Muhaimin Iskandar Calonkan Diri Sebagai Wapres Jokowi

Muhaimin Iskandar Calonkan Diri Sebagai Wapres Jokowi

"Ini hasil survei ketika saya belum melakukan sosialisasi. Sekarang, elektabilitas saya sudah lebih tinggi lagi,"

Muhaimin Iskandar Calonkan Diri Sebagai Wapres Jokowi


Telegraf, Jakarta – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa dengan panggilan Cak Imin, menyatakan dirinya siap menjadi wakil presiden mendampingi petahana Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres mendatang. Dengan modal pemilih PKB 11 juta suara, dia yakin, pasangan Jokowi-Muhaimin akan dapat memenangkan Pilpres 2019 nanti.

“Pak Jokowi perlu ekstra hati-hati memilih wakil. Jika salah pilih wakil, ia akan kalah,” kata Cak Imin dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Rabu (14/03/18).

Ia yakin, dirinya layak dipertimbangkan menjadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang diumumkan akhir Januari 2018 menunjukkan, dari lima tokoh partai yang memiliki kekuatan di basis Islam, Muhaimin menempati posisi teratas dengan elektabilitas 14,9% sebagai calon wapres untuk mendampingi capres nasionalis, Jokowi atau Prabowo Subianto.

Peringkat selanjutnya, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan 3,8%, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi 2,2%, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman 1,9%, dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy 1,1%.

Sedang survei Poltracking yang diumumkan pertengahan Februari 2018 menunjukkan, elektabilitas Cak Imin sebagai cawapres sebesar 5,2%, di bawah Muhammad Jusuf Kalla (15,9%), Gatot Nurmantyo (7,9%), dan Ridwan Kamil (8,1%).

“Ini hasil survei ketika saya belum melakukan sosialisasi. Sekarang, elektabilitas saya sudah lebih tinggi lagi,” ungkapnya.

Hasil survei yang sudah diadakan, kata Muhaimin, juga menunjukkan bahwa dirinya menempati peringkat teratas sebagai cawapres dari kalangan pemimpin yang memiliki basis pemilih Islam.

“Pak Jusuf Kalla kan tidak bisa dicalonkan lagi sebagai cawapres karena UU tidak memungkinkan,” terang Cak Imin.

Menurut Muhaimin, basis massanya sangat jelas, yakni pemilih PKB yang mayoritas adalah warga Nahdlatul Ulama (NU).

Pada pemilu legislatif 2014, PKB meraih 11 juta suara dan mendudukkan 47 orang di kursi DPR RI. Dengan pendekatan yang baik, ia yakin para kiai sepuh NU yang pada pilpres 2014 memilih Prabowo akan beralih mendukung pasangan yang memilih dirinya sebagai cawapres.

Sosok Jokowi dan Prabowo sama-sama nasionalis. Keduanya didukung pemilih nasionalis. Oleh karena itu, demikian Cak Imin, baik Jokowi maupun Prabowo membutuhkan cawapres dari pemimpin berbasis Islam yang kuat agar ada penambahan jumlah pemilih. Cawapres dari kalangan nasionalis tidak menambah suara untuk Jokowi maupun Prabowo.

“Saat ini, pilihan utama saya adalah menjadi cawapres Jokowi karena baru Jokowi yang sudah jelas capres. Selanjutnya, tergantung dinamika politik,” tukasnya.

Soal dukungan dari parpol lainnya, Cak Imin mengatakan, dirinya akan bertemu para pemimpin partai.

Ia mengaku tidak ada kesulitan untuk berkomunikasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk mendapatkan dukungan. Walau ada pasang-surut, tetapi hubungannya dengan Megawati saat ini cukup baik.

Pekan lalu, kata Muhaimin, ia mengunjungi kubur Marhaen di Bandung sebagai ungkapan bahwa PKB memberikan perhatian besar terhadap para petani, kaum buruh, dan pekerja mandiri. Pihaknya selama ini memperkenalkan “Sudurisme” kepada para kader PDIP. Sudurisme adalah gabungan ajaran Soekarnoisme dan Gusdurisme. Keduanya sama-sama memperhatikan orang kecil, rakyat yang tertinggal.

Saat ditanya soal kelemahannya sebagai cawapres, Muhaimin mengatakan, selama ini dirinya terlalu low profile. Padahal, dari sisi kemampuan, ia memiliki kualitas untuk posisi capres.

“Saya terlalu low profile. Saya bahkan membiarkan begitu saja diri saya di-bully di medsos, tidak melakukan counter,” ungkap Cak Imin.

Hingga saat ini, Muhaimin melihat baru satu capres yang sudah diusung oleh sejumlah partai, yakni Jokowi. Sedang Prabowo belum menyatakan niat dan belum pula diusung oleh satu parpol, termasuk Gerindra.

Namun, ia memperkirakan, Prabowo kemungkinan akan maju sebagai capres. Sedang poros ketiga sama sekali belum terlihat.

“Poros baru kemungkinan terjadi kalau Demokrat dan PAN bersatu mengusung satu pasangan calon. Jika dua partai ini tidak membentuk poros baru, pilpres 2019 hanya diikuti dua paslon,” ungkapnya. (Red)


Photo Credit : Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyatakan dirinya siap menjadi wakil presiden Jokowi pada Pilpres 2019. | File/Dok/Ist. Photo

KBI Telegraf

close