Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca TPC Usulkan Kapabilitas Calon Kepala Negara yang harus dimiliki Ke KPU
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Didaktika

TPC Usulkan Kapabilitas Calon Kepala Negara yang harus dimiliki Ke KPU

Atti K. Kamis, 12 Oktober 2023 | 09:48 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Harry "Koko" Santoso CEO Deteksi Production (kanan), Presidium The President Center (TPC) Eddy Herwani Didied Mahaswara, dan Ferian Nilman sebagai Ketua Pelaksana (ka-ki)
Bagikan

Telegraf – Berawal adanya kegalauan dan keingintahuan, kenapa Presiden pada awainya di puja, puji kemudian dicaci maki dan dibuli, semula di puja bagai Dewa kemudian di cerca bagai pendosa, melihat hal tersebut Presidium The President Center (TPC) Eddy Herwani Didied Mahaswara mencari akar muasal mengapa terjadi demikian.

Menurutnya bahwa, di negara kita sendiri Indonesia dalam pemilihan Presiden atau Kepala Negara belum memiliki kelayakan KAPABILITAS secara lengkap yang diatur dalam undang Undang atau aturan dalam pemilu.

“Dalam Pemilihan ketentuan Capres dan Cawapres dengan hanya memprioritaskan Popularitas dan Elektabiltas dari hasil survei, ternyata mengkondisikan para Capres dan Cawapres 2024 belum memiliki kelayakan KAPABILITAS secara lengkap sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara,” tutur Didied di Jakarta, Selasa (10/10).

Dengan baground tersebut Didied membuat sebuah lembaga non politik yaitu pusat pemberdayaan kepemimpinan bangsa dengan nama The Presiden Centre (TPC).

Akan mengusulkan dan meminta kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mempersyaratkan Capres dan Cawapres memiliki kapabiltas dengan menguasai (55 #1) Kompetensi kelayakan sebagai Presiden dan Wapres yang diusulkan oleh TPC, diujikan pada saat acara debat.

Kedua, TPC juga meminta Capres dan Cawapres untuk menandatangani kontrak tentang, mempresentasikan konsep Indonesia Maju hingga tahun 2045, juga mempunyai konsep dan program strategi, bagaimana cara menambah devisa pendapatan Negara guna melunasi hutang negara.

Dan selama terpilih, merealisasikan Zero Pengangguran dan Kemiskinan, serta menyerahkan buku dari TPC berjudul “Etika Pemimpin” sebagai pedoman, panduan dan tuntunan menjadi Pemimpin yang Ideal, Handal, Mumpuni dan Paripurna untuk diberikan kepada Capres dan Cawapres terpilih.

Menurut TPC, yang paling penting ditahun 2025 dan ditahun selanjutnya, Capres dan Cawapres harus memiliki persyaratan SERTIFIKASI ‘KUALIFIKASI KOMPETENSI sebagai Kepala Negara melalui pembekalan dan penggemblengan yang ditentukan dalam peraturan KPU dan UU Pilpres.

Melalu TPC, Didied mengadakan “Public Speaking Competition (Campus Battle) – Andai Aku Jadi Presiden”, mengajak anak anak muda khususnya mahasiswa untuk peduli dan ikut dalam kompetisi ini, sehingga dapat memberi masukan gagasan, usulan, Program-Program Pengembangan Inovasi yang nantinya ide ide atau gagasan akan di ikutb sertakan dalam usulan ke KPU.

Sementara itu Harry “Koko” Santoso CEO Deteksi Production matakan dari sisi kreatif kegiatan tersebut cukup bagus karena selama ini belum pernah ada. Koko berharap anak anak millenial tertarik dengan hal ini.

“Apalagi ini melibatkan ketua MPR RI Bambang Soesatyo, ini keempatan yang bagus bagi millenial untuk turut aktif memberikan ide, gagasan dan masukan masukan program,” tutur Koko.

Di kesempatan yang sama Ferian Nilman sebagai Ketua Pelaksana “Public Speaking Competition (Campus Battle) mengatakan pendaftaran di buka dari tanggal 10-25 oktober dengan mengirim Spech video ke bit.ly/IndonesiaEmas45 dengan durasi 3 menit, dengan contack : Feriyan +62 812 2249, 9428 dan Ivan di contack +62812 1222 7131. Untuk grand final akan di lakukan bulan Desember mendatang.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Photo Credit: Siswa SDN Munggung 1 dan Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo, belajar menggambar lambang Garuda Pancasila di Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan lambang Garuda Pancasila beserta artinya dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. FILE/SP
Didaktika

Digitalisasi dan Penguatan Ideologi: Pancasila Harus Jadi Benteng di Era Digital

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Transformasi Pendidikan Harus Dilakukan Melalui Pendekatan Sistemik dan Kolaboratif

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Pentingnya Persetujuan dan Perlindungan dalam Hubungan Intim

Waktu Baca 2 Menit
MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok
Didaktika

MIS Jakarta Dominasi IPITEx 2026 Bangkok, Borong Medali Emas dan Penghargaan Internasional

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Strategi mendidik anak di era digitalisasi dan media sosial. Thinkstock
Didaktika

Pemanfaatan Ruang Digital Juga Perlu Literasi, Budaya dan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Didaktika

Hari Guru Nasional, Keteguhan Untuk Mendidik Generasi Unggul Bangsa

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Percepatan Konektivitas Rumah Tangga Perkuat Digitalisasi Pendidikan Nasional

Waktu Baca 3 Menit
Didaktika

Pendidikan Terjangkau Jadi Fokus Jaspal Sidhu di EdTech Asia Summit 2025

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?