Presentasi Delapan Pelajar Indonesia Di 20 Tahun Beasiswa StuNed

"Suasana ceria, penuh inspirasi dan sarat pengetahuan baru serta pesan positif sangat mewarnai StuNed Day tahun ini. Suatu sajian ilmiah yang segar ,‘menghibur’ sekaligus menginspirasi. Begitulah terobosan cerdas serta brilliant dari para StuNed awardees,"

Presentasi Delapan Pelajar Indonesia Di 20 Tahun Beasiswa StuNed

Telegraf,  Jakarta – Dalam memperingati 20 tahun beasiswa StuNed delapan mahasiswa dari Indoneaia  sajikan lapak ilmiah, yaitu presentasi risetnya melalui  ilmu yang didapat selama mengikuti  beasiswa StuNed.

Perayaan yang di gelar di Aula Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), di Den Haag, Belanda, dengan tema “20 Years of StuNed”  Sabtu (02/03) lalu, berbeda  dengan biasanya karena momok mendengarkan  sebuah presentasi karya ilmiah adalah membosankan kali ini tidak.
Suasana ceria, penuh inspirasi dan sarat pengetahuan baru serta pesan positif sangat mewarnai StuNed Day tahun ini. Suatu sajian ilmiah yang segar, menghibur’ sekaligus menginspirasi. Begitulah terobosan cerdas serta brilliant dari para StuNed awardees,” ungkap Direktur Nuffic Neso Indonesia Peter Van Tuijl dalam presbrilia yang di terima redaksti telegraf.co.id Rabu (6/3).
Peter menjelaskan hanya bermodalkan selembar karton, kedelapan topik ilmiah tersebut diramu dan disajikan dengan ciamik, lugas, bernas, namun casual dan fun sehingga mudah untuk diserap oleh semua peserta yang berasal dari berbagai bidang ilmu.
Lanjut Peter Fomat paparan yang disajikan mirip acara speed dating ini mampu menstimulasi peserta untuk berlomba mengajukan pertanyaan sehingga kadang pada saat bel dibunyikan pertanda perpindahan peserta ke pemapar selanjutnya, para pemapar masih sibuk melayani pertanyaan yang bertubi-tubi.
Peter menambahkan delapan paper ilmiah dari delapan penelitian berbeda para StuNed awardees itu, meyakinkan kita untuk tidak lagi melihat ilmu pengetahuan dengan sekat – sekat ego sektoral, melainkan dengan positive attitude yaitu keterbukaan dan kesadaran bahwa tidak ada ilmu yang berdiri sendiri; bahwa ilmu hanya akan dapat terimplementasi untuk memberikan dampak positif jika dipadukan, dan diharmonisasikan dengan ilmu lainnya.
Muhammad Ulil Ahsan, salah seorang penerima beasiswa StuNed yang juga sedang menyelesaikan studinya di Wagenigen Univesity and Research mengatakan bahwa kadang bukan kemampuan akademik yang menjadi masalah bagi para peneliti dan pelajar Indonesia, namun kurangnya keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil, dan berbagi tentang pemikiran akademis dan ide-ide inovatifnya. Studi di Belanda justru memberikan ruang terbuka bagi para pelajar untuk membuka ‘lapak’nya dimanapun mereka berada. (Red)


Photo Credit : Presentasi Delapan Pelajar Indonesia Di 20 Tahun Beasiswa StuNed/ Telegraf


Share



Komentar Anda