantangan untuk menyadarkan masyarakat mengenai realita dalam kehidupan nyata dan dalam dunia maya yang ditemui melalui medsos. Apalagi dengan fenomena hoax yang bertebaran saat ini tak lepas dari rendahnya literasi masyarakat mengenai medsos. “Literasi masyarakat (dalam medsos) hanya tinggi untuk konten hiburan. Sedangkan, untuk konten seperti politik hanya tertarik untuk membaca judul dan tidak membaca isi atau mencari tahu sumber beritanya,” jelasnya

Sementara itu, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Idelogi Pancasila (BPIP) Mahfud MD mengatakan, perlu pembekalan kesiapan mental generasi milenial untuk menghadapi masa depannya di era serba teknologi. Dalam hal ini, perlu ditanamkan sejak dini ideologi Pancasila, sehingga tidak hanya keceradasan otak yang dimiliki tetapi empati dan nurani.

“Itulah sebabnya saya katakan bangsa Indonesia ini punya modal yang bernama dasar ideologi negara Pancasila. Nah ideologi ini mendorong kemajuan skill dan otak, sekaligus juga membendung dan membuat pertahanan agar orang selalu punya kesetian terhadap negara dan bangsa serta kesetian terhadap keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Mahfud juga mengimbau kepada generasi milenial yang ingin terjun ke politik praktis untuk memperkuat pendidikan Pancasila agar dapat mengemban amanah dan moral tetap terjaga sehingga dijauhkan dari politik dagang kebijakan. (Red)


Photo Credit : Pendiri Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid. The Wahid Institute

 

Share



Komentar Anda