Ulang Tahun ke 71, Megawati Adakan Pertunjukan Theater di TIM

"Semua sudah siap hanya pada saat itu saya berhenti tidak jadi presiden lagi sampai saat ini Indonesia yang begitu kaya budaya, kaya tradisi, sangat miskin untuk punya tempat yang representatif,"

Ulang Tahun ke 71, Megawati Adakan Pertunjukan Theater di TIM


Telegraf, Jakarta – Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Sukarnoputri merayakan ulang tahunnya yang ke-71 dengan mengadakan pertunjukkan teater berjudul “Satyam Eva Jayate” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Selasa, (23/01/2018).

“Acara ini saya ambil dengan judul `Satyam Eva Jayate` yaitu peristiwa abad ke-13, tepatnya tahun 1296 ketika seorang Raden Wijaya.. sudah sampai situ saja nanti mudah-mudahan akan mencari apa toh maksudnya karena tentu tidak akan tahu, nanti setelah mengetahui jalan ceritanya,” kata Megawati saat memberikan sambutan di acara ultahnya.

Hadir dalam pertunjukkan tersebut Jokowi,  Jusuf Kalla, Try Sutrisno, Budiono, dan para menteri Kabinet Kerja, serta para kepala daerah dan fungsionaris PDI-Perjuangan.

“Alhamdulilah dengan bantuan teman-teman, walau dengan berat hati tidak bisa semua bisa diundang. Mohon maaf sebesar-besarnya karena yang meminta undangan kalau saya yang membuat acara pasti terjual habis tiketnya karena di sini ada Pak Jokowi, Pak Kalla, para menteri,” tambah Megawati.

Megawati pada 2017 diketahui juga membuat pertunjukkan serupa untuk perayaan ulang tahunnya.

“Memang setahun yang lalu saya mengadakan haul seperti ini, jadi ketika ini pun akan saya coba rayakan kembali. Anak saya bungsu yang kebetulan menjadi Menko PMK Mbak Puan mengatakan `sudah tidak usah lah mah ini kan tahun politik`. Loh kalau (ulang tahun) 17 kan tidak ada lagi, nah saya kan mau ke-2 kalinya ulang tahun ke-17, lalu dibilang `oh ya boleh lah` jadi hari ini kita sama-sama merayakan ultah saya ke-17 lagi,” ungkap Megawati.

Megawati mengaku saat menjabat sebagai Presiden ke-5 ia sedang membangun gedung teater yang dapat memuat sekitar 3.500 orang.

“Semua sudah siap hanya pada saat itu saya berhenti tidak jadi presiden lagi sampai saat ini Indonesia yang begitu kaya budaya, kaya tradisi, sangat miskin untuk punya tempat yang representatif,” ungkap Megawati.

Lakon Satyam Eva Jayate mengangkat tema tentang perjuangan menegakkan kebenaran di tengah bermacam kegilaan yang terjadi di tengah masyarakat yang korup.

Cerita itu mengenai persaingan 2 tokoh besar (politikus) yang bersaing memperebutkan puncak kekuasaan. Beragam cara dilakukan agar memenangi persaingan. Fitnah dan intrik membuat masyarakat terbelah

Situasi itu membuat seorang pemimpin di sebuah kerajaan kemudian tersingkirkan, bahkan dibuang ke hutan.

Mengambil pola alur Ramayana, saat Rama dibuang ke dalam hutan maka pembuangan sang pemimpin itu justru menjadi proses pencarian nilai dan spiritual.

“Satyam Eva Jayate” adalah karya Butet Kertaradjasa. “Satyam Eva Jayate”, semboyan dari bahasa Sanskerta yang berarti “Hanya Kebenaran yang Berjaya.”

“Tema teater ini sesuai dengan keyakinan yang selama ini dipegang Ibu Megawati dalam menjalani kehidupan, termasuk saat memimpin negara, dan PDI Perjuangan saat ini, bahwa hanya kebenaran yang akhirnya akan berjaya,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Perjalanan politik Megawati sebagai putri Bung Karno membuktikan bahwa politik yang berkeadaban serta tidak menghalalkan segala senantiasa menang. Keteguhan sikap Megawati turut menempa PDIP menjadi partai ideologis yang memperjuangkan ideologi Bung Karno. Tanpa keyakinan dan keteguhan politik Megawati, menurut Hasto, PDIP tidak akan seperti sekarang.

Rangkaian HUT Megawati juga menampilkan kiprah dan perjalanannya dalam bidang kemanusiaan, kebudayaan dan lingkungan. “Peringatan HUT Ibu Megawati kali ini bernuansa hijau dengan hiasan berbagai tanaman, yang artinya ketua umum kami dan PDI Perjuangan sangat konsen dengan lingkungan hidup. Kita sebagai bagian dari umat manusia harus ikut menjaga bumi sebagai rumah bersama agar tetap hijau,” ungkap Hasto.

Sutradara dan penulis naskah adalah Agus Noor, sedangkan penata musik dan penata tari adalah Djaduk Ferianto, adapun penata artistik adalah Ong Hari Wahyu. Sementara para pemain antara lain adalah Butet Kertaredjasa, Sujiwo Tejo, Happy Salma, Soimah, Sruti Respati, Cak Lontong, Akbar, Inayah Wahid, Luluk Sumiarso, Susilo Nugroho, Marwoto dan lainnya.

Hingga sang tokoh tercerahkan dan menemukan kesadaran bahwa puncak kekuasaan sesungguhnya bukan pengusaan dan kekuatan politik tapi kebijakan yang berakar dari semangat mensejahterakan rakyat. Akhirnya kebenaran lah yang menang. (Red)

Photo Credit : Antara/Indrianto Eko Suwarso


KBI Telegraf

close