Telegraf – Arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat membawa tantangan baru bagi ideologi bangsa. Dalam seminar bertajuk “Penguatan Ideologi Pancasila”, para pakar menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah, perilaku individu dan literasi digital untuk menjaga persatuan nasional.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif komplementer terkait pemanfaatan teknologi untuk mendukung realisasi nilai-nilai kebangsaan.
Sarifah Ainun Jariyah, menyoroti bahwa tantangan ideologi saat ini telah merambah ruang digital yang mampu memengaruhi pola pikir generasi muda. Ia mendesak adanya langkah konkret melalui kebijakan dan pendidikan.
“Pancasila harus tetap menjadi pedoman. Kita perlu memanfaatkan teknologi sebagai sarana penyebarluasan nilai-nilai kebangsaan secara luas,” kata Sarifah, Senin (13/04/2026).
Berbeda dengan pendekatan kebijakan, R. Niken W menekankan pada aspek humanis. Menurutnya, penguatan Pancasila dimulai dari kesadaran individu. Ia mengingatkan bahwa Pancasila bukanlah sekadar konsep di atas kertas, melainkan harus hidup dalam aksi nyata seperti semangat gotong royong, toleransi antarumat beragama serta keadilan sosial dalam interaksi sehari-hari.
Sedangkan Muhammad Taufik memaparkan materi bertajuk “Pancasila di Ujung Jari”. Ia menyoroti urgensi literasi digital bagi milenial dan Gen Z agar tidak mudah terpapar hoaks maupun ideologi yang bertentangan dengan negara. Taufik menilai teknologi justru merupakan peluang strategis untuk menyampaikan pesan nasionalisme secara kreatif dan menarik.
Seminar ini menegaskan bahwa penguatan ideologi Pancasila adalah tanggung jawab kolektif. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat luas diharapkan mampu menciptakan Indonesia yang berdaulat, berkepribadian, dan memiliki daya saing kuat di kancah global.