Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Pengamat: Penugasan Dodi, Siasat Golkar Langgengkan Kekuasaan Keluarga Gubernur Sumsel
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Politika

Pengamat: Penugasan Dodi, Siasat Golkar Langgengkan Kekuasaan Keluarga Gubernur Sumsel

Telegrafi Kamis, 2 November 2017 | 05:31 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf, Jakarta – Ketua Harian DPP Partai Golkar yang juga bakal calon gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Halid mengatakan partainya resmi mengusung Dodi Reza Alex sebagai calon gubernur Sumatera Selatan di Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan. Dalam keterangannya, Halid memastikan Dodi dipilih setelah melakukan berbagai pertimbangan termasuk membaca hasil survei dari tiga lembaga. “Ini bukan soal anak-bapak apalagi dinasti,” ujarnya.

Nurdin Halid saat mengumumkan nama Dodi Reza di Palembang, Selasa 31 Oktober 2017 menyampaikan pertimbangan partainya menugaskan putera kandung gubernur itu adalah untuk melanjutkan keberhasilan Alex Noerdin, ayahnya Dodi. Pertimbangan lainnya adalah warga Muba tidak berkeberaatan bupatinya mencalonkan diri menjadi gubernur.

Menanggapi pernyataan Ketua Harian Golkar tersebut, aktivis Forum Pemerhati Pilkada, Agusta Surya Buana mengatakan istilah penugasan partai yang mengemuka dalam proses pengeluaran rekomendasi pengusungan calon itu adalah siasat politis Golkar untuk membangun kesan bahwa Dodi tidak berambisi. Mereka menyusun skenario bahwa Golkar seolah mendapat banyak masukan dari bawah, rakyat mau keberhasilan Alex dilanjutkan oleh puteranya dan warga Kabupaten Musi Banyuasin tidak berkeberatan bupatinya yang baru seumur jagung maju jadi pilgub.

“Golkar memang jagonya kalau menyusun alasan politik. Tapi pola itu mudah dibaca. Justru dengan menyanggah bahwa pengusungan anak gubernur itu tidak ada kaitan dengan dinasti, mereka malah menunjukan ketakutan dengan isu itu,” demikian ujarnya saat dihubungi wartawan media ini di Palembang, Rabu (1/11/2017).

Agusta menegaskan istilah penugasan yang digunakan Golkar hanyalah kamuflase untuk menutupi kemungkinan munculnya kesan bahwa majunya Dodi adalah untuk kepentingan melanjutkan kekuasaan dinasti Alex Noerdin. Bahkan dibuat seolah ayah dan anak ini tidak bisa menolak perintah partai. “Padahal sebenarnya biasa saja anak mencalonkan diri setelah ayahnya habis masa jabatan. Secara legal formal dimungkinkan dan tidak masalah. Mungkin secara etis akan ada yang mempersoalkan tetapi sepanjang semua dilakukan secara fair, maksudnya nanti saat proses pilkadanya tidak curang, ya jalan saja,” ungkapnya.

Agusta menekankan pentingnya pengawasan oleh semua pihak. Ini karena dengan majunya anak gubernur akan ada potensi pelanggaran pilkada terutama terkait dengan penggunaan dana pemerintah dan pelanggaran aparat sipil negara dan penyelenggara negara karena ikut serta jadi tim pemenangan baik atas keinginan sendiri atau atas perintah langsung maupun tidak langsung dari gubernur. Saat yang sama juga patut diawasi kemungkinan penyalahgunaan kewenangan dan dana di Kabupaten Muba karena calon yang diusung adalah Bupati di sana. “Isu yang akan muncul adalah soal penggunaan dana APBD dan keterlibatan ASN,” pungkasnya.

Sementara itu pengamat politik dari Lembaga Kajian Pemilu dan Demokrasi, Eko Hariyadi menilai penugasan Dodi Reza Alex untuk ikut pilgub adalah dalam rangka meneruskan jabatan ayahnya. Itu jelas tak bisa dibantah berbau politik dinasti. “Di semua daerah di seluruh Indonesia akan sama, jika ada anak mencalonkan diri dalam pilkada saat mana ayahnya masih menjabat sebagai kepala daerah, pasti akan muncul isu politik dinasti. Mau dibungkus dengan gaya apapun, akan mati gaya. Isu politik dinasti tidak bisa dilawan,” tuturnya saat ditemui media ini di sebuah acara diskusi di Palembang Selasa malam, (31/10/2017).

Eko menjelaskan bahwa politik dinasti jelas akan menyumbat kran rekruitmen kepemimpinan dan mematikan pengkaderan yang sistematis. Politik dinasti juga akan memunculkan oligarki politik yabg ujungnya akan membawa kepada rezim koruptif. “Banyak sekali contohnya di negara kita, jadi memang seharusnya aturan yang lama diterapkan, anak dilarang maju di daerah dimana ayahnya adalah petahana. Itu untuk pencegahan korupsi juga,” tutupnya. (Ilm)

Photo Credit : Ist. Photo


Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Komdigi dan DPR RI Tekan Laju Judi Online Melalui Literasi Digital
Waktu Baca 2 Menit
Menggapai Indonesia Emas dan Falsafah Kepemimpinan Nasional Dalam Perspektif Keindonesiaan
Waktu Baca 9 Menit
Megawati Institute: Tuntutan Buruh 2026 Bukan Aspirasi Tapi Kebutuhan Mendesak
Waktu Baca 4 Menit
Regenerasi Petani, Penghasil Gula Dunia dan Swa Sembada Pangan di Negeri Sendiri
Waktu Baca 9 Menit
Sinergi Teknologi dan Masyarakat Jadi Kunci Pertahanan Semesta di Era Digital
Waktu Baca 2 Menit

Komnas Disabilitas Serukan Semua Pihak Dukung Event Special Olympics di NTT

Waktu Baca 4 Menit

Dampak Konflik Timur Tengah: Harga Minyak Dunia Naik, Beban Subsidi BBM Indonesia Kian Berat

Waktu Baca 3 Menit

Strategi Digital Marketing 2026: KOL, Media, SEO & GEO untuk Dominasi Google dan AI Search

Waktu Baca 6 Menit

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Kronologi, Peran Taksi, dan Celah Sistem yang Dipertanyakan

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Politika

Sosiolog UGM: Partai Politik Hanya Menambah Barisan Oligarki Korup

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Ultah Megawati Dari ‘My Way’ Merawat Pertiwi dan Berkumpulnya Trah Soekarno

Waktu Baca 4 Menit
Photo Credit: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu
Politika

Rayakan Ulang Tahun Megawati ke 79, PDIP Ajak Rawat Bumi Pertiwi

Waktu Baca 3 Menit
Politika

Puan Apresiasi Penghargaan Pekerja Migran Indonesia Dari Korsel

Waktu Baca 5 Menit
Politika

Agusrin Najamudin Mantan Gubernur Bengkulu DPO, Karena Kotak Pandora. Benarkah?

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Prabowo Disebut Sudah Kantongi Info Terkait Illegal Logging

Waktu Baca 4 Menit
Politika

Sekjen Muhammadiyah Minta Hindari Konflik Internal dan Korupsi

Waktu Baca 2 Menit
Politika

Ketua PKB Merasa Sedih dan Prihatin Pada Nasib Ketua PBNU

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?