Kolaborasi Tembang Kenangan Suguhkan Nuansa Tersendiri di Java Jazz Festival 2017

"Yang muncul di pikiran saya pertama kali adalah, bagaimana membuat musik yang bisa dinikmati oleh mereka yang fanatik jazz, tapi juga masuk ke penikmat genre lain,"

Kolaborasi Tembang Kenangan Suguhkan Nuansa Tersendiri di Java Jazz Festival 2017

Telegraf, Jakarta РGelaran MLD Jazz Project season 2, menjadi salah satu penampilan yang berbeda di ajang Jakarta International Java Jazz Festival 2017, yang telah berlangsung di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (4/3/2017).

Tampil di hari kedua, proyek musik ini mengusung konsep Indonesian Legendary Songs and Musicians. Hebatnya, musisi yang tampil berhasil menghadirkan aksi menarik yang sayang dilewatkan. Ada dangdut, pop, rock, blues, tapi dalam balutan warna jazz.

Music Director MLD Jazz Project, Ronald Steven Sutikno, mengatakan, sinergi musisi baru dengan nama-nama besar yang sudah malang melintang di ranah musik jaz, menjadi tantangan tersendiri.

“Betul, mengumpulkan banyak musisi yang punya kesibukan padat, sudah jadi tantangan sendiri. Tapi menjadi menarik, ketika semuanya berkomitmen untuk memberikan yang terbaik,” jelas Ronald, dalam siaran pers, Minggu (5/3/2017).

Menghadirkan kembali lagu-lagu lawas dengan dikolaborasikan dengan musisi-musisi muda dengan kombinasi jazz.

“Yang muncul di pikiran saya pertama kali adalah, bagaimana membuat musik yang bisa dinikmati oleh mereka yang fanatik jazz, tapi juga masuk ke penikmat genre lain,” ungkap Ronald.

Bagi Ronald, musik harus bisa dinikmati oleh semua kalangan. “Makanya ketika disodori beberapa lagu untuk song list, saya harus memilih lagu-lagu lama, tapi yang mudah dikenali oleh siapapun,” imbuhnya.

Komposisi lagunya, menurut Ronald, memang tetap musik jazz. “Pilihan kepada Ipang Lazuardi, Ariyo Wahab, Andy /rif, dan Wizzy, karena kita ingin ada crossover dari musisi yang bukan dari genre jazz. Dan ini menarik,” ungkapnya.

Keseruan proyek ini juga dirasakan Wizzy, penyanyi cewek yang menyanyikan lagu Rhoma Irama. Kuat dengan imej dangdut, Wizzy ditantang untuk keluar dari pakem dangdutnya.

“Seru banget, karena ketika mendapat aransemennya, aku harus mikir ngebawainnya seperti apa. Karena lagu yang aku bawain itu sudah kuat banget,” kata Wizzy

Salah satu penyanyi yang tampil, Ariyo Wahab, justru merasakan tantangan terbesar adalah menemukan sinergi penyanyi, musisi pengiring dan karakter lagu yang dibawakan.

“Buatku nyaman dengan semua lagu dan musisi lain, justru jadi perjuangan tersendiri.” Kata Ariyo

Ariyo lebih memilih mengeluarkan ekspresi lagu, karena menurutnya setiap nada yang keluar itu butuh ekspresi yang kuat. “Aku kebagian lagunya Koes Plus, Benyamin Sueb dan Utha Likumahuwa. Dari situ saja sudah kebayang, ekspresi lagu yang berbeda-beda genre dan itu seru banget,” tandasnya.

Ronald, Wizzy, Ariyo Wahab dan Ipang sepakat, ajang yang menampilkan kerjasama musisi baru dan senior tersebut  menjadi penting, untuk menjembatani mereka sebagai penerus di jagat musik Indonesia.

“Musisi yang baik itu seharusnya tahu sejarah lagu dan musisi-musisi pendahulunya. Dari mereka, kita bisa paham dan mengerti, bermusik itu butuh keseriusan, bukan sekadar coba-coba. Musisi zaman dulu sudah membuktikannya,” tegas Ronald. (Red)

Photo credit : Telegraf/Doni Julio Alberto


Tanggapi Artikel