Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Universitas Terbuka Pelopori Pendidikan Inklusif di Indonesia
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

Universitas Terbuka Pelopori Pendidikan Inklusif di Indonesia

Telegrafi Selasa, 11 April 2017 | 09:22 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Sebanyak 1.200 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) hadir dalam upacara wisuda periode I tahun 2017 yang dilaksanakan pada 10-11 April 2017. Seminar dan upacara wisuda yang dilaksanakan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) kali ini mengangkat tema “Merajut Nilai-Nilai Kebhinekaan Melalui Pendidikan Inklusif”.

Hadir pula Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan agama Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Agus Sartono yang mewakili Menko PMK Puan Maharani saat memberikan sambutan di Pondok Cabe, Tanggrang Selatan, Jakarta. Agus memaparkan, UT merupakan universitas yang telah berhasil memanfaatkan perkembangan teknologi dalam sistem pembelajarannya, hal ini menjadikan UT sebagai pemain lama dalam konsep pendidikan inklusif.

“UT merupakan perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang pendiriannya didasari oleh keinginan untuk memberikan layanan pendidikan tinggi dengan jangkauan seluas-luasnya dan kepada siapa saja dengan tidak melihat batasan umur dan latar belakang sosial ekonomi. UT dirancang sebagai PTN yang terbuka dengan mengedepankan sistem pembelajaran jarak jauh, hal ini menjadikan UT sebagai perguruan tinggi Inklusif di Indonesia,” kata Agus.

Universitas Terbuka (UT) saat ini telah memiliki 80.000 mahasiswa, termasuk di antaranya adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berada di Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Arab Saudi yang jumlahnya mencapai 1.984 orang. UT tercatat telah melayani proses pendidikan belajar mengajar di 41 negara dan akan terus bertambah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di luar negeri.

“Saat ini kami memiliki 80.000 mahasiswa yang 300 di antaranya telah aktif menggunakan layanan-layanan yang telah kami sediakan. Pertumbuhan jumlah mahasiswa UT tergolong cepat, dari yang awalnya berjumlah 5.000 mahasiswa naik menjadi 80.000 mahasiswa dalam kurun waktu 10 tahun,” ujar Prof. Ir. Tian Belawati, Rektor Universitas Terbuka. Dengan keterbatasan sistem infrastruktur saja eksponennya sudah meningkat seperti ini, apalagi nanti jika pemerintah telah membenahi infrastruktur secara menyeluruh. Pihaknya yakin pertumbuhannya akan jauh lebih cepat dari ini.

Sistem inklusif yang ditawarkan dengan menerapkan fleksibelitas dalam proses belajar serta tidak menerapkan sistem DO menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. UT dalam hal ini tidak memberikan batas kuota dalam sistem penerimaanya.

“Kami berusaha mensosialisasikan keberadaan UT kepada siapapun yang ingin mengenyam pendidikan tinggi tetapi terkendala ekonomi, waktu, dan lokasi. UT sebagai sistem mampu untuk menampung banyak mahasiswa, siapa pun bisa berkuliah di sini asal memiliki Ijasah SLTA atau sederajat. Kami juga sangat terbuka untuk mereka yang menempuh jalur paket C” tambahnya.

Saat ini pendidikan inklusif dinilai sebagai jalan alternatif dalam mengatasi kesenjangan pendidikan para pekerja di Indonesia. Sebagai tambahan, saat ini 65% pekerja Indonesia hanya mengeyam pendidikan SMP kebawah, 25% berpendidikan menengah dan hanya 10% pekerja yang mengenyam pendidikan tinggi. (Red)

Photo Credit : Ist. Photo


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Transformasi Berbuah Manis, Bank Jakarta Sabet Penghargaan CEO & COO Terbaik 2026
Waktu Baca 2 Menit
BTN Tahan Dividen, Fokus Perkuat Modal untuk Ekspansi Kredit 2026
Waktu Baca 3 Menit
Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit

Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop

Waktu Baca 2 Menit

Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern

Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?