Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Kepri Rencanakan Industrialiasi Sektor Perikanan
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Kepri Rencanakan Industrialiasi Sektor Perikanan

Yuan Adriles Jumat, 26 November 2021 | 11:30 WIB Waktu Baca 6 Menit
Bagikan
Bagikan

Telegraf – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera membangun industry perikanan terpadu dengan berbagai konsep termasuk marine city di kab. Natuna. Selain, pulau Galang di wilayah kota Batam seluas 1500 hektar diproyeksikan untuk pengembangan industry perikanan budidaya. “Ada MoU (memorandum of understanding) antara Pemprov dengan BP (Badan Pengusahaan) Batam untuk realisasinya. Sehingga dari keseluruhan perencanaan, kami bisa memanfaatkan potensi lestari ikan Kepri, (yakni) 1,1 juta ton. Tapi yang baru dimanfaatkan sekitar 33 persen setara dengan 350 ribu ton. kami kebut untuk pencapaian target 1,1 juta ton ikan,” Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan kepada Redaksi melalui sambungan telepon.

Sektor perikanan tangkap tentunya harus dibarengi dengan usaha perikanan budidaya. Terutama pulau Galang berangkai dengan pulau lain yang jumlahnya sekitar seribu, sangat potensial untuk pengembangan perikanan budidaya. Pulau Galang juga rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang. Dulunya, sebagai pengungsian Galang dan sekarang menjadi objek wisata dan sejarah kota Batam. Jaraknya relatif dekat dengan pulau Batam (sekitar 7 km) dan connectivity efektif dengan jembatan Barelang. “Rencana pengembangan budidaya menyasar semua Kawasan pulau dengan tetap menjaga prinsip keseimbangan ekologi,” kata mantan Bupati Bintan (2005–2010 dan 2010–2015).

Kegiatan industry perusahaan pengolahan ikan di Kepri juga belum ada. Industrialisasi masih sebatas kegiatan nelayan-nelayan tangkap dengan armada perikanan skala kecil, yakni di bawah 10 GT. Sementara ikan melimpah tidak dibarengi dengan operasi sampai fishing ground yang lebih jauh, yakni Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). “(Armada) yang bisa menangkap ikan di ZEE di Natuna, Anambas hanya kapal berbobot 50 GT ke atas. Sehingga kami sedang desain bersama KKP, memproyeksikan Kepri bisa menjadi lumbung ikan wilayah barat Indonesia. Kalau wilayah timur kan sudah existing.

Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari 2.408 pulau dengan 96 persen luas wilayahnya berupa laut menjadi satu tantangan. Kegiatan usaha perikanan budidaya di Kepri menghasilkan berbagai komoditas ekspor unggulan, seperti lobster, kepiting, ikan kerapu, ikan betutu, udang belalang, gonggong, kerang, rumput laut, udang vaname, dan ikan tenggiri.  Pasokan ikan dari Kepri hanya 20 persen dari keseluruhan pasokan ikan Indonesia. Tapi secara geografis, Kepri punya kelebihan. Lokasi strategis dekat dengan pasar-pasar internasional terutama Singapura, Hongkong, Malaysia. “Selama ini ikan dari daerah lain termasuk Aceh, Sumatera Barat juga bisa didaratkan di Batam. Berbagai jenis ikan, bahkan komoditas rumput laut potensial untuk dikembangkan. Kondisi sekarang, ikan kerapu juga sedang mahal, sampai Rp 1-2 juta per kilo. Dalam waktu dekat, kami fokus pada pusat pengembangan ikan kakap putih, karena (proses budidaya) jauh lebih mudah dibanding ikan jenis lain,” kata Ansar Ahmad.

Tidak menyia-nyiakan potensi kelautan dan perikanan di tengah bentang ribuan pulau, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera membangun industry perikanan terpadu dengan berbagai konsep termasuk marine city di kab. Natuna. Selain, pulau Galang di wilayah kota Batam seluas 1500 hektar diproyeksikan untuk pengembangan industry perikanan budidaya. “Ada MoU (memorandum of understanding) antara Pemprov dengan BP (Badan Pengusahaan) Batam untuk realisasinya. Sehingga dari keseluruhan perencanaan, kami bisa memanfaatkan potensi lestari ikan Kepri, (yakni) 1,1 juta ton. Tapi yang baru dimanfaatkan sekitar 33 persen setara dengan 350 ribu ton. kami kebut untuk pencapaian target 1,1 juta ton ikan,” Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan kepada Redaksi melalui sambungan telepon (25/11).

Baca Juga :  BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia

Sektor perikanan tangkap tentunya harus dibarengi dengan usaha perikanan budidaya. Terutama pulau Galang berangkai dengan pulau lain yang jumlahnya sekitar seribu, sangat potensial untuk pengembangan perikanan budidaya. Pulau Galang juga rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang. Dulunya, sebagai pengungsian Galang dan sekarang menjadi objek wisata dan sejarah kota Batam. Jaraknya relatif dekat dengan pulau Batam (sekitar 7 km) dan connectivity efektif dengan jembatan Barelang. “Rencana pengembangan budidaya menyasar semua Kawasan pulau dengan tetap menjaga prinsip keseimbangan ekologi,” kata mantan Bupati Bintan (2005–2010 dan 2010–2015).

Kegiatan industry perusahaan pengolahan ikan di Kepri juga belum ada. Industrialisasi masih sebatas kegiatan nelayan-nelayan tangkap dengan armada perikanan skala kecil, yakni di bawah 10 GT. Sementara ikan melimpah tidak dibarengi dengan operasi sampai fishing ground yang lebih jauh, yakni Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). “(Armada) yang bisa menangkap ikan di ZEE di Natuna, Anambas hanya kapal berbobot 50 GT ke atas. Sehingga kami sedang desain bersama KKP, memproyeksikan Kepri bisa menjadi lumbung ikan wilayah barat Indonesia. Kalau wilayah timur kan sudah existing.

Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari 2.408 pulau dengan 96 persen luas wilayahnya berupa laut menjadi satu tantangan. Kegiatan usaha perikanan budidaya di Kepri menghasilkan berbagai komoditas ekspor unggulan, seperti lobster, kepiting, ikan kerapu, ikan betutu, udang belalang, gonggong, kerang, rumput laut, udang vaname, dan ikan tenggiri.  Pasokan ikan dari Kepri hanya 20 persen dari keseluruhan pasokan ikan Indonesia. Tapi secara geografis, Kepri punya kelebihan. Lokasi strategis dekat dengan pasar-pasar internasional terutama Singapura, Hongkong, Malaysia. “Selama ini ikan dari daerah lain termasuk Aceh, Sumatera Barat juga bisa didaratkan di Batam. Berbagai jenis ikan, bahkan komoditas rumput laut potensial untuk dikembangkan. Kondisi sekarang, ikan kerapu juga sedang mahal, sampai Rp 1-2 juta per kilo. Dalam waktu dekat, kami fokus pada pusat pengembangan ikan kakap putih, karena (proses budidaya) jauh lebih mudah dibandin ikan jenis lain jelas Ahmad.

Photo: Krakasmedia
Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Magang Nasional
Magang Nasional Batch I Segera Berakhir, Tahap Akhir Tentukan Sertifikat dan Uang Saku Peserta
Waktu Baca 3 Menit
vivo Y31d Pro
vivo Y31d Pro Resmi Masuk Indonesia, Andalkan Baterai 7000mAh dan Fast Charging 90W
Waktu Baca 2 Menit
Gindaco - Promo Hari Kartini
Rayakan Semangat Kartini, F&B ID Hadirkan Promo Spesial untuk Perempuan di Seluruh Indonesia
Waktu Baca 6 Menit
BTN Gandeng INKOPPAS Garap Digitalisasi Pasar, Perluas Akses KUR Pedagang
Waktu Baca 2 Menit
OJK Dorong Integrasi Literasi Keuangan di Sekolah untuk Perkuat Ketahanan Finansial Generasi Muda
Waktu Baca 2 Menit

HPE Tembaga Turun 4,97% Paruh Kedua April 2026, Harga Emas Ikut Melemah

Waktu Baca 2 Menit

BTN gandeng Indosat Jajaki Integrasi Layanan

Waktu Baca 2 Menit

Airlangga: Hilirisasi Industri Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi di Tengah Risiko Global

Waktu Baca 3 Menit

DPR RI dan Komdigi Tekankan Pentingnya Preventif Kesehatan Nasional

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

BTN Salurkan 6 Juta KPR, Perkuat Akses Hunian bagi 24 Juta Masyarakat Indonesia

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

PGN Perkuat Ekosistem BBG, Dorong Penggunaan Gas untuk Kendaraan Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

BTN Genjot Penyaluran Kredit, Tembus Rp400,63 Triliun di Kuartal I/2026

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

BTN Jakarta International Marathon 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi di Atas Rp200 Miliar

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

BTN Bangun Loan Factory, Dorong Efisiensi dan Kendali Risiko Kredit

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DSLNG Bidik Produksi Hingga 2,105 Juta Ton, Alokasi Kargo Tunggu Arah Pemerintah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

DSLNG Raih PROPER Hijau 2026, Dorong Efisiensi dan Nilai Ekonomi Berkelanjutan

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Investor Kripto Capai 20 Juta, OJK Perkuat Edukasi di Tengah Ketidakpastian Global

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?