Pilpres 2019 Sulit Untuk Mewujudkan Poros Islam

Pilpres 2019 Sulit Untuk Mewujudkan Poros Islam

"Sebagai sebuah upaya untuk membentuk kekuatan politik menghadapi pilpres isu poros Islam selalu muncul. Namun, hal tersebut tidak pernah terwujud,"

Pilpres 2019 Sulit Untuk Mewujudkan Poros Islam


Telegraf, Jakarta – Wacana untuk membentuk poros baru dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 di luar poros yang sudah ada, diharapkan bisa untuk memberikan alternatif calon presiden cadangan untuk dapat bersaing melawan pasangan Joko Widodo dan pasangan Prabowo Subianto jika mereka resmi maju kembali sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang.

Wacana memunculkan capres cadangan juga diharapkan timbul dari koalisi parpol Islam. Sudah ada keinginan dari banyak kalangan kepada partai-partai Islam agar membentuk poros baru untuk dapat mengusung capres sendiri. Walau dirasakan tidak mudah terwujud, bahkan beberapa nama pun sudah dimunculkan untuk tampil sebagai capres poros ini seperti Gatot Nurmantyo, Tuan Guru Zainul Majdi, Anies Baswedan, sampai Mahfud MD.

Partai Bulan Bintang (PBB) menilai jika peluang untuk munculnya poros islam di pemilihan presiden 2019 nanti akan sulit untuk terwujud. Hal tersebut dikarenakan masih besarnya ego di antara partai Islam yang masih sangat tinggi.

Dincontohkan pada Pemilu 2014, semua kekuatan politik Islam selain PKB bergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) dengan mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun KMP justru kalah dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) memang menang tipis.

“Sebagai sebuah upaya untuk membentuk kekuatan politik menghadapi pilpres isu poros Islam selalu muncul. Namun, hal tersebut tidak pernah terwujud,” kata Sukmo Harsono, Ketua Bidang Pemanang Pemilu PBB di Jakarta, Sabtu (10/03/18).

“Artinya jika benar ada yang namanya poros Islam dan PBB, PKS, PAN, PPP, PKB benar-benar bisa bersatu, saya sangat yakin poros ini akan menang satu putaran, tetapi mewujudkan poros Islam ini bagai menegakkan benang basah,” ungkapnya.

Menurut Harsono, partai-partai Islam ini akan akan sulit menentukan siapa capres dan cawapresnya. Ukuran menjadi capres dan cawapres, kata dia masih merujuk pada jumlah kursi yang diperoleh partai, bukan kesepakatan untuk mencari calon yang tangguh atau cari calon mumpuni yang bisa menghadapi tantangan jaman.

“Jadi, ukuranya adalah kursinya lebih banyak. Persoalan klasik inilah akhirnya tidak terbentuk dan pilih berakhir ke sharing jabatan, yang pada ujungnya poros Islam bagaikan menegakan benang basah,” jelasnya.

Padahal, kata Sukmo, jika partai-partai Islam bersatu, maka peluang untuk menang sangat besar. Karena itu, dia berharap elitee partai Islam harus percaya diri.

“Elite partai partai Islam harus percaya diri bahwa mereka punya opportunity menang maka lebih baik bersatu dan jangan pecah rebutan jabatan capres dan cawapres-nya,” pungkasnya. (Red)


Photo Credit : Peluang untuk munculnya poros islam di pemilihan presiden 2019 dipredikasi akan sulit untuk terwujud, dikarenakan besarnya ego di antara partai Islam yang tinggi. | Antara

KBI Telegraf

close