Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Tentukan Arah Politik, Megawati Inginkan Supaya GBHN Dihidupkan Kembali
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Tentukan Arah Politik, Megawati Inginkan Supaya GBHN Dihidupkan Kembali

Telegrafi Jumat, 9 Maret 2018 | 02:10 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Bagikan

Telegraf, Sumedang – Indonesia perlu menentukan arah politik pemerintahan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dinilai perlu dihidupkan kembali, meski dengan istilah lain.

“Perlu sekali lagi kita pikirkan secara mendalam dan cermat tentang pentingnya GBHN. Mestinya kan ada blue print (cetak biru) pembangunan. Sekarang, kurang jelas rencana pembangunannya,” kata Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri.

Hal itu disampaikan Megawati saat orasi ilmiah Upacara Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk dirinya di Balairung Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat (Jabar), Kamis (08/03/18).

“Bayangkan, dari presiden harus buat visi misi, terus sampai bupati, wali kota, gubernur juga. Tapi setelah diganti oleh orang lain pasti akan berubah (visi misinya),” kata Mantan Presiden RI ke lima itu.

Megawati pernah berpandangan, pembangunan di Indonesia ibarat tarian poco-poco. Suatu saat pembangunan maju ke depan, namun begitu pemerintahan berganti justru bisa ke belakang. Dia pernah menyampaikan hal ini kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan.

“Coba kita renungkan dan evaluasi. Kenapa kalau negara maju bisa langsung jalan?” ucapnya.

Megawati juga mengaku pernah mendiskusikan mengenai perlunya meninjau kembali amandemen UUD 1945 dengan Zulkifli. Dahulu, ungkap Megawati, MPR merupakan lembaga negara tertinggi. Sekarang, antara MPR, DPR dan DPD setingkat.

Menurutnya, MPR semestinya berada lebih tinggi di banding lembaga legislatif. Megawati mengaku siap dikoreksi atas pernyataan apabila dianggap keliru. Dengan posisi MPR yang tinggi, lanjutnya, Indonesia mempunyai wadah untuk membahas persoalan bangsa.

“Masalah-masalah besar di Republik ini, itu bagaimana mau membicarakannya? Saya merasa heran. Mengapa tidak pernah ada evaluasi bagi sebuah ketatanegaraan kita,” ungkapnya.

Seusai menghadiri upacara penganugerahan, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan, GBHN masih diperlukan oleh bangsa.

“GBHN diperlukan seperti dulu. Memang perlu amandemen, sekarang kan masih digodok di MPR,” katanya.

Mahfud menambahkan, MPR telah berbicara dengan berbagai kalangan, termasuk dari partai politik (Parpol). “Toh nanti akan bermuara ke MPR putusannya. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya,” imbuhnya.

Menurutnya, amandemen UUD 1945 membutuhkan kesepakatan Parpol. “Kalau MPR mengubah UUD, harus kesepakatan partai. Kalau partai enggak sepakat kan susah,” tegasnya.

Sementara itu, Zulkifli mengaku menyimak langsung orasi ilmiah Megawati, khususnya terkait GBHN. “Betapa pentingnya negara ini akan perlunya haluan negara. Perlunya konsep Indonesia 25 tahun, 50 tahun, 100 tahun mendatang,” kata Zulkifli.

Dia mengungkapkan, proses amandemen kini terhenti di MPR. Sebab, partai-partai belum mencapai kesepakatan. “Enggak mudah. Dulu ada amandemen kan karena momentum,” ungkapnya.

Zulkifli menyatakan, seluruh fraksi di DPR dan kelompok DPD sebenarnya menyetujui haluan negara. “Cuma tindak lanjut, isinya seperti apa, ini yang mandeg (buntu). Dengan dukungan Mbak Mega yang konsisten tadi, kita akan coba lagi gugah kawan-kawan dari fraksi dalam rapat,” tegasnya. (Red)


Photo Credit : Megawati jelaskan bahwa Indonesia perlu menentukan arah politik pemerintahan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). | Reuters/Andika Wahyu

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Menggapai Indonesia Emas dan Falsafah Kepemimpinan Nasional Dalam Perspektif Keindonesiaan
Waktu Baca 9 Menit
Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit
Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT
Waktu Baca 4 Menit

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Membangun Fondasi AI dari Lapisan Paling Krusial: Pendekatan Panduit untuk Infrastruktur Masa Depan

Waktu Baca 3 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?